1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kanselir Jerman Sampaikan Pidato di Knesset

18 Maret 2008

Di parlemen Israel Knesset, di Yerusalem, Kanselir Jerman Angela Merkel hari Selasa (18/03) menyampaikan pidatonya dengan menekankan hubungan khusus antara kedua negara yang berkaitan melalui sejarahnya.

BdT Angela Merkel vor Knesset
Kanselir Jerman Angela Merkel di Knesset, YerusalemFoto: picture-alliance/ dpa

Merkel juga mengutarakan, pembunuhan terhadap orang Yahudi saat pemerintah Nazi Jerman berkuasa tidak boleh dilupakan. Pidato Kanselir Jerman itu merupakan yang pertama bagi pemimpin pemerintahan asing di depan parlemen Knesset. Biasanya pidato hanya disampaikan oleh kepala negara saja.

Kanselir Jerman Angela Merkel berdiri di sebelah Ny. Dalia Itzik, ketua parlemen Israel Knesset. Dengan serius dia mendengarkan lagu kebangsaan Israel, bersama-sama dengan semua anggota parlemen, Presiden Shimon Peres dan sekitar 800 tamu di ruang sidang Knesset. Dan Angela Merkel mengawali pidatonya dalam bahasa Ibrani:

"Saya mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara di hadapan Anda di bangunan yang indah ini. Ini merupakan kehormatan besar bagi saya."

Sebelum Merkel menyampaikan pidatonya, beberapa anggota parlemen mengemukakan alasan, mengapa mereka tidak mau mendengar Bahasa Jerman di Knesset. Kanselir Merkel kemudian menjelaskan bahwa Jerman dan Israel untuk selamanya punya hubungan khusus melalui peristiwa 'Shoah' atau 'Holocaust'. Pembunuhan terhadap sekitar enam juta warga Yahudi disebut Angela Merkel sebagai "pelanggaran peradaban" yang tak ada duanya.

"Shoah memalukan bangsa Jerman. Saya menundukkan kepala di hadapan para korban, di hadapan para korban yang selamat dan bagi semua yang menolong mereka sehingga mereka bisa selamat."

Selanjutnya Merkel mengemukakan, masa depan Jerman dapat dibentuk secara manusiawi hanya jika negaranya selalu bersedia menerima tanggung jawab untuk bencana moral dalam sejarah Jerman. Antisemitisme dan antiwarga asing tidak boleh lagi dibiarkan tumbuh di Jerman dan Eropa. Demikian menurut Merkel.

Dalam pidatonya di Knesset, Kanselir Jerman juga menyinggung masalah Iran dan program nuklirnya. Dia mengutarakan kecemasannya atas ancaman presiden Iran terhadap Israel, namun menegaskan agar masalah yang ada diselesaikan lewat jalan diplomatik.

Selama lawatan tiga harinya di Israel, Kanselir Jerman mengadakan pembicaraan intensif dengan Perdana Menteri Ehud Olmert dan Presiden Shimon Peres mengenai kekhawatiran Israel atas Iran dan program nuklirnya.

Hubungan Jerman-Israel disebutkan Merkel sebagai 'sangat baik' dan hendaknya terus ditingkatkan. Kemudian dia menuntut agar Hamas menghentikan serangan roket Kassam ke Israel, karena itu tidak dapat menyelesaikan konflik Timur Tengah. Namun, mengenai kebijakan permukiman Israel, Merkel lebih menahan diri dengan mengatakan bahwa Israel tidak memerlukan nasihat dari luar yang tidak diminta.

Pidatonya di depan parlemen Israel diakhiri Kanselir Jerman dengan mengutip Perdana Menteri pertama Israel Ben Gurion, yang mengatakan bahwa "Barang siapa yang tidak percaya pada keajaiban bukanlah orang yang realistis."

"Jika pada peringatan 60 tahun berdirinya negara Israel ini kita sekarang menilik hubungan antara Jerman-Israel, maka kita tahu bahwa kalimat dari Ben Gurion terbukti realistis dan benar."

Pada akhir pidatonya, Merkel mengatakan, Jerman tetap akan merupakan mitra dan teman setia Israel. Kemudian dia menutup pidatonya dengan menyampaikan ucapan selamat untuk 60 tahun berdirinya Israel dalam Bahasa Ibrani. Semua anggota parlemen berdiri dan terus bertepuk tangan mengiringi langkah Merkel saat meninggalkan podium di Knesset. (cs)