1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikIsrael

F35 AS untuk Arab Saudi, Tebar Keresahan di Timur Tengah

24 Desember 2025

Arab Saudi berada di ambang penerimaan jet tempur F-35 dari Amerika Serikat. Walau waktu kedatangan dan wujud akhir kesepakatan masih diselimuti ketidakpastian, wacana ini telah menebar rasa ketar-ketir di Timur Tengah.

F-35
Pabrikan Lockheed Martin mempresentasikan jet tempur seri F-35 di sebuah pameran di Texas, Desember 2025.Foto: Jeremy Lock/REUTERS

Sekitar sebulan lalu, Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani perjanjian pertahanan strategis. Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Washington berencana memasok pesawat tempur F-35 kepada Riyadh, sebagaimana disampaikan Presiden AS Donald Trump saat bertemu Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MbS) di Gedung Putih.

Namun, hingga kini sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab, termasuk kapan pesawat tersebut akan dikirim dan varian F-35 apa yang akan diberikan.

Kantor berita Reuters telah berspekulasi sejak November bahwa Amerika Serikatkemungkinan besar akan menawarkan versi F-35 yang telah dikurangi kemampuan teknologinya—semacam varian "ringan”. Kesepakatan ini juga masih bergantung pada persetujuan Kongres AS. Jadi, keputusan final masih akan memakan waktu yang belum dapat ditentukan.

Di sisi lain, Amerika Serikat secara hukum berkewajiban menjaga keunggulan militer Israel di kawasan demi alasan keamanan. Para pengkritik di Israel maupun di AS khawatir bahwa kesepakatan tersebut dapat memperkecil keunggulan tersebut, meskipun mungkin tidak sepenuhnya menghilangkannya.

Meski belum terealisasi, perjanjian ini sudah menunjukkan dampak simbolis yang kuat, termasuk di kawasan Teluk sendiri. Menurut laporan media, Qatar juga menyatakan ketertarikannya pada jet tempur F-35. Seperti Arab Saudi, Qatar hingga kini belum memiliki hubungan diplomatik resmi denganIsrael.

F-35 dikenal sebagai jet tempur siluman multiguna generasi kelima yang paling modern. Keunggulannya terletak pada kombinasi teknologi siluman, sensor canggih, dan sistem jaringan digital. Pesawat ini mampu memproses data dalam jumlah besar secara real-time, mendeteksi ancaman sejak dini, serta beroperasi di wilayah udara yang dijaga ketat. Menurut analisis Hudson Institute di Washington, F-35 termasuk sedikit sistem persenjataan yang, berkat keunggulan informasinya, dapat memengaruhi hasil sebuah konflik.

US-Präsident Trump mit dem saudischen Kronprinzen Mohammed bin Salman in Washington, November 2025Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance

Dua mitra, beragam kepentingan

Bagi Washington, kesepakatan ini bukan semata soal ekspor senjata. Selain kepentingan ekonomi, pemerintah AS mengejar sejumlah tujuan strategis: Mempertahankan pengaruh di kawasan yang secara geopolitik sangat penting, menahan meningkatnya peran Cina, serta memperkuat kemampuan militer negara-negara Teluk yang menjadi sekutu dalam menghadapi Iran.

Selain itu, Trump diketahui ingin mendorong Arab Saudi menuju normalisasi hubungan dengan Israel—dan kesepakatan ini bisa menjadi insentif bagi Riyadh. Meski demikian, para pejabat AS menegaskan bahwa keunggulan militer kualitatif Israel di kawasan tetap akan dijaga. Di sisi lain, Arab Saudimerasa dikepung oleh berbagai krisis regional dan mencari pencegah yang dapat diandalkan.

Amerika Serikat telah menjadi mitra keamanan terpenting bagi Riyadh selama beberapa dekade, ujar pakar Timur Tengah Sebastian Sons dari lembaga pemikir CARPO di Bonn dalam wawancara dengan DW. Namun, menurutnya, hubungan ini kini mengalami pergeseran di bawah Trump: Minyak tidak lagi menjadi faktor utama, melainkan teknologi militer, investasi, dan pengembangan industri baru. Kerajaan Saudi tetap sangat bergantung pada persenjataan AS dan menginginkan jaminan keamanan yang nyata.

Dengan penetapan Arab Saudi baru-baru ini sebagai "sekutu utama non-NATO," Washington secara bersamaan memberikan akses kepada kerajaan tersebut terhadap teknologi militer yang lebih sensitif. Kepemimpinan kerajaan melihat ini sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. "Arab Saudi dikelilingi oleh konflik dan membutuhkan pencegahan serta mitra yang dapat diandalkan," ujar Sons. Tujuannya adalah untuk memperkuat keamanannya sendiri sekaligus memajukan transformasi ekonomi. Namun, dalam melakukan hal tersebut, negara ini semakin melihat dirinya sebagai aktor independen—bukan lagi sekadar instrumen Amerika Serikat.

Tidak hanya diminati di Timur Tengah: jet tempur F-35 - berikut contoh dari Angkatan Udara Belgia.Foto: Xpi/Photo News/IMAGO

Kekhawatiran Israel

Israel memantau perkembangan ini dengan sangat cermat. Hingga saat ini, Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang mengoperasikan jet tempur F-35. Gagasan bahwa negara lain di kawasan dapat memperoleh teknologi serupa menimbulkan keresahan besar di kalangan pemerintah Israel, menurut majalah kebijakan luar negeri AS The National Interest.

Pemerintah Israel memang menegaskan bahwa keunggulan kualitatifnya tetap terjaga. Reuters mengutip juru bicara pemerintah Israel, Shosh Bedrosian, yang menyatakan bahwa AS dan Israel memiliki kesepakatan lama untuk menjamin keunggulan tersebut. Namun, para pejabat militer Israel memperingatkan potensi pergeseran keseimbangan kekuatan regional dalam jangka panjang.

Para analis politik juga menilai perjanjian ini berpotensi membawa dampak besar. Dalam publikasi daring Manara Magazine yang diterbitkan oleh Cambridge Middle East and North Africa Forum (MENAF), disebutkan bahwa secara strategis kesepakatan ini mendekatkan Arab Saudi pada kapabilitas yang selama ini hanya dimiliki Israel.

Washington dengan demikian memperkuat peran Saudi sebagai mitra keamanan utama. Bagi Israel, hal ini berarti bahwa status istimewanya dalam pengiriman senjata AS tidak lagi sepenuhnya terjamin.

Arab Saudi sendiri memandang keseimbangan kekuatan sebagai prasyarat stabilitas regional, tandas Sebastian Sons. "Riyadh tidak ingin mendorong transformasi ekonominya di tengah ketidakpastian yang terus-menerus.” Oleh karena itu, perjanjian ini juga dimaksudkan untuk memungkinkan Saudi bertindak dari posisi yang lebih kuat—baik terhadap Iranmaupun rival-rival regional lainnya.

Ketidakpastian yang memicu kegelisahan

Meskipun kesepakatan tersebut belum dilaksanakan, dampaknya sudah terasa hingga melampaui kawasan Teluk dan tidak hanya menyentuh kepentingan Israel. Iran, khususnya, kemungkinan akan menafsirkan perjanjian ini sebagai bagian dari strategi pembendungan dan dapat merespons dengan langkah balasan.

Konflik-konflik yang sedang berlangsung, seperti dengan kelompok Huthi di Yaman, juga berpotensi mengalami dinamika baru. Yang jelas, kesepakatan ini menyentuh keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah—meski sejauh mana dampaknya masih belum dapat dipastikan. Justru karena waktu, cakupan, dan kualitas teknologi dari kemungkinan pengiriman F-35 ke Arab Saudi masih belum jelas, kesepakatan ini terus menimbulkan kegelisahan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa  Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya