Gao Yu dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun oleh pengadilan Beijing, Tuduhannya: "Membocorkan rahasia negara". Perempuan 71 tahun ini dikatakan menyerahkan dokumen strategis kepada kelompok media di luar negeri.
Foto: picture alliance/AP Photo
Iklan
Pengadilan Rakyat Menengah No. 3 Beijing mengumumkan melalui jejaring sosial, Gao Yu "secara ilegal menyuplai rahasia negara kepada warga asing." Gao menolak tuduhan tersebut.
Jurnalis Gao Yu adalah kontributor Deutsche Welle. Ia ditahan polisi di Beijing sejak April 2014 dengan tuduhan menyerahkan dokumen kepada pihak di luar Cina.
Dirjen Deutsche Welle Peter Limbourg mengatakan, ia terkejut dengan vonis tersebut. "Hukuman bagi jurnalis 71 tahun ini menurut pandangan kami tidak memiliki landasan apapun," ujarnya di Berlin.
Sebagai reaksi atas vonis tersebut, Limbourg mengatakan DW akan menghentikan negosiasi kerjasama di bidang teknis dan budaya dengan televisi pusat Cina (CCTV).
"Kami tidak bermaksud menghancurkan jalur komunikasi," tambahnya, tetapi untuk kerjasama yang komprehensif harus ada perubahan positif dari kebijakan pemerintahan Cina mengenai jurnalis yang kritis, blogger dan mereka yang memiliki pandangan berbeda."
Limbourg juga mengatakan, DW akan terus memonitor kasus ini dan melaporkan "tidak hanya nasib Gao Yu tetapi juga perlakuan terhadap mereka yang tengah diadili atau ditahan di Cina dengan tuduhan yang senada."
Organisasi HAM Amnesty International juga telah menyuarakan protesnya terhadap vonis yang dijatuhkan bagi Gao.
Sebuah studi mengungkap, situasi yang dihadapi wartawan masih buruk. Berikut negara-negara yang dianggap berbahaya buat awak pers.
Foto: AFP/Getty Images/P. Baz
"Setengah Bebas" di Indonesia
Di Asia Tenggara, cuma Filipina dan Indonesia saja yang mencatat perkembangan positif dan mendapat status "setengah bebas" dalam kebebasan pers. Namun begitu Indonesia tetap mendapat sorotan lantaran besarnya pengaruh politik terhadap media, serangan dan ancaman terhadap aktivis dan jurnalis di daerah, serta persekusi terhadap minoritas yang dilakukan oleh awak media sendiri.
Foto: picture-alliance/ dpa
Kebebasan Semu di Turki dan Ukraina
Pemberitaan berimbang, keamanan buat wartawan dan minimnya pengaruh negara atas media: Menurut Freedom House, tahun 2013 silam cuma satu dari enam manusia di dunia yang dapat hidup dalam situasi semacam itu. Angka tersebut adalah yang terendah sejak 1986. Di antara negara yang dianggap "tidak bebas" antara lain Turki dan Ukraina.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Serangan Terhadap Kuli Tinta
Turki mencatat serangkain serangan terhadap wartawan. Gökhan Biçici (Gambar) misalnya ditangkap saat protes di lapangan Gezi. Menurut Komiter Perlindungan Jurnalis (CPJ), awal Desember lalu Turki memenjarakan 40 wartawan - jumlah tertinggi di seluruh dunia. Ancaman terbesar buat kebebasan pers adalah pengambil-alihan media-media nasional oleh perusahaan swasta yang dekat dengan pemerintah.
Foto: AFP/Getty Images
Celaka Mengintai buat Suara Kritis
Serangan terhadap jurnalis juga terjadi di Ukraina, terutama selama aksi protes di lapangan Maidan dan okupasi militan pro Rusia di Krimea. Salah satu korban adalah Tetiana Chornovol. Jurnalis perempuan yang kerap memberitakan gaya hidup mewah bekas Presiden Viktor Yanukovich itu dipukuli ketika sedang berkendara di jalan raya. Ia meyakini, Yanukovich adalah dalang di balik serangan tersebut.
Foto: Genya Savilov/AFP/Getty Images
"Berhentilah Berbohong!"
Situasi kritis juga dijumpai di Cina dan Rusia. Kedua pemerintah berupaya mempengaruhi pemberitaan media dan meracik undang-undang buat memberangus suara kritis di dunia maya. Rusia misalnya membredel kantor berita RIA Novosti dan menjadikannya media pemerintah. Sebagian kecil penduduk Rusia pun turun ke jalan, mengusung spanduk bertuliskan, "Berhentilah Berbohong!"
Foto: picture-alliance/dpa
Mata-mata dari Washington
Buat Amerika Serikat, mereka adalah negara dengan kebebasan pers. Namun kebijakan informasi Washington belakangan mulai menuai kecaman. Selain merahasiakan informasi resmi dengan alasan keamanan nasional, pemerintah AS juga kerap memaksa jurnalis membeberkan nara sumber, tulis sebuah studi. Selain itu dinas rahasia dalam negeri AS juga kedapatan menguping pembicaraan telepon seorang jurnalis.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Terseret Kembali ke Era Mubarak
Setelah kejatuhan Presiden Mursi yang dianggap sebagai musuh kebebasan pers, situasi di Mesir pasca kudeta militer 2013 lalu terus memanas. Belasan jurnalis ditangkap, lima meninggal dunia "di tangan militer," tulis Freedom House. Media-media yang kebanyakan tunduk pada rejim militer Kairo membuat pemberitaan berimbang menjadi barang langka di Mesir.
Foto: AFP/Getty Images
Situasi di Mali Membaik
Mali mencatat perkembangan positif. Setelah pemilu kepresidenan dan operasi militer yang sukses menghalau pemberontak Islamis dari sebagian besar wilayah negara, banyak media yang tadinya dibredel kembali beroperasi. Kendati begitu perkembangan baru ini diwarnai oleh pembunuhan dua jurnalis asal Perancis, November 2913 silam.
Foto: AFP/Getty Images
Tren Positif di Kirgistan dan Nepal
Beberapa negara lain yang mengalami perbaikan dalam kebebasan pers adalah Kirgistan, di mana 2013 lalu tercatat lebih sedikit serangan terhadap jurnalis. Nepal yang juga berhasil mengurangi pengaruh politik terhadap media, tetap mencatat serangan dan ancaman terhadap awak pers. Loncatan terbesar dialami oleh Israel yang kini mendapat predikat "bebas" oleh Freedom House.
Foto: AFP/Getty Images
Terburuk di Asia Tengah
Freedom House menggelar studi di 197 negara. Setelah melalui proses penilaian, lembaga bentukan bekas ibu negara AS Eleanor Roosevelt itu memberikan status "bebas", "setengah bebas" dan "tidak bebas" buat masing-masing negara. Peringkat paling bawah didiami oleh Turkmenistan, Uzbekistan dan Belarusia. Sementara peringkat terbaik dimiliki oleh Belanda, Norwegia dan Swedia.
Foto: picture-alliance/dpa
10 foto1 | 10
Berikut cuplikan wawancara dengan DW dengan pengacara Gao, Mo Shaoping.
Deutsche Welle: Bagaimana reaksi Gao Yu, saat vonis dijatuhkan?
Mo Shaoping: Gao Yu mendengarkannya dengan sangat tenang.
Apa ia ingin naik banding?
Ya. Saat meninggalkan gedung pengadilan, Gao Yu menyatakannya secara jelas.
Apakah Anda telah menduga hasil keputusan akan seperti ini?
Ada dua hal yang penting. Pertama, pengadilan menjadikan kasus ini sesuai dengan tuduhan kejaksaan. Yakni: "Membocorkan rahasia negara kepada institusi asing". Menurut hukum Cina, pengadilan bisa menjatuhkan hukumn antara 5 hingga 10 tahun penjara.
Kedua, sebagai pengara Gao Yu, kami tidak bisa menerima keputusan tersebut. Karena pengadilan tidak mengikuti hukum yang ada. Pengadilan hanya boleh menjatuhkan hukuman tersebut, jika sebelumnya ada bukti-bukti lebih kuat yang memberatkan Gao Yu.
Apa arti konkretnya dalam kasus ini?
Vonis ini berdasarkan pengakuan bersalah Gao Yu. Namun, Gao Yu telah menjelaskan bahwa pengakuan ini diberikannya karena berada di bawah tekanan. Polisi mengancam akan menahan anak laki-lakinya.
Interogasi pertamanya berjalan selama lebih dari 1 jam. Pada protokolnya, Gao Yu mengatakan dirinya tidak bersalah. Menurut hukum Cina, bukti yang diperoleh dari hasil penyiksaan dianggap sebagai ilegal dan tidak boleh dijadikan alasan bagi vonis hukuman. Namun, pengadilan tetap menggunakan pengakuan Gao Yu sebagai bukti utama yang mendasari vonis tersebut. Menurut kami ini tidak sesuai hukum yang berlaku.