1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
FilmJerman

Joko Anwar: Trauma adalah Sesuatu yang Harus Dibicarakan

Sorta Caroline
20 Februari 2026

Dari film terbarunya, Joko Anwar mengajak para penonton mendalami realitas sosial yang tidak terjadi hanya di Indonesia: penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, hingga kolektif trauma.

Spanduk film "Ghost in the Cell" di bioskop di kota Berlin
Foto: DW/Sorta Caroline

Masih 40 menit sebelum film dimulai, tapi Bioskop Delphi Filmpalast Berlin sudah dipadati penonton yang mengantri. Di barisan, nampak beberapa orang Indonesia, meski lebih ramai orang asing.

Sebelum masuk ruang bioskop, Abimana Aryasatya, salah satu aktor di film tersebut sempat berbisik, "Memangnya mereka bisa mengerti ya? Candaan (di film ini)-kan Indonesia banget!”

Film "Ghost in the Cell" yang berdurasi 106 menit itu memang dipenuhi candaan satir seolah menormalisasi situasi-situasi absurd, "Ah…namanya juga di Indonesia…Bukan di Norway….”

Tapi dalam sekejap adegan penuh candaan bisa disulap jadi drama aksi penuh ketegangan atau menjadi situasi horor yang mencekam.

Di akhir film beberapa penonton asing mengatakan bahwa selain hantu yang digambarkan memiliki kemarahan besar akan ketidakadilan, mereka pun melihat 'potret' masalah sosial Indonesia yang juga terjadi di beberapa negara.

Sepertinya Joko Anwar berhasil meramu permasalahan sosial dengan komedi, aksi, horor, misteri, hingga sedikit renungan psikologis.

Kepada DW Indonesia, Joko Anwar menjelaskan lebih lanjut seputar filmnya.

Apa gebrakan Joko Anwar dalam film "Ghost in the Cell”, sampai-sampai Plaion Pictures, bersedia mendistribusikannya film ini di Jerman dan beberapa negara Eropa?

Menurut mereka film ini menghibur, lucu tapi juga punya isu sosial politik yang relevan tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia.

"Ghost in the Cell" ini bercerita penjara sebagai ‘miniatur of society' (miniatur masyarakat), ada narapidana, ada polsuspas (polisi khusus pemasyarakatan) dan berbicara soal penyalah gunaan kekuasaan. Bagaimana sistem tidak melindungi masyarakat tapi orang yang punya kedekatan dengan penguasa. Hal ini terjadi enggak hanya di Indonesia.

Kenapa memilih untuk bernarasi dengan film horor? Kali ini juga dibungkus dengan banyak adegan humoris dan satir?

Indonesia sangat percaya takhayul. Kalau ketemu orang yang bisa lihat hantu, ia bukan dianggap sebagai orang dengan gangguan mental tapi dianggap jago. Bahasa horor itu penting terutama dalam cinema.

Horor ini membuat takut, yang bisa dipahami semua orang di seluruh dunia.. meskti bentuk nya beda ya tergantung kolektif trauma, kolektif memori. Rasa takut adalah hal yang mendasar, di negara manapun itu sama, bisa dipahami.

Komedi harusnya mengejutkan mereka (penonton) ya. Seringkali kita sulit mengartikulasikan sesuatu, komedi di sini menolong kita mengutarakannya. Komedi juga mengutarakan ketakutan. 

Harapannya setelah tertawa, kita pulang ke rumah dengan sesuatu yang 'menempel' di kepala untuk berefleksi.

Joko Anwar, Sutradara Film "Ghost in the Cell".Foto: DW/Sorta Caroline

Sebenarnya selain horor, Joko Anwar sering membahas soal permasalahan psikologis, trauma masa kecil, bahkan kali ini inferiority complex (kondisi psikologis di mana seseorang merasa nilai dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain atau rendah diri), mengapa penting membahasnya dalam film?

Aku percaya bahwa trauma adalah sesuatu yang harus dibicarakan - terutama sebagai suatu bangsa. Jadi kita tidak mengulang kesalahan yang sama sebagai bangsa. Beberapa insiden yang terjadi di sejarah gelap Indonesia misalnya insiden di tahun 1998 yang coba dilupakan, sebenarnya harusnya dibicarakan - jadi kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

Soal inferiority complex sebenarnya orang indonesia tebal banget inferiority complexnya. Jadi harus dibicarakan - yang kita rasakan ini ada loh, namanya "inferiority complex” dan kita harus melakukan sesuatu untuk mengurangi atau menghilangkannya. Semua yang kubahas di film, hal yang menurutku relevan di masyarakat.

Jadi elemen di film aku adalah sesuatu yang prominent (menonjol) di masyarakat kita.

Hantu di film ini sepertinya punya amarah yang begitu besar begitu, kenapa?

Kalau kita tidak bisa mengartikulasikan perasaan kita kan kita marah. Orang Indonesia masih punya kesulitan mengartikulasikan perasaannya karena kultur kita tidak untuk speak up (berbicara secara langsung). Sampai sekarang masih dibungkam.

Marah itu kayak bahasa yang umum. Iya gak sih, jalau di Indonesia yang penting marah dulu. Kalau kita kepada orang asing itu sangat baik, ini kan inferiority complex - mendewakan orang asing tapi ke bangsa sendiri?

Marah seharusnya tidak jadi satu-satunya cara yang kita keluarkan saat kita berkomunikasi dengan orang lain. Banyak cara lain, seni misalnya open sub our mind.

Saat diinterview oleh Berlinale, Joko Anwar bilang ‘film membutuhkan lebih banyak keberanian dan mendobrak batasan', tetapi bagaimana melakukannya di tengah represi?

Mundurkan batasannya, mainkan dengan cerdas jangan sampai batasannya hancur. Bisa sedikit 'dicolek', bayangkan sedang bermain permainan yang sulit. Kita harus tahu bagaimana memainkannya. Lakukan terus. Biar ranah bermainnya lebih luas lagi.

Abimana Aryasatya (kiri), Joko Anwar, dan Endy Arfian (kanan) pada penayangan perdana Film Ghost in the Cell di Delphi Filmpalast Berlin, 13 Februari 2026Foto: DW/Sorta Caroline

Sepertinya Joko Anwar itu berani terus orangnya, apa ada pengaruh Alfred Adler?

Aku enggak (selalu) berani. Pernah ada masa-masa aku banyak pertanyaan soal hidup seperti 'kenapa sih aku dilahirkan' dan 'tatanan-tatanan masyarakat yang harus diikuti'.

Soren Kirkegaard -lah yang 'menyelamatkan hidup aku', lewat bukunya Either Or -nya aku paham kalau pertanyaan-pertanyaan itu valid dan seseorang tidak bisa fully content (sepenuhnya puas). Jadi ya itu ingatlah Soren Kirkegaard - it is okay.

Kalau kita kembali ke film "Ghost in the Cell", kenapa peran perempuannya minim di film ini?

Nanti kalau laku, kita bikin ya versi penjara perempuan. 

Berhasil sampai Berlinale, apa berarti Industri perfilman kita sudah naik kelas?

Film Horor Indonesia sudah jadi kayak trademark (ciri khas) Indonesia di sinema global. Kita dikenal dari film horor. Bahkan mencapai 'golden age' di tahun 80-an itu karena film horor.

Sekarang untuk tahu film indonesia lewat film horor. Film horor kita selalu berkelas. Tahun 2000-an mungkin beberapa PH menggunakan film horor untuk buat film yang murahan atau seksi. Tapi sekarang selama satu dekade terkahir sudah kembali…. Film horor Indonesia sudah dikerjakan sangat serius.

Apakah ada bantuan dari Pemerintah untuk menjadi film horor Indonesia sebagai softpower?

Pemerintah dalam hal bantuan, sudah ada gesture seperti Indonesiana — dan bantuan lain.

Tapi itu masih sporadis, belum ada kebijakan jangka panjang. Harus duduk bareng, sektor pendidikan, pemerintah, para pemangku kebijakan, dan produser.

Film horor sangat punya potensi tinggi untuk jadi softpower kita di dunia.

Wawancara telah diedit sesuai konteks.

Editor: Yuniman Farid

Produser, aktor, dan sutradara di atas panggung pasca pemutaran perdana film "Ghost in the Cell" di ajang Berlinale ke-76.Foto: DW/Sorta Caroline