1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kapal Senjata Cina Dipulangkan

22 April 2008

Cina akhirnya memulangkan kembali tujuh puluh tujuh ton senjata berikut amunisi yang dikirimkan dengan kapal ke Zimbabwe.

Morgan Tsvangirai
Morgan TsvangiraiFoto: AP

Pemimpin perhimpunan negara-negara berkembang selatan Afrika SADC, Zambia, mengungkapkan ada kekhawatiran bahwa senjata-senjata itu nantinya akan digunakan untuk meluluhlantakan para demonstran yang kecewa dengan hasil pemilu di Zimbabwe bulan Maret lalu.

Sejauh ini, juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina Jiang Yu menampik anggapan bahwa pengiriman senjata itu dilakukan untuk menangkal kekuatan demonstran di Zimbabwe. Kontrak pembelian senjata dari Cina itu, ditandatangani pemerintah Zimbabwe tahun 2007 dan menurut Jiang Yu tidak ada hubungannya dengan sengketa pemilu di Zimbabwe.

Kapal An Yu Jiang itu sempat menancapkan jangkar di pelabuhan Durban di Afrika Selatan. Namun akhirnya meninggalkan pelabuhan itu, setelah dilarang membongkar muatan. Mozambik dan Angola juga menolak memberikan izin bongkar muat.

Penghitungan kembali 23 kursi dari 210 kursi di parlemen, pun mengalami penundaan tanpa alasan yang jelas. Pihak oposisi Gerakan untuk Perubahan Demokrasi MDC, yang memenangkan parlemen, menyatakan penghitungan kembali perolehan suara di parlemen sebagai tindakan ilegal. MDC juga tetap meyakini bahwa mereka memenangkan tak hanya pemilu parlemen, melainkan pula pemilu presidensial yang hingga kini belum diumumkan.

Pimpinan oposisi Zimbabwe Morgan Tsvangirai juga meminta bantuan dari Sekretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa Ban Ki Moon untuk menyelesaikan sengketa. Tsvangirai menegaskan, sudah waktunya mengakhiri kevakuman politik pasca pemilu akhir Maret lalu, yang ditambah lagi dengan semakin memburuknya kondisi kemanusiaan.

“Kami menghadapi krisis kemanusiaan yang serius yang disebabkan oleh adanya aksi kekerasan yang menimpa orang-orang yang terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan di kantor kami.”

Morgan Tsvangirai menyampaikan permohonan itu dalam pertemuannya dengan Sekjen PBB Ban Ki Moon di Ibukota Ghana, Accra. Desakan itu disampaikannya kepada PBB dan juga Uni Afrika, karena menurutnya, usaha penengahan dari perhimpunan negara di kawasan selatan Afrika SADC tidak juga membuahkan hasil.

Menanggapi hal itu, Ban Ki Moon mengatakan: “Ini adalah situasi yang berlanjut. Aksi kekerasan dan polarisasi kekerasan yang tak tercegah. Saya meminta pemimpin negara untuk mengatasinya dengan jalan damai untuk mengakhiri masalah ini. Jalan damai yang dimaksud adalah lewat dialog.”

Sementara itu, perhimpunan negara-negara berkembang selatan Afrika SADC menolak permintaan tokoh oposisi Morgan Tsvangirai yang menyerukan agar posisi Presiden Afrika Selatan Tabo Mbeki sebagai mediator diganti. Tsvangirai menginginkan Presiden Zambia Levy Mwanawase menggantikan posisi Mbeki, karena adanya masukan dari beberapa pendukung oposisi, bahwa Mbeki dekat dengan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe. (ap)