1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kampanye Pemilu di Indonesia

30 Maret 2004

Hampir semua pers di Indonesia dalam tajuknya menyoroti soal kampanye dan persiapan pemilu.

Masa kampanye sudah berlangsung dua minggu, dan akan berakhir tanggal 1 April besok. Mulai tanggal 2 April, berlaku masa tenang. Mengenai kampanye pemilu 2004, harian Media Indonesia menulis:

Ada yang mengatakan sesungguhnya pemilu legislatif sendiri telah selesai. Tanggal 5 April tinggal seremoninya saja. Sebab, bagi masyarakat yang paham politik, sesungguhnya mereka sudah bisa menentukan pilihan. Ini yang dimaksud pemilu sudah selesai. Karena itu, ada yang berpendapat kampanye selama tiga minggu dengan kehebohan dan dana luar biasa besar itu hanya acara buang-buang uang. Pendapat ini tidak salah. Tetapi, dalam konteks pendidikan politik, kampanye tetap penting. Terlebih lagi pemilu kali ini selain memilih anggota DPR--baik pusat maupun daerah, juga memilih anggota DPD, Dewan Perwakilan Daerah. Karena itu, pengenalan caleg mutlak perlu. Kampanye yang digelar di tempat-tempat terbuka tetap penting untuk melatih kedewasaan menerima perbedaan. Faktanya, ramalan bakal terjadi bentrok fisik antara para pendukung partai tidak terjadi. Demokrasi memang bukan barang instan. Ia perlu waktu, energi, nalar, biaya, dan kedewasaan.

Satu hal yang dapat dibanggakan dalam masa kampanye kali ini adalah semuanya berlangsung realtif damai. Masing-masing memang berlomba menarik perhatian masyarakat, namun tidak samapi harus mengganggu kelompok lain. Harian Kompas berkomentar:

Tidak seperti masa-masa kampanye pada pemilu sebelumnya, yang selalu menciptakan kesan menyeramkan dan menakutkan, kampanye pemilu kali ini berlangsung damai dan menyenangkan. Masa kampanye lebih terlihat sebagai suasana festival. Bagi kebanyakan masyarakat, masa kampanye dianggap sebagai ajang hiburan. Di beberapa tempat, banyak orang yang keluar dari rumah dan berdiri di pinggir saja untuk menyambut pawai dari para peserta pemilu. Parpol, pendukung, dan masyarakat kita rupanya sudah semakin paham bahwa demokrasi tidak harus selalu diartikan berbeda, apalagi bermusuhan. Itulah yang semula dikhawatirkan. Dengan tingkat pendidikan yang rata-rata masih rendah dan jumlah kelas menengah yang masih minim, demokrasi di Indonesia diperkirakan akan berdarah-darah. Di masa otoriter dulu, keadaan seperti itulah yang sering kali terjadi. Selalu saja ada korban yang harus jatuh ketika masa kampanye berlangsung. Ternyata keadaan sekarang berjalan jauh lebih baik. Dalam demokrasi memang tidak boleh ada kekerasan. Dengan demokrasi, segala perbedaan harus diselesaikan secara terhormat.

Beberapa hari belakangan, banyak pihak khawatir Pemilu akhirnya harus diundur, karena keterlambatan logistik. Namun Komisi Pemilihan Umum dan Pemerintah memutuskan, pemilihan tetap akan dilangsungkan 5 April. Harian Republika menanggapi:

Semua harus realistis dan antisipatif. Karena bisa saja Pemilu tidak bisa dilaksanakan secara serentak. Sampai hari ini pun masih ada beberapa wilayah, terutama wilayah terpencil yang belum mendapatkan kotak suara maupun kartu suara. KPU sendiri kemarin secara kesatria juga mengaku, bahwa mereka tidak mampu menepati jadwal distribusi kartu suara yang menurut undang-undang seharusnya sudah terkirim seluruhnya pada H-10. Dalam masa yang tinggal sepekan ini tidak perlu lagi saling menyalahkan. Upaya saling menyalahkan hanya akan memperumit suasana. Solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi KPU lebih penting. Semua pihak harus berkonsentrasi pada kesuksesan pemilu tanggal 5 April nanti. Kita pun harus ikhlas menerima jika pemilu tak serentak. Tidak perlu mengail di air keruh akibat ketidaktepatan itu. Dan jangan pula ketidakserempakan pemilu itu dijadikan kambing hitam oleh para kontestan, terutama partai yang kalah.