1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kapal Perang Rusia Bersandar di Jakarta

Sorta Caroline AFP, ANTARA
31 Maret 2026

Kapal perang beserta armada Angkatan Laut Rusia bersandar di Jakarta untuk melakukan latihan bersama dengan AL Indonesia. Kedua negara berupaya menyeimbangkan relasi di tengah polarisasi politik dunia.

Kapal korvet Gromkiy-335 milik Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Maret 2026.
Kapal korvet Gromkiy-335 milik Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Maret 2026.Foto: Bay Ismoyo/AFP

Armada Angkatan Laut beserta Kapal perang Rusia yakni korvet Gromkiy-335 serta kapal selam Petropavlovsk-Kamchatsky B-274 dan kapal tunda laut Andrey Stepanov bersandar di Dermaga IKT Eks Presiden, Tanjung Priok, Selasa (31/03), untuk menggelar latihan bersama dengan AL Indonesia.

Sebelumnya, kapal-kapal tersebut telah tiba di perairan pelabuhan Tanjung Priok pada hari Minggu (29/03).

"Kedua pihak menegaskan hubungan kerja sama di bidang Angkatan Laut yang telah terjalin lama dan berkomitmen untuk terus memperkuat interaksi demi menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia-Pasifik," jelas Kedutaaan Besar Rusia di Jakarta dalam sebuah pernyataan di media sosialnya.

Kapal selam Petropavlovsk-Kamchatsky B-274 milik Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok.Foto: Bay Ismoyo/AFP

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan, kapal-kapal tersebut akan melakukan "latihan bersama dalam hal manuver dan komunikasi."

Kedatangan kapal-kapal tersebut disambut dengan upacara yang dihadiri Panglima Komando Armada III TNI AL, Brigadir Jenderal Dian Suryansyah, dan Wakil Komandan Pasukan dan Angkatan Laut Armada Pasifik Rusia, Laksamana Muda Evgeny Myasoedov.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Tunggul, dalam pernyataannya kepada kompas.com mengatakan selain  passing exercise (latihan taktis) unsur kapal perang TNI AL dengan gugus tugas Rusia, kemitraan ini juga akan digunakan untuk pertukaran teknis dan meningkatkan hubungan profesional antar kedua angkatan laut. Rencananya kapal-kapal tersebut akan meninggalkan perairan Indonesia, 2 April mendatang.

Saling jaga relasi

Jakarta berupaya mempertahankan sikap diplomatik Non-Blok dengan bergabung dengan kelompok ekonomi berkembang BRICS yang mencakup Rusia dan Cina, yang merupakan rival Amerika Serikat.

Namun di waktu yang sama, Presiden Prabowo Subianto turut menandatangani kesepakatan dagang AS dan bergabung dalam Board of Peace (BoP) garapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Prabowo menawarkan untuk mengirim ribuan pasukan penjaga perdamaian untuk Gaza meski menyatakan menolak membayar iuran senilai 1 miliar dolar AS (16,9 triliun rupiah) untuk keanggotaan BoP.

Pekan lalu, Prabowo juga menyebut Indonesia akan menarik diri dari perjanjian dengan Washington atau mitra lainnya jika hal itu mengancam kepentingan nasional. 

Pieter Pandie, peneliti hubungan internasional di Centre for Strategic and International Studies dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AFP menyatakan bahwa kunjungan Rusia tersebut sebagian besar bersifat simbolis.

"Bagi Rusia, ini menunjukkan bahwa masih ada negara-negara yang bersedia berinteraksi dengannya meskipun perang di Ukraina masih berlangsung dan adanya sanksi dari Barat,” jelasnya.

"Bagi Indonesia, motifnya kurang jelas selain sekadar ingin berinteraksi dengan semua mitra di bawah apa yang disebut kebijakan Good Neighbour Policy oleh Prabowo.”

Bukan latihan gabungan perdana dengan Rusia

Ini bukanlah kali pertama Indonesia-Rusia menggelar latihan militer gabungan. Latihan perdana pernah dilakukan pada November 2024 di laut Jawa. Pada Mei 2025, Indonesia menyambut kapal-kapal dari Armada Pasifik Rusia korvet Aldar Tsidenzhapov (339) dan Rezkiy (343), serta kapal tanker Pechenga untuk melakukan latihan bersama menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Selain itu di penghujung 2025, Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Moskow membahas sejumlah kerja sama strategis, termasuk memperluas hubungan militer dan energi serta memperkuat pasokan gandum dari Rusia ke Indonesia.

Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait