1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jokowi Lagi-Lagi Mengeluh Sering Dituduh Dukung PKI

30 Maret 2019

Dalam debat capres soal ideologi, Jokowi lagi-lagi mengeluh sering dituduh PKI. Sedang Prabowo mengeluh difitnah seolah-olah dia mendukung khilafah. Ini tidak masuk akal, sanggahnya.

Indonesien | TV-Debatte der Präsidentschaftskandidaten Widodo und Subianto
Foto: Reuters/W. Kurniawan

Memasuki debat soal ideologi, Prabowo dan Jokowi sama-sama mengeluh soal tuduhan dan fitnah. Prabowo mengatakan dia percaya bahwa Jokowi pancasilais dan patriot. Tapi dia sendiri malah sering dituduh tidak pancasialis.

"Ada yang melontarkan hal yang tidak tepat kepada saya. Seolah saya mendukung khilafah, melarang tahlilan dan sebagainya. Ini tidak masuk akal," kata Prabowo ke arah Jokowi.

Jokowi kemudian mengatakan dia juga percaya bahwa Prabowo pun pancasilais dan patriot. Lalu Jokowi lagi-lagi mengeluh sering dituduh PKI dan sering difitnah.

"Masalah tuduh menuduh, saya kan juga banyak dituduh... 4,5 tahun ini saya dituduh 'Pak Jokowi PKI', ada yang nuduh seperti itu. Saya biasa-biasa saja," tukas Jokowi.

Mengenai bagaimana membangkitkan pemahaman mengenai ideologi Pancasila, kedua calon presiden sama-sama menekankan pentingnya pendidikan dan edukasi.

"Pancasila adalah kesepakatan dari berbagai daerah dan organisasi, sejarah mengenai Pancasila, bangunnya Pancasila, ini harus diberikan dalam pendidikan anak2 kita sejak dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, universitas. Tapi yang paling penting adalah memberikan pendidikan Pancasila dalam berkehidupan," papar Joko Widodo.

Dia menambahkan: "Anak-anak harus diberitahu bagaimana bertoleransi, karena kita ini berbeda-beda agama... Ini harus kekinian, bisa dilakukan lewat visual yang ada di instragram".

Prabowo menyampaikan hal yang sama: "Pancasila ini walaupun kita tidak mau pakai penggunaan indoktrinasi, harus kita masukan dalam pendidikan dari usia dini, TK sampai SMA, dalam pendidikan dan kurikulum, baru kita mencapai kesepahaman universal."

Prabowo juga juga mengatakan, seorang pemimpin harus memberi contoh menyejukkan. "Pemimpin tidak boleh memandang agama dan ras. Tidak memecah-belah dan cari perbedaan", tandasnya. (hp/vlz)

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait