Mencari Jodoh Sesama Cindo: Tradisi Dibalut Trauma Sejarah
Felicia Salvina
17 Februari 2026
Kesamaan budaya kerap jadi alasan utama pernikahan satu etnis di kalangan Tionghoa-Indonesia atau Cindo. Pakar melihat preferensi ini tak lepas dari warisan kolonial, segregasi ruang, hingga warisan trauma kekerasan.
Kesamaan budaya jadi alasan pernikahan sesama etnis Tionghoa di Indonesia. Namun, hal itu juga dipengaruhi konteks sejarah.Foto: Maulana Rizki Djaffar/DW
Iklan
Setiap perayaan Imlek, selain meja makan yang dipenuhi hidangan khas tahun baru. Ada juga satu pertanyaan yang hampir selalu muncul bagi para lajang: "Kapan menikah?"
Bagi sebagian keluarga keturunan Tionghoa-Indonesia, yang kerap disebut "Cindo", pertanyaan itu kadang disertai harapan lain: kalau bisa, pasangannya sesama keturunan Tionghoa-Indonesia.
Preferensi berpasangan satu etnis memang umum. Data Long Form Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 89,3% penduduk Indonesia cenderung menikah dengan pasangan dari etnis yang sama.
Tak terkecuali bagi para keturuan Tionghoa di Indonesia. Saat ditanya alasannya, jawabannya relatif serupa: ingin membangun hubungan dengan latar budaya yang sejalan, tercermin dalam nilai dan kebiasaan hidup sehari-hari.
"Dari kecil orang tua sudah membentuk, dan akhirnya jadi preferensi personal," ujar Albert kepada DW Indonesia.
Walau ada juga yang tidak baku dalam mencari pasangan dengan sesama Cindo.
"Secara preferensi pribadi, mau Cindo atau bukan, secocoknya saja. Kalau enggak (Cindo), ya enggak apa-apa, kalau Cindo ya enggak apa-apa," kata Eben, yang juga seorang keturunan Tionghoa-Indonesia.
Di titik ini, benang merahnya terasa lebih jelas: etnis memang jadi pertimbangan, tetapi kecocokan tetap menjadi penentu utama.
Angeline Chandra mendirikan Cindo Match untuk memfasilitasi kebutuhan mencari pasangan sesama CindoFoto: Algadri Muhammad/DW
Cindo Match: solusi bagi yang suka sesama Cindo
Namun, bagi sebagian orang yang memang ingin mencari pasangan sesama Tionghoa-Indonesia, ada layanan khusus yang menjawab kebutuhan itu.
Iklan
Angeline Chandra mendirikan Cindo Match, biro jodoh luring (offline) yang menyasar mereka yang ingin berpasangan dengan sesama Cindo.
Syarat utama dalam proses seleksi adalah calon anggota dan kliennya harus keturunan Tionghoa-Indonesia. Menurut perempuan yang biasa disapa Angie ini, kalaupun tidak sepenuhnya Cindo, ia tetap memastikan bahwa akar Tionghoa-Indonesia mereka masih kuat. Proses seleksinya pun cukup detail, dari soal marga hingga diminta menunjukkan foto Imlek keluarga. Ini semua untuk memastikan latar keturunan para anggotanya.
"Jadi saya harus memastikan bahwa calon anggota adalah Cindo, karena anggota kami bergabung dengan komunitas ini karena mereka ingin menemukan sesama Cindo juga. Jadi, saya harus menepati janji dengan mengkurasi orang-orang sesuai apa yang saya sampaikan di awal” kata Angie.
Di gerai makcomblang yang terletak di Kelapa Gading, Jakarta Utara ini, pelanggan punya beberapa cara untuk mencari "jodoh potensial".
Berbekal biodata, layanan biro jodoh ini melakukan pencarian sesuai preferensi klienFoto: Algadri Muhammad/DW
Misalnya, dengan "belanja CV". Di kios Cindo Match terpampang sejumlah kertas layaknya curriculum vitae (CV). Lembaran itu berisikan inisial nama, umur, shio, domisili hingga hobi para lajang. Namun, foto mereka diganti dengan ilustrasi AI yang menyerupai sosok asli dari anggota tersebut, supaya privasi tetap terjaga.
Selain itu, anggota dan klien bisa juga menitipkan profilnya untuk dipajang.
Cara lain, mereka bisa juga berkonsultasi langsung dengan admin Cindo Match untuk menentukan kandidat yang dinilai cocok. Jika kedua pihak setuju, kontak akan dibagikan agar komunikasi bisa dimulai.
Bagi Angie, kecocokan bukan hanya soal kesamaan etnis. Ia juga mempertimbangkan latar pendidikan dan kestabilan finansial para anggora, agar setiap orang yang bergabung memiliki yang kandidat yang relatif setara.
"Menurut saya, jika kamu ingin memiliki pasangan hidup dan memulai sebuah keluarga, kamu harus bisa menunjukkan bahwa kamu mampu memiliki kehidupan sendiri. Dari apa yang saya lihat, para anggota itu percaya dual income dan bahwa rumah tangga itu harus dibangun sama-sama," tutup Angie.
Fenomena Chindo: Tren Masa Kini atau Produk Trauma Generasi
01:59
This browser does not support the video element.
Apa yang membentuk preferensi pasangan komunitas Cindo?
Fenomena ini sebenarnya tidak berdiri sendiri, bukan juga hanya terbatas pada etnis keturunan Tionghoa-Indonesia.
Jony Eko Yulianto, Dosen dan Peneliti Psikologi Sosial juga mengamininya. Menurutnya, preferensi memilih pasangan dari satu etnis dan budaya adalah social homophily atau kecenderungan seseorang menjalin relasi dengan orang yang memiliki kesamaan. Hal ini untuk mempertahankan nilai-nilai yang dimiliki dan dipercaya, sebagai sebuah kebenaran.
Namun, dalam konteks Tionghoa-Indonesia, Jony Eko juga mengakui bahwa ada lapisan sejarah turut membentuknya.
Menurutnya, kesan eksklusivitas yang ada disebabkan oleh fakta bahwa komunitas Cindo bukanlah "the first people of the region,” seperti orang Batak di Sumatra Utara atau orang Tengger di sekitar Bromo. Mereka datang dari komunitas "imigran yang kemudian menduduki suatu wilayah".
Unsur spasial ini yang dimanfaatkan oleh pemerintah sejak era kolonial untuk membuat kesan mereka berjarak.
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Buka Kunci Sejarah Indonesia
Terletak di kawasan perumahan di Tangerang, ruko berlantai dua ini diubah menjadi penyimpanan berbagai buku, majalah, koran, komik dan literatur tentang Tionghoa yang diberi nama “Museum Pustaka Peranakan Tionghoa”.
Foto: Monique Rijkers
Mengenal Museum Peranakan Tionghoa
Proses pengumpulan pustaka dilakukan sejak 2005. Kehadiran museum ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang peran orang Tionghoa di Indonesia dan memupus kesan negatif yang masih melekat pada segelintir orang Indonesia.
Foto: Monique Rijkers
Kontribusi Nyata Non Tionghoa
Azmi Abubakar bukan keturunan Tionghoa dan tidak berkaitan dengan Tiongkok. Namun ia berkontribusi bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia dengan mendirikan Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Koleksinya dilirik hingga ke luar negeri dan membawa Azmi jadi pembicara tentang peranakan Tionghoa. Setelah museum, Azmi Abubakar berupaya membangun Universitas Cheng Ho di Aceh, tanah kelahirannya.
Foto: Monique Rijkers
Koleksi Pustaka, Koleksi Pengetahuan Sejarah
Bambang Sriyono, kawan seperjuangan Azmi Abubakar dalam membangun Museum ini memperkirakan hingga awal 2018 sudah ribuan buku ada di sini. Buku-buku itu berasal dari toko buku bekas di beberapa kota, diberikan orang hingga perburuan ke orang yang pindah rumah. Menurut Bambang Sriyono atau akrab disapa Ibeng, koleksi museum bisa dipamerkan di luar museum sebagai sarana edukasi kepada masyarakat.
Foto: Monique Rijkers
Bahasa Mandarin Dalam Aksara Jawa
Pengelola museum, Bambang Sriyono berkata, “Karena tak tahu bahasa Mandarin, banyak buku yang belum ketahuan isinya.” Ia berharap ada yang berminat menerjemahkan buku-buku ini ke bahasa Indonesia agar menambah khazanah pengetahuan. Buku tertua ini misalnya, ditulis dalam aksara Jawa kuno tetapi berbahasa Mandarin sehingga butuh penerjemah bahasa Jawa yang bisa bahasa Mandarin.
Foto: Monique Rijkers
Pendidikan Untuk Murid Tionghoa
Dari buku-buku tahunan ini diketahui ada sekolah khusus Tionghoa di Jakarta, Semarang dan Cirebon. “Tiong Hoa Hwee Koan” adalah sekolah di Jalan Patekoan 31 Jakarta yang berdiri sejak 1901 hingga ditutup pemerintah 1960. Di Jl Kampung Baru Utara 80, Jakarta ada sekolah dwibahasa bernama “The Chinese High School”. Kini di Tangerang ada upaya membangun kembali sekolah serupa yaitu Sekolah Pa Hoa.
Foto: Monique Rijkers
Pemakaman Bersejarah di Cirebon
Dari biografi “Majoor Tan Tjin Kie” yang disusun Tan Gin Ho, anak almarhum membawa pembaca pada peristiwa kematian Tan Tjin Kie, pemilik pabrik gula “Suikerfabriek Luwunggadjah”, orang terkaya di Cirebon, Jawa Barat. Saat meninggal 1919, peti matinya ditarik 240 orang dan dihadiri masyarakat Cirebon yang kehilangan sosoknya yang membangun masjid dan Rumah Sakit “Dr. Gottlieb” (RSUD Gunung Jati).
Foto: Monique Rijkers
Pendiri Rumah Sakit Husada di Jakarta
Dokter Kwa Tjoan Sioe pada 1924 sudah mengajak rekan-rekan dokter dan pengusaha Tionghoa dirikan perkumpulan Jang Seng Ie guna membangun klinik bersalin di Jakarta. Saat itu angka kematian bayi mencapai 45% dari jumlah kelahiran. Saking banyaknya pasien, kadang para pasien harus diinapkan di rumah dokter. Pada tahun 1965, Rumah Sakit Jang Seng Ie diganti nama jadi RS Husada oleh pemerintah.
Foto: Monique Rijkers
Lie Kim Hok, Tokoh Sastra Tionghoa-Melayu
Catatan kesusasteraan Melayu-Tionghoa banyak menyebut nama Lie Kim^Hok sebagai penulis Melayu-Tionghoa pertama yang sangat mempengaruhi perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Ia merintis penggunaan bahasa Melayu yang kemudian jadi bahasa Indonesia di Jawa, Padang, Medan, Palembang, Banjarmasin dan Makassar. Buku pada foto ini ditulis oleh Tio Ie Soei untuk mengenang ulang tahun Lie KimHok ke-105.
Foto: Monique Rijkers
Cita Rasa Tionghoa Dalam Keberagaman
Cita rasa Tionghoa sangat mempengaruhi masakan di Indonesia. Dari buku resep masakan yang dikompilasi oleh Lie Tek Long terbitan Batavia tahun 1915, pembaca bisa mengetahui aneka bumbu dan bahan dalam makanan Betawi, Jawa dan Melayu seabad silam. Untuk sambal saja, buku ini memuat 40 resep sambal. Selain sambal, ada pula resep laksa, perkedel nyonya, sate Njo Kim Poei, sop telor burung, dll.
Foto: Monique Rijkers
Daur Ulang Komik Tionghoa Kekinian
Banjir sejak dahulu rupanya sudah menjadi momok bagi warga Jakarta. Hal ini bisa dilihat dalam komik yang menggambarkan kritik sosial dan keseharian seorang Tionghoa yang digambarkan selalu sial dalam komik yang berjudul Put On atau “Si Gelisah”. Put On menjadi judul komik karya Kho Wan Gie yang diterbitkan setiap edisi majalah Sin Po mulai tahun 1931.
Foto: Monique Rijkers
Koleksi Foto Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Saat rumah Jon Lie mau dijual, pendiri museum, Azmi Abubakar datangi rumah itu dan mendapat koleksi surat dan album foto pahlawan nasional Tionghoa pertama Indonesia itu. John Lie atau Lie Tjeng Tjoan dikenal sebagai mayor, komandan maritim Jakarta. Kisah tentangnya sangat minim karena profesinya sebagai penyelundup senjata untuk kebutuhan Angkatan Laut Indonesia melawan Belanda.
Foto: Monique Rijkers
Nama Indonesia dari Majalah Sin Po Tahun 1926
Membuka lembar-lembar halaman koleksi museum ini sesungguhnya menyelami rekam jejak sejarah Indonesia. Nama Indonesia dahulu digunakan oleh penulis-penulis Belanda dan Jerman pada rentang 1850-1880. Namun koran Sin Po yang terbit sejak 1910 dianggap mempopulerkan Indonesia. Pada terbitan mingguan Sin Po tahun 1926, Indonesia dipilih menjadi nama kolom yang memuat tulisan tentang beragam hal.
Foto: Monique Rijkers
Menjadi WNI
Meski peranakan Tionghoa di Indonesia berkontribusi pada bangsa ini, namun kebijakan politik Orde Lama hingga Orde Baru sisakan luka. Museum ini memiliki segepok dokumen kependudukan yang menorehkan catatan kelam dalam sejarah Indonesia. Surat pernyataan melepas kewarganegaraan Republik Rakyat Tiongkok untuk menjadi Warga Negara Indonesia di foto ini dikeluarkan di Surabaya pada tahun 1961.
Foto: Monique Rijkers
Ketika Ada "Staf Chusus Urusan Tjina"
Mengacu pada dokumen Laporan Tahunan Kabinet Pembangunan tahun 1968, berdasarkan Undang-undang No 4/1961 WNI yang masih memakai nama Cina wajib mengubah namanya sesuai nama Indonesia asli. Repotnya nama yang dipilih itupun masih bisa digugat oleh pihak yang keberatan pada pilihan nama baru tersebut. Dalam dokumen ini disebutkan masa tunggu ada-tidaknya gugatan selama tiga bulan.
Foto: Monique Rijkers
Di Balik Papan Nama Bolak-Balik
Berbagai papan nama Tionghoa - saksi bisu asimilasi identitas - jadi bagian penting koleksi museum. Papan nama yang dulu umumnya dipasang di depan rumah ini bisa dibolak-balik tergantung situasi. Jika ada keluarga yang akan berkunjung, papan bertuliskan Tan Lian Tjhoen yang ditampilkan. Setelah keluarga pergi, demi kenyamanan bertetangga, papan nama kembali menjadi nama Indonesia, Djoenaedy.
Foto: Monique Rijkers
Merawat Sejarah, Merajut Keberagaman
Dudi Duta Akbar, rekan Azmi Abubakar mengumpulkan bahan tulisan tentang koleksi museum. Kelak, seluruh pustaka yang ada diharapkan bisa jadi sumber sejarah Tionghoa dan rujukan jejak nenek moyang keluarga keturunan Tionghoa. Koleksi museum sudah berhasil menghadirkan bukti keberagaman di Indonesia yang harus selalu dirajut tanpa lelah. Penulis: MoniqueRijkers (ap/vlz)
Foto: Monique Rijkers
16 foto1 | 16
"Bentuk eksklusivitas spasial mereka (Tionghoa-Indonesia) itu, sebetulnya adalah hasil produk kolonialisme. Karena pemerintah Belanda menginginkan supaya mereka dipisahkan dari masyarakat pribumi untuk diminta tolong menarik pajak. Jadi, muncullah koloni-koloni. Itu adalah mekanisme mereka untuk membentuk komunitas," tutur Jony Eko kepada DW Indonesia.
Ia menambahkan, pada bab sejarah lain histori tentang kekerasan (seperti Mei 1998) juga membentuk preferensi hubungan. Sehingga hal tersebut ini bukan hanya sebagai keinginan pribadi, tapi juga sebagai mekanisme pertahanan diri.
Namun, menurut dosen psikologi sosial Universitas Ciputra itu, anak muda Cindo kini lebih terbuka karena sudah berjarak dengan trauma sejarah dan terekspos dengan budaya pop global yang mewajarkan hubungan antar etnis dan budaya. Meskipun, karakteristik keluarga di Indonesia masih bersifat antargenerasi.
Sehingga, generasi tua dalam suatu keluarga, yang dalam konteks Cindo masih terpapar trauma, tetap punya suara yang berpengaruh dalam konteks jodoh dan pernikahan.
Dengan demikian, pernikahan antaretnis di Indonesia masih sering diwarnai keraguan dan pertimbangan keluarga. Namun, Jony memprediksi hal ini akan segera bergeser.
"Prediksi saya, cultural hybridity akan menjadi norma, sehingga apa yang disebut orang Chinese, dengan semua stereotipenya, akan semakin tercampur. Dan mungkin akan ada definisi-definisi baru tentang cara kita mendefinisikan siapa itu Cindo, siapa itu orang Jawa, dan seterusnya. Jadi, justru itu adalah sebuah keindahan yang akan mewarnai negara multikultural yang kita (Indonesia) miliki," tutup Jony Eko.