Kritik yang sering dilontarkan oleh kelompok "Jokowiphobia” adalah bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu anti-ulama. Benar demikian? Simak opini Sumanto al Qurtuby.
Foto: picture-alliance/AA/E. S. Toyudho
Iklan
Alasan utama yang mereka gunakan untuk mengklaim, menyuarakan, mengkampanyekan atau tepatnya mempropagandakan kalau Jokowi itu pemimpin anti-ulama adalah, antara lain, adanya penangkapan atau pemrosesan hukum sejumlah tokoh Muslim yang terlibat atau menjadi "penggerak utama” aksi massal 212, khususnya tentu saja Rizieq Shihab yang kini ngumpet di Arab Saudi (kini sebagian kasus yang menimpa Rizieq di SP3-kan).
Mereka ditangkap atau diproses secara hukum bukan lantaran menjadi otak aksi 212 yang berjilid-jilid itu tetapi lebih karena yang bersangkutan diduga terlibat berbagai isu dan skandal (seks, penipuan, korupsi, manipulasi), makar atau pendongkelan kekuasaan, ujaran kebencian, atau keterkaitan dengan jaringan terorisme internasional.
Penulis. Sumanto al Qurtuby Foto: S. al Qurtuby
Slogan "kriminalisasi ulama” yang sering mereka lontarkan antara lain ditujukan untuk Jokowi (selain polisi), yang menurut mereka, telah "mengkriminalkan” ulama (maksudnya Rizieq dkk).
Tentu saja publik yang waras akan menganggap klaim atau propaganda mereka itu omong kosong belaka.
Masyarakat yang berakal sehat sudah mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya hanyalah "bualan” saja. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi bagi "212 mania” (khususnya kelompok "Jokowi hater” dan "Rizieq lover”), mereka percaya kalau Jokowi itu adalah pemimpin anti-ulama yang telah melakukan kriminalisasi atas ulama.
Bursa calon wakil presiden memanas kurang dari setahun menjelang Pilpres 2019. Sejumlah nama besar saat ini diisukan bakal menemani dua calon terkuat, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Siapa saja?
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Mahfud MD
Dari sekian banyak nama yang santer diisukan bakal mendampingi Joko Widodo pada Pilpres 2019, Mahfud MD termasuk yang paling berpotensi terpilih. Selain tidak berasal dari salah satu partai koalisi, ia juga memiliki reputasi tak tercela di kalangan pemilih muslim. Mahfud yang pernah aktif di Mahkamah Konstitusi dipercaya bisa membantu pemerintahan Jokowi mengawal penegakan hukum di Indonesia.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Muhaimin Iskandar
Sejauh ini Cak Imin adalah satu-satunya pemimpin partai yang terang-terangan mendeklarasikan ambisinya merebut kursi cawapres. Kepada Jokowi atau Prabowo politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini menawarkan dukungan kaum muslim NU yang berjumlah mayoritas di Jawa Tengah dan Timur. Meski mendukung Jokowi, Muhaimin juga dikabarkan bermain mata dengan Prabowo untuk dipasangkan dalam Pilpres 2019
Foto: picture-alliance/Pacific Press/A. Ally
Airlangga Hartarto
Serupa Cak Imin, Airlangga Hartarto didaulat sebagai cawapres pendamping Jokowi oleh partainya sendiri, yakni Golkar. Kendati begitu peluang milik putra bekas menteri perindustrian di era Orde Baru, Hartarto Sastrosoenarto, ini diyakini tidak besar. Golkar pun sudah mengumumkan bakal tetap mendukung pemerintahan Joko Widodo, dengan atau tanpa Airlangga Hartarto sebagai pendampingnya.
Foto: picture-alliance/dpa/B. Indahono
Sri Mulyani
Adalah kinerja dan reputasinya yang menempatkan Sri Mulyani dalam bursa calon wakil presiden. Namanya dikabarkan terjaring dalam daftar bakal cawapres versi PDI-P bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiatsuti. Namun Sri mengaku tidak berambisi menduduki jabatan wakil presiden. Ia hanya berharap kembali dipercaya menggawangi Kementerian Keuangan.
Foto: picture-alliance/AA/S. Corum
TGB Zainul Majdi
TGB banyak mendapat sorotan usai mendeklarasikan dukungannya kepada Joko Widodo pasca Pilkada 2018. Klaim tersebut sontak mengundang kritik dari Partai Demokrat yang menaunginya. TGB masuk dalam bursa cawapres lantaran kedekatannya dengan pemilih muslim. Selain merupakan cucu KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan, Gubernur NTB ini juga berasal dari kalangan cendikia Islam.
Foto: Gemeinfrei
Anies Baswedan
Nama Anies Baswedan adalah yang paling panas dibahas dalam bursa cawapres untuk Prabowo Subianto. Keberhasilannya menumbangkan Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI 2017 dianggap sebagai pencapaian politik yang sekaligus menempatkan namanya untuk menduduki salah satu jabatan tertinggi di tanah air. Anies bahkan digadang-gadang bakal maju sebagai calon presiden, meski tanpa dukungan Gerindra.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Agus Harimurti Yudhoyono
Sejak Pilkada DKI 2017 hingga kini Agus Harimurti Yudhoyono (ki.) sudah bergerilya mencari suara. Ambisi sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono, menempatkan putranya di jabatan tertinggi di dalam negeri membuat Partai Demokrat sibuk mencari rekan koalisi untuk Pilpres 2019. Jika koalisi Gerindra-Demokrat menjadi kenyataan, duet Prabowo dan AHY diyakini bakal menajdi kenyataan.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Ahmad Heryawan
Saat ini Ahmad Heryawan sedang mencari pekerjaan baru setelah lengser dari jabatannya sebagai gubernur Jawa Barat. Sebagai politisi PKS, Aher membawa banyak keuntungan pada Prabowo Subianto: Dukungan pemilih muslim, mesin partai yang efektif dan pengalaman birokrasi. Selain Anies, Aher adalah nama yang paling santer diisukan bakal mendampingi Prabowo. rzn/hp (detik, kompas, tirto.id, katadata)
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
8 foto1 | 8
Justru sebaliknya
Padahal, sebenarnya tidak demikian. Jokowi adalah sosok pemimpin yang pro-ulamadan sangat menghormati mereka. Sependek yang saya tahu, Jokowi sangat dekat dengan berbagai kelompok ulama dan tokoh agama.
Jokowi bukan sosok seperti Amangkurat I, putra Sultan Agung, dari Kerajaan Mataram, seorang raja diktator yang bengal dan bengis yang pernah membantai dan membolduzer ribuan ulama karena dianggap membangkang terhadap kekuasaan. Ia juga tidak seperti mendiang Suharto yang pernah antipati terhadap kelompok ulama, khususnya dari kalangan NU, yang bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru.
Apa makna ulama?
Sebelum saya jelaskan lebih lanjut kedekatan Jokowi dengan para ulama dan kenapa klaim "kriminalisasi” ulama yang dilontarkan oleh kelompok anti-Jokowi itu tidak lebih hanya sebagai ungkapan kosong tak bermakna, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu secara singkat kata "ulama” dalam perspektif historis-sosiologis dan bagaimana masyarakat Timur Tengah kini memaknai kata "ulama”.
Secara historis-sosiologis, kata "ulama” (tunggal: "alim”) ini sebetulnya merujuk pada "ilmuwan” yang memiliki keahlian (expertise) di bidang ilmu-ilmu tertentu: eksakta, teknik, sosial, dan sebagainya. Sebutan "ulama” itu bukan hanya untuk ilmuwan Muslim saja tetapi juga non-Muslim. Bukan hanya ilmuwan agamis saja tetapi juga ilmuwan sekuler.
Masyarakat Arab Timur Tengah kontemporer, termasuk murid-murid Saudiku, juga memahami dan memaknai kata "ulama” dalam spektrum yang lebih luas, bukan hanya Muslim yang memiliki spesialisasi di bidang keilmuan keislaman (studi Islam) seperti laiknya dipahami di Indonesia.
Dalam konteks ini maka ungkapan "kriminalisasi ulama” itu sebetulnya sangat rancu, lemah secara konseptual, dan karena itu bisa diperdebatkan atau dipertanyakan lebih lanjut.
Pertama, istilah "kriminalisasi” atau "pengkriminalan” itu mengandaikan bahwa yang bersangkutan tidak terlibat dalam tindakan kriminalitas atau kejahatan yang bisa dijerat secara hukum. Padahal, sejumlah nama yang ditangkap atau dilaporkan ke pihak kepolisian itu jelas-jelas diduga telah melakukan sejumlah kejahatan atau pelanggaran hukum yang bisa dikenai sanksi pidana.
Kedua, apakah betul sejumlah nama yang ditangkap atau dijerat hukum, termasuk Rizieq Shihab, itu memenuhi kualifikasi sebagai seorang "ulama” atau ilmuwan menurut standar resmi keulamaan seperti saya jelaskan di atas?
Ketiga, dalam konteks negara hukum seperti di Indonesia, siapapun bisa dijerat oleh hukum, tak terkecuali ulama atau bahkan presiden dan para penegak hukum sekalipun. Di negara ini, tidak ada yang kebal oleh hukum. Ungkapan "kriminalisasi ulama” mengandaikan kalau ulama itu sosok yang tidak boleh terjerat oleh hukum.
Rizieq Shihab yang dulu gemar beradu otot dengan penguasa kini menjadi primadona politik jelang Pilkada. Tapi meski kian berpengaruh, sepak terjangnya kerap membuat gaduh. Kini Rizieq kembali digoyang.
Foto: Getty Images/Adek Berry
Pelarian Terakhir
Sejak 2014 Rizieq Shihab menjadi pelarian terakhir buat calon pejabat tinggi yang kekurangan suara buat memenangkan pemilu. Saat itu Front Pembela Islam (FPI) didekati duet Prabowo dan Hatta hanya sebulan menjelang pemilihan umum kepresidenan. Kini pun Rizieq kembali dirayu dua pasangan calon gubernur DKI yang butuh dukungan buat menggusur Basuki Tjahaja Purnama.
Foto: picture-alliance/dpa/B.Indahono
Tolak Perempuan
Rekam jejak politik FPI sudah berawal sejak era Megawati. Dulu Rizieq menggalang kampanye anti pemimpin perempuan. Saat itu organisasi bentukannya mulai mendulang dukungan lewat aksi-aksi nekat seperti menggerudug lokasi hiburan malam. Namun di tengah popularitasnya yang meluap, Rizieq dijebloskan ke penjara karena menghina Sukarno dan Pancasila.
Foto: Adek Berry/AFP/Getty Images
Tanpa Daya Pikat
Sebulan menjelang pemilihan presiden pertama 2009, FPI mendeklarasikan dukungan buat Jusuf Kalla dan Wiranto. Serupa 2014, saat itu pun deklarasi dukungan oleh Rizieq gagal mendatangkan jumlah suara yang diharapkan. Pengamat sepakat, ormas agama serupa FPI belum memiliki daya pikat untuk menyihir pemilih muslim.
Foto: picture-alliance/dpa
Perang di Jakarta
Namun roda nasib berbalik arah buat Rizieq. Sejak 2013, dia telah menggalang kampanye menentang Gubernur Petahana Basuki Tjahaja Purnama lantaran tidak beragama Islam. Puncaknya pada 14 Oktober 2014 FPI menggalang aksi demonstrasi sejuta umat. Namun yang datang cuma ribuan orang. Pilkada DKI Jakarta 2016 akhirnya menawarkan panggung buat FPI untuk kembali menanamkan pengaruh.
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Kampanye Anti Gubernur Kafir
Pidato Ahok yang mengritik politisasi Al-Quran untuk pemilihan umum dan pilkada menjadi umpan buat FPI. Bersama GNPF-MUI, Rizieq menyeret Ahok ke pengadilan dengan dakwaan penistaan agama. Ia pun menggelar aksi protes melawan Ahok yang kali ini mengundang ratusan ribu umat Muslim dari seluruh Indoensia. Manuver tersebut coba dimanfaatkan pasangan calon lain untuk menggembosi dukungan terhadap Ahok
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Koalisi Oposisi
Rizieq lagi-lagi naik daun. Ia pun didekati Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan yang membutuhkan suara tambahan buat memenangkan pilkada. Untuk pertamakalinya FPI berpeluang memenangkan salah satu calon untuk merebut kursi strategis. Tapi serupa 2003, kali ini pun sepak terjang Rizieq di arena politik mendatangkan lawan yang tak kalah garang.
Foto: AFP/Getty Images
Pertaruhan Terakhir
Saat posisinya melambung, Rizieq Shihab terancam kembali diseret ke penjara dengan berbagai dakwaan, antara lain penghinaan simbol negara dan pornografi. Tapi sang Habib tidak tinggal diam dan memilih melancarkan serangan balik kepada Ahok, seakan nasibnya ditentukan pada hasil Pilkada DKI. Pertaruhan Rizieq menyimpan risiko tinggi. Namun jika berhasil, maka kuasa adalah imbalannya.
Foto: Getty Images/Adek Berry
7 foto1 | 7
Pemerintahan warna-warni
Jika mengikuti definisi resmi, penjelasan sosiologi-historis, serta alur argumen dan pengertian masyarakat Arab Timur Tengah tentang "ulama” tersebut, maka Jokowi jelas-jelas sosok presiden yang sangat pro, bukan anti-ulama.
Ia bukan hanya dekat dengan spesialis studi agama, para ahli dari kalangan non-Muslim, dan ilmuwan sekuler saja tetapi juga para tokoh Muslim, kaum sufi, pengikut tarekat, kiai tradisional, klerik moderat, sarjana agama, akademisi kampus, dan sebagainya.
Hal itu tercermin dari team work dan komposisi orang-orang dan para ahli di pemerintahannya yang sangat warna-warni.
Dilibatkannya para alim-ulama, akademisi-cendekiawan, dan tokoh Muslim senior dalam struktur pemerintahannya (baik dari faksi NU, Muhammadiyah dan lainnya) seperti Ma'ruf Amin, Said Aqiel Sirodj, Ahmad Syafii Ma'arif, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dlsb menunjukkan kedekatannya dengan para ulama, cendekiawan, dan tokoh Muslim. Jokowi juga dikenal dekat dan sangat respek dengan para kiai kharismatik NU seperti Kiai Maimun Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Mustafa Bisri, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di kolom singkat ini.
Ia tampak sering sowan atau mengunjungi berbagai kelompok ulama, klerik, dan kiai sepuh di seluruh pelosok Indonesia.
Bukan hanya ulama dalam negeri saja, Jokowi juga membangun persahabatan dengan berbagai kalangan ulama dari Luar Negeri, khususnya Timur Tengah, seperti Syaikh Ahmad Muhammad al-Tayeb (Imam Besar Al-Azhar, Mesir) dan Syaikh Abdul Rahman bin Abdul Aziz al-Sudais (Imam Besar Masjid al-Haram, Makah).
Presiden Jokowi juga beberapa kali mengorganisir pertemuan dengan berbagai kelompok ulama di dalam dan luar negeri dari berbagai ormas Islam, untuk dimintai pertimbangan dan perspektif tentang membangun keislaman moderat (wasathiyah) dan berkarakter Indonesia.
Bukan hanya kasus dugaan penyebaran konten pornografi #BaladaCintaRizieq yang tengah melilit pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shibab. Laporan atas kasus-kasus lainnya, di antaranya bisa disimak di sini.
Foto: picture-alliance/dpa/B.Indahono
Dugaan kasus salam Sampurasun
Angkatan Muda Siliwangi dan Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat melaporkan Rizieq Shihab ke Polda Jawa Barat awal Januari 2017 atas dugaan pemimpin Front Pembela Islam itu memplesetkan salam khas Sunda, ‘Sampurasun‘ menjadi "campur racun". Ucapan ditengarai disampaikan Shihab saat berceramah di Purwakarta, 13 November 2015.
Foto: twitter.com/rmoljabar
Dugaan pelecehan Pancasila dan pencemaran nama baik Soekarno
Sukmawati Soekarnoputri melaporkan Rizieq Shihab ke kepolisian pada bulan Oktober 2016. Laporan dilatarbelakangi pernyataan Rizieq yang dianggap menodai Pancasila dan menghina proklamator RI, Soekarno, dalam sebuah ceramah yang terekam di video. Sukmawati kemudian melaporkan Rizieq dengan tuduhan melakukan tindak pidana penodaan terhadap lambang dan dasar negara
Foto: public domain
Dugaan penodaan agama
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) melaporkan Rizieq terkait dengan ceramah pemimpin FPI itu yang diduga menodai agama. Rizieq diduga mengatakan: 'Kalau tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?' dalam ceramah di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tanggal 25 Desember 2016. Video rekamannya itu beredar di media sosial.
Foto: picture-alliance/Zuma Press/D. Pohan
Dugaan penyebaran kebencian
Pada bulan yang sama, Desember 2016, ia dilaporkan ke kepolisian oleh Rumah Pelita (forum mahasiswa-pemuda lintas agama) dan Student Peace Institute. Ketua Rumah Pelita Slamet Abidin, yang menyebut isi ceramah Rizieq dinilai bisa memecah belah NKRI dan kerukunan antar-umat beragama. Sementara Direktur Eksekutif SPI, Doddy Abdallah menandaskan: "Kami dari pihak Muslim sendiri tersinggung."
Foto: picture-alliance/dpa/B.Indahono
Dugaan kasus palu arit di lembar uang
Awal 2017, Jaringan Intelektual Muda Anti Fitnah (JIMAF) dan Solidaritas Merah Putih (Solmet) melaporkan Rizieq Shihab terkait ceramahnya yang menyatakan bahwa uang kertas terbitan Bank Indonesia berlogo palu arit. Isu tersebut viral di media sosial dan dianggap menghasut masyarakat. Bank Indonesia menjelaskan gambar itu merupakan logo BI yang dijadikan sebagai salah satu fitur pengaman uang.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Dugaan penyebaran konten berbau pornografi
Aliansi Mahasiswa Anti Pornografi ke polisi, melaporkan penyebaran konten berbau pornografi yang diduga merupakan percakapan via whatsapp antara Rizieq Shihab dengan seorang perempuan bernama Firza Hussein. (Ed:ap/tempo/kompas)
Foto: picture-alliance/dpa/W. Kastl
6 foto1 | 6
Propaganda digaungkan ‘haters‘
Apa yang dipropagandakan oleh pembenci Jokowi bahwa ia adalah seorang presiden yang anti-ulama yang suka "mengkriminalkan” mereka sama sekali tidak benar, tidak valid, dan tidak akurat, jauh dari fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
Ungkapan "kriminalisasi ulama” itu hanya omong kosong belaka untuk mengelabui dan menipu masyarakat awam yang bertujuan untuk menggiring opini dan sentimen kebencian publik terhadap Presiden Jokowi.
Targetnya tentu saja agar publik Muslim kelak tidak memilih Jokowi yang mereka nilai anti atau pembenci ulama. Bau politik di balik kampanye "Jokowi anti-ulama” itu sangat kental dan menyengat.
Menciptakan citra negatif atas Jokowi adalah bagian dari strategi, taktik, dan kampanye hitam yang mereka lakukan guna mendulang suara dan dukungan sebagian masyarakat, khususnya masyarakat yang kuper, miskin wawasan, Muslim fanatik buta, dan antipati terhadap Jokowi.
Cara-cara kotor dan fitnah itu mereka tempuh karena memang mereka tidak memiliki celah untuk mengkritik kepemimpinan Jokowi.
Mereka dengan brutal melakukan propaganda hitam itu juga lantaran selama kepemimpinan Jokowi, mereka tidak mendapatkan jatah kue kekuasaan, disamping kekhawatiran hilangnya pengaruh kaum Islamis dan kelompok Islam radikal di masyarakat.
Masyarakat yang cerdas tentu saja tidak akan mudah terpengaruh oleh propaganda murahan seperti ini.
Tahun 2017 ditandai dengan dinamika politik pasca Pilkada DKI Jakarta dan wara wiri seputar Setya Novanto dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Tapi apa saja yang termasuk peristiwa besar di Indonesia sepanjang 2017?
Foto: Getty Images/E. Wray
Terbakarnya Zahro Express
MV Zahro Express, perahu wisata yang membawa 184 orang terbakar saat perjalanan ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, Jakarta. Insiden pada malam pergantian tahun ini menewaskan setidaknya 23 orang tewas dan menyebabkan 17 orang hilang.
Foto: Reuters/D.Whiteside
Pembekuan Kerjasama Militer Australia
Secara sepihak TNI membekukan kerjasama pendidikan dengan militer Australia setelah seorang prajurit menemukan buku latihan yang menghina Pancasila. PM Malcolm Turnbull segera meminta maaf kepada Presiden Joko Widodo dan berjanji menindak pihak yang menyusun buku tersebut.
Foto: Reuters/J. Reed
Pilkada DKI Jakarta
Pilkada DKI 2017 ditandai dengan maraknya peredaran berita hoax dan ujaran kebencian di media-media sosial. Pemerintah akhirnya menggandeng penyedia jasa media sosial dan menindak kelompok yang terbukti menjajakan kabar bohong sebagai komoditas politik. Pilkada DKI sendiri dimenangkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dengan perolehan 57.96% suara.
Foto: Getty Images/AFP/G. Chai Hin
Vonis Penjara Ahok
Setelah takluk pada Pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama divonis dua tahun penjara pada 9 Mei 2017 setelah dinyatakan bersalah dalam kasus penodaan agama. Dia sebelumnya mengritik penggunaan Al-Quran untuk kepentingan politik Pilkada yang mengundang aksi protes kelompok muslim garis keras. Ahok kemudian menolak mengajukan banding dan menerima vonis yang ditengarai sarat politik tersebut
Foto: Reuters/B. Ismoyo
Seribu Lilin buat Pancasila
Pada hari-hari setelah pembacaan vonis Ahok, jutaan orang di seluruh Indonesia menyalakan lilin sebagai tanda simpati. Selain menuntut pembebasan bekas gubernur itu, demonstran juga menyatakan kesetiaan pada Pancasila sebagai buntut maraknya intoleransi pada Pilkada DKI Jakarta.
Foto: picture-alliance/NurPhoto/D. Roszandi
Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia
Organisasi Islam radikal, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menjadi sasaran pertama Perppu Ormas yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo untuk membubarkan organisasi yang dianggap merongrong Pancasila. Namun HTI tidak tinggal diam dan melancarkan perlawanan hukum untuk menghadang niat Jokowi tersebut.
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
Rizieq Shihab Melarikan Diri
Pentolan Front Pembela Islam, Rizieq Syihab terbang ke Arab Saudi setelah mampir ke Malaysia seusai umrah. Ia diduga melarikan diri untuk menghindari penjemputan paksa Polisi yang mengajukan red notice ke Interpol. Menurut kuasa hukum Rizieq, Sugito Atmo Pawiro, Arab Saudi dipilih karena berada di luar ranah Interpol sehingga kliennya bisa terhindar dari penangkapan.
Foto: picture-alliance/dpa/B. Indahono
Raib Duit First Travel
Kasus dugaan penggelapan uang sekitar 60.000 calon jamaah umrah dan haji First Travel menjadi salah satu peristiwa yang paling hangat selama 2017. Anniesa Hasibuan, perancang yang pernah tampil di New York Fashion Week, dituding menggelapkan dana jemaah senilai 550 milyar Rupiah. Hingga kini kedua tersangka, Annisa dan suaminya Andika Surachman mengaku tidak mengetahui kemana raibnya uang tersebut
Foto: Imago/Pacific Press Agency
Kunjungan Raja Salman
Jarang Indonesia mengalami kunjungan kenegaraan yang sedemikian mewah seperti saat Raja Salman bertandang ke Jakarta. Kunjungannya tersebut merupakan lawatan pertama kepala negara Arab Saudi selama hampir 50 tahun. Raja Salman tidak hanya melakukan pertemuan resmi dengan Presiden Joko Widodo, tetapi juga menikmati liburan selama lima hari di pulau Bali.
Foto: Getty Images/AFP/B. Ismoyo
Pelantikan Gubernur DKI Jakarta
Setelah berhasil merebut kursi DKI 1 lewat Pilkada yang ditandai dengan maraknya intoleransi dan ujaran kebencian, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dilantik di Istana Negara pada 16 Oktober 2017. Pelantikan sempat ditandai kontroversi seputar pidato pribumi Anies Baswedan yang dinilai bernuansa SARA.
Foto: Reuters/Beawiharta
Drama Setya Novanto
Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya menangkap Ketua DPR Setya Novanto atas dugaan korupsi proyek eKTP. Ia sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit setelah mengalami tabrakan. Namun tim dokter menyatakan Setnov sehat dan bisa menjalani proses pengadilan.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Wara Wiri Gatot Nurmantyo
Manuver politik Panglima TNI Gatot Nurmantyo seputar pembantaian 1965 dan kedekatannya dengan kelompok Islam konservatif kian menyudutkan Presiden Joko Widodo. Ia ditengarai memiliki ambisi dalam Pemilu Kepresidenan 2019. Pada Desember Jokowi mencopot Gatot lebih dini dan menggantinya dengan Marsekal Hadi Tjahjanto.
Foto: Reuters/Beawiharta
Erupsi Gunung Agung
Setelah sempat bergolak selama berpekan-pekan, Gunung Agung akhirnya meletus dan memaksa 100.000 penduduk mengungsi dari tempat tinggalnya. Akibat erupsi tersebut, geliat pariwisata Bali menyusut tajam. Terutama penutupan bandar udara I Gusti Ngurah Rai membuat sektor pariwisata di pulau dewata itu mengalami kerugian hingga 234 milyar Rupiah per hari.
Foto: picture-alliance/dpa/F. Lisnawati
13 foto1 | 13
Demikian pula, masyarakat yang berpikiran dewasa akan dengan mudah menilai hubungan baik Presiden Jokowi sebagai representasi umaro atau pemimpin politik dengan para "pemimpin agama”, apapun namanya: ulama, kiai, ajengan, tuan guru, dan lainnya.
Hanya orang-orang yang hatinya penuh dengan kedengkian, kebencian, dan keangkaramurkaan saja yang menganggap Presiden Jokowi sebagai sosok pemimpin yang anti terhadap ulama.
Dipilihnya Kiai Ma'ruf Amin sebagai cawapres-nya untuk Pilpres 2019 nanti juga menunjukkan bukti untuk kesekian kalinya bahwa Presiden Jokowi bukan sosok yang antipati terhadap ulama. Semoga bermanfaat.
Sumanto Al Qurtuby adalah anggota dewan pendiri Nusantara Kita Foundation dan Presiden Nusantara Institute. Ia juga Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi. Ia pernah menjadi fellow dan senior scholar di berbagai universitas seperti National University of Singapore, Kyoto University, University of Notre Dame, dan University of Oxdord. Ia memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University, Amerika Serikat, di bidang Antropologi Budaya, khususnya Antropologi Politik dan Agama. Ia telah menulis lebih dari 20 buku, ratusan artikel ilmiah, dan ribuan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Bukunya yang berjudul Religious Violence and Conciliation in Indonesia diterbitkan oleh Routledge (London & New York) pada 2016. Manuskrip bukunya yang lain, berjudul Saudi Arabia and Indonesian Networks: Migration, Education and Islam, akan diterbitkan oleh I.B. Tauris (London & New York) bekerja sama dengan Muhammad Alagil Arabia-Asia Chair, Asia Research Institute, National University of Singapore.
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
Bagaimana komentar Anda atas opini di atas? Silakan tulis dalam kolom komentar di bawah ini.
Perang dingin di media sosial, berangkat dengan semangat ke tempat pemungutan suara, penghitungan cepat, pemilu kali ini tampak berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Lebih membuat penasaran dan dinanti.
Foto: Reuters
Tokoh bertolak belakang
Yang satu dari dunia militer, yang satunya lagi dulunya pengusaha mebel. Ketika nama Joko Widodo dicalonkan PDI Perjuangan, ia diduga akan bisa menang mudah. Namun dalam jajak-jajak terakhir, perbandingan suaranya dengan Prabowo Subianto terus mendekat.
Foto: ROMEO GACAD/AFP/Getty Images
Sebelum hari H
Media sosial jadi bulan-bulanan curahan hati para pendukung capres. Tak sekedar menyatakan dukungan, tak jarang pendukung berkampanye hitam, atau sekedar menumpahkan kekesalan terhadap pendukung lain. Perang antar pendukung bisa dilihat setiap hari terjadi di sosmed dalam bulan-bulan terakhir.
Foto: Twitter
Hari yang dinanti pun tiba
Sejak pagi hari jelang pemilu, petugas pemilihan duduk dekat kotak suara di tempat pemungutan suara di samping jalur kereta api, kawasan kumuh Jakarta.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Datang ke TPS
Akhirnya tiba juga hari yang dinanti. Pemilih menyalurkan suara mereka untuk calon yang mereka dukung. Setelah saling perang di sosial media gara-gara beda dukungan capres, apakah dalam kehidupan nyata mereka kembali berteman?
Foto: Reuters
'Nyoblos'
Sambil menggendong bocah, seorang ibu memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara TPS, Menteng, Jakarta Pusat, dimana Joko Widodo dan istrinya Iriana juga memberikan suara.
Foto: Reuters
Pesta demokrasi
Dari Sabang sampai Merauke, mendapat kesempatan untuk menyalurkan suara mereka. Demikian pula dengan pemilih di mancanegara yang sudah terlebih dahulu memberikan suaranya, baik secara langsung maupun lewat pos.