1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialGlobal

Super Hero Muslim

Rachel Baig12 Januari 2014

Seorang imigran Muslim di Amerika Serikat yang tengah puber, hadir dengan kekuatan ajaib: itu hanya mungkin terjadi dalam komik.

Foto: picture-alliance/dpa/Adrian Alphona/Marvel/Ausschnitt

Kamala Khan adalah remaja Muslim pada umumnya. Sebagai remaja puber dari keluarga imigran Pakistan, ia tengah berada dalam krisis identitas berlapis-lapis.

Untungnya dia memiliki kekuatan superhero dan dapat berubah bentuk. Kenapa bisa demikian? Karena Kamala adalah superhero baru dari penerbit komik AS Marvel yang akan dirilis pada bulan Februari sebagai Ms Marvel dalam rangkaian komik baru.

Kamala Khan merupakan kreasi dari editor Marvel, Sana Amanat dan Steve Wacker. Sosok itu lahir setelah Wacker mendengarkan anakdot-anekdot Amanat tentang pengalaman masa kanak-kanaknya sebagai Muslim-Amerika.

Penulis seri komik G. Willow Wilson, antusias dengan proyek itu: “Saya ingin agar Ms. Marvel membawa kita dekat pada realita. Terutama bagi gadis remaja, mereka dapat mengidentifikasikan diri dengan sosok itu," katanya tentang asal-usul karakter tokoh komik Kamala Khan. "Saya sendiri juga menampilkan banyak pengalaman sendiri sebagai seorang remaja."

Superhero dengan tiga identitas

Sebagai gadis berusia 16 tahun dengan latar belakang multikultural, Kamala Khan tidak hanya mengisahkan masalah pubertas, yang terkait dengan norma-norma budaya dan agama.

Saudara lelakinya yang ultra konservatif, misalnya, tidak mengizinkan membawa tradisionalitas dan modernitas campur baur di dalam sebuah rumah.

Selain itu, ada tokoh yang menjadi ibunya, yang kerap cemas, jika putrinya dekat dengan lawan jenis dan kemudian menjadi hamil.

"Berapa banyak anak-anak migran yang merasa terpecah antara dua dunia: Keluarga yang mencintai mereka dan dorongan untuk melakukan hal gila-gilaan pada saat bersamaan. Sementara teman-teman mereka yang tidak benar-benar memahami kehidupan keluarga mereka,“ kata Wilson.

Selain masalah remaja biasa, ada juga masalah yang dihadapi umat Islam di Amerika Serikat saat ini. Sejak tanggal 11 September 2001, mereka harus berjuang menepis prasangka.

Pada sampul komik ini terlihat sosok perempuan muda yang atletis. Dia mengenakan kaus hitam dengan gambar huruf S dan bergaya yang terlihat seperti kilat. Di bawah lengan kirinya terjepit buku, tangan kanan mengepal ke tinju.

Di sekitar lehernya dia memakai kain berwarna-warni. Rambut cokelatnya panjang, dibiarkan terurai.

Menurut Wilson, hal ini mencerminkan fakta bahwa banyak perempuan Muslim Amerika tidak mengenakan jilbab.

"Kamala Khan tidak dirancang begitu provokatif, tetapi lebih sesuai dengan idola remaja di Amerika Serikat, " kata Sabine Schiffer, pakar media di Institut Media di Erlangen .

Komik sebagai refleksi realitas

Kamala Khan meletakkan satu pijakan dalam tradisi komik. "Sudah ada harapan bahwa mereka dapat mencerminkan keragaman dalam masyarakat dan di sisi lain juga menetralkan stereotip," tambah Schiffer.

Andrea Schlosser, seorang ahli studi Amerika dan representasi etnis minoritas di media Amerika Serikat berpendapat bahwa komik adalah refleksi dari realitas.

"Untuk pembaca muda bisa menyimpulkan bahwa seseorang memiliki model identitas," kata Schlosser. "Selanjutnya Anda dapat menarik persamaan dengan realitas sekalipun. Kamala juga bisa menjadi permainan kata-kata dan terkait dengan orang yang nyata seperti Malala Yousafzai, yang dinominasikan tahun lalu untuk Hadiah Nobel Perdamaian."

Kamala Khan bukan pahlawan super pertama yang berjuang melawan stereotip tradisional dan norma-norma gender. Selain Wonder Woman atau Catwoman, seri X -Men juga menekankan peran perempuan.

Penerbit Marvel juga bukan untuk pertama kalinya mencoba menampilkan seorang superhero Muslim. Pada tahun 2002, dihadirkan oleh mereka sosok Sooraya Qadir, di bawah nama kode "Debu“. Tapi tak terlalu berhasil. Pertama, karena ia seorang perempuan, dan perempuan dalam komik yang tetap kurang terwakili, dan dalam masyarakat, ada pandangan bahwa satu adalah seorang perempuan, terutama sebagai seorang Muslim, terpinggirkan, "ujar Schlosser.