1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Merz Bahas Perdagangan dan Konflik Rusia-Ukraina di Cina

Mark Hallam | Dharvi Vaid | Matt Ford sumber: AFP, dpa, Reuters
26 Februari 2026

Kanselir Jerman Friedrich Merz melakukan kunjungan pertama ke Cina sejak menjabat. Ia membahas defisit perdagangan, perang Rusia-Ukraina, serta konflik Taiwan, bersama Xi Jinping.

Kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz di Cina
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan pernyataan pers setelah pertemuannya dengan Presiden Cina Xi JinpingFoto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance

Kanselir Jerman Friedrich Merz melakukan kunjungan pertamanya ke Cina sejak ia menjabat. Merz mengadakan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang pada Rabu (25/02). Kedua pemimpin menekankan pentingnya memperkuat hubungan bilateral.

Dalam pembicaraan itu, Merz menyebut Cina berencana melakukan pemesanan besar dari Airbus, yang bisa mencapai 120 pesawat. Ia juga menyoroti surplus perdagangan Cina terhadap Jerman, di mana ekspor Cina meningkat secara pesat hampir empat kali lipat sejak 2020. Hal ini menurutnya "tidak sehat”.

Pada Kamis (26/02), Merz dijadwalkan mengunjungi Kota Terlarang di Beijing, menghadiri demonstrasi kendaraan otonom Mercedes, dan melanjutkan perjalanan ke pusat teknologi Hangzhou bersama delegasi bisnisnya.

Perbincangan alot soal perdagangan

Sumber pemerintah Jerman mengatakan kepada Reuters bahwa Merz menyinggung topik ekonomi yang lebih kompleks kepada Perdana Menteri Li.

"Merz membahas pembatasan perdagangan, defisit perdagangan yang meningkat tajam, isu mata uang, dan mineral tanah jarang dalam diskusinya dengan Li,” kata Reuters.

"Ditekankan bahwa Cina juga harus menepati janji jika ingin dipandang sebagai mitra yang patuh pada aturan,” sambungnya.

Ini adalah kunjungan pertama Merz ke Cina sejak ia menjabat sebagai kanselir. Pendahulunya, Olaf Scholz, melakukan kunjungan pada 2024Foto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance

Ucapan tersebut merupakan sindiran ke Amerika Serikat sekaligus Cina, yang belakangan menyebut dirinya sebagai mitra yang dapat diandalkan. Klaim dari Beijing tersebut dipandang sebagai upayanya menonjolkan diri di tengah sikap kebijakan dagang Washington yang kerap berubah dalam beberapa waktu terakhir.

Merz menambahkan, meski sistem politik dan cara pandang soal isu penting berbeda antara kedua negara, Jerman dan Cina tetap dapat bekerja sama di banyak bidang.

"Itu menuntut kesabaran dan dialog,” ujar Merz.

Merz minta Cina menggunakan pengaruhnya untuk akhiri invasi Rusia ke Ukraina

Selain berbicara soal perdagangan, kunjungan Merz kali ini juga membicarakan soal Ukraina. Badan berita resmi Cina, Xinhua, memberitakan tanggapan singkat Xi atas permintaan Merz agar Cina menggunakan pengaruhnya untuk mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.

"Kata-kata dan tindakan Cina sangat diperhatikan di Moskow,” ujar Merz.

Menurut Xinhua, Xi mengatakan kepada Merz bahwa diplomasi adalah "kunci dalam masalah” untuk menghentikan perang dengan keterlibatan terbuka Rusia.

Dalam beberapa kesempatan, baik Rusia maupun Ukraina sempat mengeluhkan bahwa suara dan keluhan mereka tidak didengar atau diperhitungkan dalam berbagai upaya diplomasi selama beberapa tahun terakhir. 

"Oleh karena itu, saya telah meminta Cina untuk menggunakan pengaruh mereka demi mengakhiri perang agresi Rusia terhadap Ukraina,” tambah Merz, sehari setelah konflik di Eropa Timur tersebut memasuki tahun kelima.

Merz juga menegaskan bahwa Cina seharusnya tidak menjual barang-barang "dual use” kepada Rusia, yang bisa digunakan militer terhadap warga Ukraina. Sebagai informasi, barang "dual use” adalah istilah untuk peralatan atau material yang bisa digunakan untuk tujuan sipil maupun militer.

Jerman tetap patuhi "one China” terkait isu Taiwan

Merz juga mengatakan bahwa ia membahas isu Taiwan selama pertemuannya. Ia menegaskan bahwa politik Jerman terhadap Cina tetap tidak berubah. Dengan kata lain, Jerman tetap memegang prinsip "one China”. Artinya, Jerman secara formal mengakui Taiwan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Cina dan tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka.

Sikap ini memperkuat syarat untuk menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Cina. Sebagai konteks, sekutu terpenting Taiwan, AS, bahkan juga mematuhinya.

Namun, Merz juga memperingatkan risiko terkait upaya mengambil Taiwan dengan kekuatan militer. Pasalnya, opsi tersebut masih dipertimbangkan oleh Cina, meski tindakan itu belum pernah ditempuh sebelumnya. 

"Segala upaya reunifikasi atau penyatuan antara Cina dan Taiwan hanya bisa berhasil melalui cara damai dan bukan dengan tindakan militer,” tutup Merz.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina dan Adelia Dinda Sani

Editor: Hani Anggraini

Matt Ford Reporter dan editor DW Sports, spesial meliput sepak bola Eropa, budaya fans, dan politik olahraga.@matt_4d
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait