1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialCina

Jumlah Eksil Tibet Menurun Seiring Menguatnya Kontrol Cina

Saransh Sehgal di Dharamsala, India
21 Mei 2026

Jumlah warga Tibet yang mencari pengasingan menurun, seiring pelarian dari Tibet yang dikuasai Beijing makin sulit dan berbahaya. Penurunan ini memunculkan kekhawatiran atas masa depan budaya Tibet.

Seorang biksu melintasi deretan batu doa Tibet usai hujan.
Keberlangsungan Tibet di Dharamsala juga bergantung pada kepemimpinan pasca Dalai LamaFoto: Saransh Sehgal/DW

Selama beberapa dekade, gelombang warga Tibet yang pergi ke India dan Nepal, telah menjadi salah satu barometer yang menggambarkan situasi di wilayah Tibet.

Sejak akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an, ada ribuan warga Tibet yang memilih menjadi eksil. Alasannya, mereka merasakan tekanan politik dan budaya dalam kehidupan sehari-hari di bawah pemerintahan Cina

Namun kini, data dari Central Tibetan Administration di Dharamsala, pusat pemerintahan de facto warga Tibet di pengasingan sekaligus tempat tinggal Dalai Lama ke-14, menunjukkan penurunan drastis jumlah warga Tibet yang baru tiba.

Pada 1995-1999 ada lebih dari 12 ribu warga Tibet yang berhasil hidup dalam eksil. Dalam lima tahun terakhir, jumlah itu merosot menjadi 81 orang.

Penurunan jumlah eksil Tibet itu dikhawatirkan membuat kebijakan yang diterapkan Beijing untuk kawasan tersebut akan lebih sulit dipantau secara independen. Beijing dikhawatirkan semakin leluasa menentukan kebijakan soal kehidupan beragama, bahasa lokal, hingga relokasi warga di pedesaan. Terlebih Beijing tengah gencar mempromosikan narasinya sendiri mengenai pembangunan dan stabilitas di Tibet.

Lobsang, pria paruh baya yang meninggalkan Tibet pada 2010, mengatakan menurunnya jumlah warga Tibet yang hidup dalam eksil terjadi seiring semakin ketatnya kontrol Cina.

“Sejak 2008, ada transformasi besar dalam sektor keamanan di Tibet,” kata Lobsang kepada DW.

“Yang kita lihat sekarang adalah pengawasan berteknologi tinggi, di mana setiap desa, biara, dan rumah dipantau. Untuk mencapai perbatasan kini nyaris mustahil bagi warga Tibet biasa,” lanjut Lobsang. 

Cina semakin memperkuat pengawasan di kawasan perbatasan HimalayaFoto: Zhang Rufeng/picture alliance

Pembangunan dan kontrol Cina

Penurunan jumlah eksil Tibet paling tajam terjadi setelah gelombang protes besar pada 2008 di berbagai wilayah Tibet menjelang Olimpiade Musim Panas Beijing. Aksi tersebut menimbulkan strategi keamanan baru dari otoritas Cina.

Pada tahun-tahun berikutnya, Beijing memperluas pengawasan kepolisian, sistem pemantauan digital, dan penjagaan perbatasan di seluruh Dataran Tinggi Tibet.

Di sisi lain, otoritas Cina mengeklaim bahwa kebijakan mereka di Tibet telah meningkatkan taraf hidup, memperluas infrastruktur, dan mengurangi kemiskinan sehingga semakin sedikit warga yang memilih meninggalkan wilayah tersebut.

Pemerintah Cina telah menggelontorkan investasi besar untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan kota, dan layanan publik di kawasan Tibet. 

“Semakin banyak generasi muda Tibet bermigrasi ke kota-kota besar di Cina dan berusaha memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Cina,” kata Atul Kumar, peneliti program studi strategis di lembaga pemikir Observer Research Foundation yang berbasis di New Delhi.

Para pengamat mengakui kondisi sosial ekonomi di banyak wilayah Tibet memang berubah signifikan dalam dua dekade terakhir, meski kontrol politik di Tibet dan Xinjiang juga semakin ketat.

Di tengah perkembangan tersebut, Amnesty International dan Human Rights Watch rutin mencatat peningkatan berbagai kasus pembatasan kebebasan aktivitas keagamaan dan komunikasi di wilayah Tibet yang terjadi beriringan dengan pembangunan yang didukung Beijing.

Nepal semakin mendekat ke Cina

Selain perubahan situasi di dalam Tibet, pergeseran geopolitik Nepal turut memengaruhi jumlah warga Tibet yang hidup dalam eksil, kata Atul Kumar dari Observer Research Foundation.

Contohnya, dulu, jalur pegunungan Himalaya di perbatasan Tibet-Nepal menjadi rute kunci bagi warga Tibet yang hendak menuju India. Kesepakatan soal rute tersebut adalah hasil kesepakatan Nepal dengan UNHCR. 

Namun, seiring peningkatan pengaruh ekonomi dan geopolitik Cina di Nepal melalui Belt and Road Initiative, Nepal semakin menyelaraskan kebijakan perbatasannya dengan kepentingan Beijing.

Otoritas Nepal berulang kali menegaskan bahwa mereka menghormati kebijakan “Satu Cina” dan tidak mengizinkan aktivitas politik yang dianggap “anti-Cina” di wilayah mereka.

“Sekarang, melintasi perbatasan rasanya jauh lebih sulit dibanding 20 tahun lalu. Sejak 2008, Beijing memberikan tekanan diplomatik terhadap Kathmandu. Akibatnya, aktivitas pengawasan diperbatasan Cina-Nepal meningkat signifikan,” kata Kumar.

Kumar juga berpendapat bahwa aparat kepolisian perbatasan dan badan keamanan Nepal kini berkolaborasi dalam penggunaan drone, kamera CCTV, serta berbagai metode elektronik lain untuk melacak warga Tibet yang berupaya meninggalkan negaranya. 

“Dampak dari langkah-langkah itu terlihat jelas dalam data sejak 2008,” lanjut Kumar.

Nepal berulang kali membantah tuduhan telah melakukan perlakuan buruk terhadap warga Tibet. Namun, kelompok advokasi hak asasi manusia dan organisasi Tibet di pengasingan menyebut bahwa Nepal semakin membatasi pergerakan warga Tibet dan memperketat pengawasan di kawasan perbatasan Himalaya.

Seorang eksil perempuan Tibet yang meminta identitasnya dirahasiakan, tiba di Nepal beberapa tahun lalu. Ia bercerita kepada DW bahwa, “harga dari pelarian kini berubah dari sekadar risiko fisik menjadi penghapusan latar belakang sosial dan keluarga.”

Beijing juga memperketat pengamanan di perbatasan Tibet-Nepal. Patroli gabungan dan kerja sama keamanan yang semakin erat dengan Kathmandu membuat warga Tibet semakin sulit memasuki India.

Warga Tibet yang berhasil melarikan diri mengatakan akses terhadap jalur yang aman di Pegunungan Himalaya kini semakin berkurang.

Komunitas eksil Tibet turut menghidupi budaya asli TibetFoto: Saransh Sehgal/DW

Masa depan kebudayaan Tibet

Kedatangan eksil Tibet di Dharamsala, kota pegunungan di India, telah memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan sekolah, biara, komunitas, dan kondisi politik pemerintahan.

“Komunitas eksil Tibet bertahan bukan hanya lewat ingatan, tapi juga melalui kontak manusia yang terus terjalin dengan Tibet,” kata seorang akademisi Tibet yang enggan disebut namanya kepada DW.

Penurunan jumlah eksil Tibet terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran terkait usia Dalai Lama serta perdebatan mengenai suksesinya. 

“Tantangan kami adalah tetap relevan bagi generasi di dalam Tibet yang kini tidak lagi bisa kami jangkau secara langsung, dan yang tumbuh dalam realitas sosial serta ekonomi yang sepenuhnya berbeda dari generasi orang tua mereka,” kata Yonten, warga Tibet yang hidup dalam eksil sejak 2004 dan kini menjalankan usaha kecil.

Kumar mengatakan masa depan gerakan Tibet akan sangat bergantung pada kepemimpinan politik serta kemampuan mempertahankan relevansi di kalangan generasi muda Tibet yang lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam eksil.

“Gerakan ini tetap damai dan kuat. Namun, ketidakpastian politik internasional memengaruhi hal ini,” tutur Kumar.

Meski menghadapi berbagai tantangan, komunitas Tibet di wilayah pengasingan terus beradaptasi.

Lembaga kebuadayaan, sekolah, dan organisasi politik di Dharamsala maupun wilayah lain terus berupaya menjaga bahasa, tradisi, dan identitas Tibet di kalangan generasi muda.

“Bagi kami, Dalai Lama tetap menjadi jembatan antara warga Tibet yang masih di dalam Tibet dengan kami yang hidup di luar negeri,” kata Tenzin Pema, perempuan Tibet berusia 20 tahun yang lahir di Dharamsala.

“Selama beliau masih bersama kami, rasa persatuan dan tujuan bersama itu tetap hidup melampaui batas negara,” ujarnya kepada DW.
 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Joan Aurelia Rumengan

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait