Kepala departemen pemerintah baru Jerman untuk digitalisasi dan modernisasi negara, Karsten Wildberger, disamakan dengan Elon Musk. Namun, seberapa banyak kesamaan mereka?
Karster Wildberger adalah Menteri Digital dan Modernisasi Jerman di Kabinet MerzFoto: Malte Ossowski/SvenSimon/picture alliance
Iklan
Karsten Wildberger sendiri terkejut ketika ditunjuk sebagai menteri digital dan modernisasi di kabinet baru Kanselir Friedrich Merz. Semuanya terjadi "dengan tiba-tiba,” jelas pria berusia 55 tahun ini saat terima jabatan dari pendahulunya, Volker Witting.
Sebenarnya, Wildberger tidak benar-benar memiliki pendahulu, karena Kementerian Digital dan Modernisasi adalah kementerian baru. Semuanya terjadi begitu cepat: seseorang yang independen bukan dari parpol manapun diangkat menjadi menteri, lalu kemudian bergabung sebagai anggota Partai Kristen Demokrat (CDU) yang dipimpin Merz. Wildberger punya kuasa yang signifikan, pasalnya beberapa lingkup kewenangan dari lima kementerian dan satu kantor kanselir berada di bawah komandonya.
Intinya, segala sesuatu yang melibatkan pengelolaan infrastruktur teknologi informasi Jerman kini berada di bawah pengawasan Wildberger - seorang pria yang hingga dua minggu lalu masih bekerja memimpin Ceconomy, sebuah perusahaan ritel internasional yang mengoperasikan toko-toko elektronik di seluruh Eropa.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
DOGE-nya Jerman?
Seperti apa peran Wildberger dalam praktiknya masih belum jelas, tetapi berfokus pada efisiensi dan digitalisasi. Pebisnis yang tiba-tiba menyandang status menteri ini lantas membuatnya dibandingkan dengan Elon Musk yang memimpin Departmen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), satuan tugas yang dibentuk Trump pada masa pemerintahan keduanya.
Niklas Potrafke, direktur Pusat Keuangan Publik dan Ekonomi Politik di institut ekonomi Ifo di München, mengatakan bahwa kesamaan antara Wildberger dan Musk adalah unsur "disrupsi”. "Maksud saya adalah melakukan hal-hal tertentu dengan cara yang berbeda, berpikir dengan cara yang baru,” katanya. "Dan untuk benar-benar mengubah atau ‘mendobrak' hal-hal yang sangat penting - seperti prosedur administratif. Ini adalah aspek-aspek positif yang kami ambil dari Elon Musk.”
Elon Musk dengan gergaji mesin saat Konferensi CPAC 2024Foto: Jose Luis Magana/AP Photo/picture alliance
Namun, Wildberger sepertinya tidak akan begitu saja memecat pegawai pemerintah tanpa proses hukum atau dengan bangga ‘memamerkan' gergaji mesin di atas panggung dalam pertemuan-pertemuan politik. Satu hal, nada bicara Wilberger tidak sekeras Musk: "Tujuan saya adalah menciptakan kondisi optimal bagi Jerman untuk tumbuh sebagai negara digital yang kompetitif dan inovatif,” ujar Wildberger dalam sebuah pernyataan resmi. "Negara perlu (bertransformasi) menjadi lebih modern, efisien, berorientasi pada warga negara, serta memiliki pemerintahan yang berpikir dan bertindak secara digital.”
Mengutip laporan majalah Jerman, Der Spiegel, Wildberger mengatakan bahwa ia akan bekerja dengan "rasa hormat, keingintahuan, tekad, dan kerja sama dalam tim" - secara samar Wilberger menambahkan, sedikit "keuletan yang bersahabat.”
Bahkan ada perbedaan kontras: Musk tidak secara resmi menjadi bagian dari pemerintah, yang berarti dia tidak terikat oleh kompromi-kompromi administrasi sehari-hari. Selain itu, tidak seperti Musk, Wildberger tentu saja akan tunduk pada peraturan privasi data Uni Eropa yang lebih ketat.
Namun, seperti Musk, Wildberger tentu saja memiliki keinginan untuk melucuti peraturan bisnis secara radikal. "Untuk setiap undang-undang, dua undang-undang harus dicabut. Apakah itu mungkin?" katanya pada hari Selasa (13/05), dalam sebuah pidato di pertemuan kelompok lobi Dewan Ekonomi yang berafiliasi dengan CDU. Dan Wilberger sudah memiliki dua undang-undang yang telah dipertimbangkannya secara matang, untuk dicabut: Undang-undang rantai pasokan, yang dirancang untuk melindungi hak asasi manusia dan mencegah perbudakan modern dalam rantai pasokan perusahaan multinasional, dan undang-undang penggunaan energi pada bagunan, yang dimaksudkan untuk membuat sistem pemanas di gedung-gedung baru yang lebih ramah iklim.
Pemerintah federal Jerman yang baru adalah koalisi partai CDU, CSU dan SPD. Para menteri yang terpilih dalam kabinet pimpinan Merz ini tak lain adalah mitra terdekat Kanselir Merz dan pemimpin SPD, Lars Klingbeil.
Foto: Christian Mang/REUTERS
Kanselir: Friedrich Merz (CDU)
Pengacara berusia 69 tahun, Friedrich Merz, akan menghadapi tantangan besar dalam hal kebijakan dalam dan luar negeri. Perekonomian Jerman terpuruk, dan partai sayap kanan AfD terus menguat. Pemimpin CDU ini ingin meningkatkan ekonomi dan membatasi migrasi. Yang utama, dia harus "memperbaiki diri", karena belum pernah ada kanselir yang tidak sepopuler Friedrich Merz.
Foto: Uwe Koch/HMB-Media/IMAGO
Menteri Keuangan: Lars Klingbeil (SPD)
Pemimpin SPD ini tidak hanya mengambil alih Departemen Keuangan tapi juga sebagai wakil kanselir. Hal ini membuat pria berusia 47 tahun ini menjadi tokoh sentral SPD meski hasil pemilihan umum begitu buruk bagi partainya. Klingbeil berlatarbelakang ilmu politik, sosiologi dan sejarah. Ia telah menjadi anggota parlemen sejak 2005. Ini adalah pengalaman pertama Klingbeil di pemerintahan.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Menteri Pertahanan: Boris Pistorius (SPD)
Boris Pistorius adalah satu-satunya menteri petahana dari SPD. Ia 'rutin duduk' peringkat teratas daftar politisi paling populer Jerman. Pria berusia 65 tahun ini telah menjabat menhan sejak Januari 2023 dan memiliki reputasi tinggi di dunia militer Jerman. Pistorius ingin membuat pasukannya “siap berperang” lagi dan direncanakan akan menerima miliaran euro yang diperlukan untuk ini.
Foto: Anna Ross/dpa/picture alliance
Menteri Luar Negeri: Johann Wadephul (CDU)
Johann Wadephul, 62 tahun, telah menjadi anggota Parlemen sejak tahun 2009. Doktor hukum dan mantan tentara ini memiliki koneksi internasional yang baik dan dianggap diplomatis dan pragmatis. Ia memiliki banyak kesamaan dengan Friedrich Merz. Keduanya kemungkinan akan bersama menjalankan kebijakan luar negeri, karena setelah 60 tahun, Kanselir dan Menlu kini kembali dijabat CDU.
Foto: Political-Moments/IMAGO
Menteri Dalam Negeri: Alexander Dobrindt (CSU)
Politisi CSU, Alexander Dobrindt, pernah menjabat sebagai Menteri Transportasi di era Angela Merkel. Sebagai Mendagri, sosiolog berusia 54 tahun ini menginginkan pendekatan yang lebih keras terhadap tema migrasi: pengetatan perbatasan, penangguhan penyatuan kembali keluarga, deportasi ke Suriah dan Afganistan. Ia menentang kewarganegaraan ganda dan persamaan hak bagi pasangan homoseksual.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Ekonomi dan Energi: Katherina Reiche (CDU)
Bagi ahli kimia berusia 51 tahun, Katherina Reiche, ini a merupakan kembalinya ke dunia politik. Ia menjadi anggota Bundestag pada usia 25 tahun. Pada tahun 2015, perempuan asal Jerman Timur 'banting stir' ke dunia bisnis dan menjadi CEO Westenergie AG (E.ON Group). Tahun 2020, ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Hidrogen Nasional, yang memberikan masukan kepada pemerintah Jerman.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Digital dan Modernisasi : Karsten Wildberger
Penunjukkan Karsten Wildberger ini adalah kejutan besar. Dengan gelar doktor di bidang fisika, Wildberger sempat berkarir di posisi kepemimpinan internasional, antara lain di Boston Consulting, T-Mobile dan E.ON. Pria berusia 56 tahun ini adalah direktur MediaMarktSaturn, jaringan retail elektronik terbesar di Eropa.
Foto: Malte Ossowski/SvenSimon/picture alliance
Menteri Tenaga Kerja dan Sosial: Bärbel Bas (SPD)
Bärbel Bas mulai dikenal saat menjabat sebagai Presiden Bundestag pada tahun 2021. Dengan ijazah sekolah menengah dan pelatihan sebagai asisten kantor, jalannya menuju jabatan politik tertinggi tidaklah mudah. Namun wanita berusia 57 tahun dari Duisburg ini gigih dalam kariernya. Kini ia memimpin kementerian dengan anggaran terbesar.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Hukum: Stefanie Hubig (SPD)
Politisi Partai Sosial Demokrat berusia 56 tahun ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Rhineland-Pfalz sejak tahun 2016. Ia adalah doktor hukum dari Frankfurt am Main pernah menjabat sebagai sekretaris negara bagian dari tahun 2014 hingga 2016. Sebelum berkarier di dunia politik, Hubig bekerja sebagai jaksa penuntut umum dan hakim.
Foto: Jürgen Heinrich/IMAGO
Menteri Riset, Teknologi, dan Antariksa: Dorothee Bär (CSU)
Dorothee Bär, 47 tahun, telah menjadi anggota Bundestag Jerman sejak tahun 2002 dan merupakan salah satu wakil ketua fraksi CDU/CSU di Bundestag. Ia telah menjadi salah satu wakil pemimpin partai CSU sejak 2017. Dari tahun 2018 hingga 2021, ia adalah Komisaris Digitalisasi Pemerintah Federal era Merkel. Untuk pertama kalinya, perjalanan luar angkasa menjadi topik dalam sebuah kementerian.
Foto: Emmanuele Contini/IMAGO
Menteri Pendidikan dan Keluarga: Karin Prien (CDU)
Karin Prien dianggap sebagai politisi pendidikan paling terkemuka di CDU. Penasihat hukum berusia 59 tahun ini telah menjadi Menteri Pendidikan di Schleswig-Holstein sejak tahun 2017. Prien dianggap berpendirian teguh dan tidak sungkan dalam berdebat. Ia lahir dan tumbuh besar di Belanda, tempat kakek-neneknya melarikan diri dari Nazi. Bahasa Belanda adalah bahasa ibu Prien.
Foto: Jens Schicke/IMAGO
Menteri Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan Nasional: Reem Alabali-Radovan (SPD)
Ilmuwan politik, putri dari orang tua asal Irak dan lahir di Moskow, Rusia, Radovan adalah satu kejutan dalaf daftar menteri dari SPD. Perempuan Jerman Timur berusia 35 tahun ini sebelumnya menjabat sebagai Komisioner Pemerintah Federal untuk Integrasi dan Anti-Rasisme di Kantor Kanselir. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2021.
Foto: Bernd von Jutrczenka/dpa/picture alliance
Menteri Kesehatan: Nina Warken (CDU)
Perempuan berusia 45 tahun ini sudah menjadi anggota CDU sejak menjadi mahasiswa hukum dan telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2013. Meski sudah lama fokus pada kebijakan-kebijakan negara, kini penasihat hukum ini harus segera membiasakan diri dengan kebijakan kesehatan.
Foto: Arnulf Hettrich/IMAGO
Menteri Pertanian: Alois Rainer (CSU)
“Sekarang kita punya Leberkäs (makanan khas Bayern), bukan tahu” - dengan kalimat ini, pemimpin CSU Markus Söder memperkenalkan Menteri Pertanian Federal Alois Rainer, 60 tahun. Rainer adalah ahli daging profesional yang menjalankan bisnis keluarga dan sebuah penginapan di hutan Bayern. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013, menangani masalah anggaran dan transportasi.
Foto: Christoph Hardt/Geisler-Fotopress/picture alliance
Menteri Transportasi: Patrick Schnieder (CDU)
Sebagai menteri transportasi, Patrick Schnieder akan memiliki sesuatu yang akan membuat rekan-rekannya iri: banyak uang. Sebagian besar dari dana khusus sebesar 500 miliar euro untuk infrastruktur akan dialokasikan untuk rute-rute transportasi yang rusak. Pengacara berusia 56 tahun ini telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2009.
Foto: dts Nachrichtenagentur/IMAGO
Menteri Lingkungan Hidup: Carsten Schneider (SPD)
Sebelumnya, perlindungan lingkungan dan iklim bukan fokus pria berusia 49 tahun ini. Pria asal Thuringia ini adalah seorang bankir, telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 1998 dan dengan cepat dikenal sebagai ahli keuangan dan anggaran untuk fraksinya. Jabatan terakhir yang ia pegang adalah sebagai Komisaris untuk Eropa Timur di Kantor Kanselir.
Perempuan berusia 37 tahun dari Trier ini beralih dari dunia bisnis ke politik. Setelah belajar bisnis, ia mendirikan dan mengelola perusahaan rintisan. Ia masuk ke Bundestag tahun 2021. Ia dianggap bersahaja, penuh semangat dan berorientasi pada hasil - kualitas yang akan ia perlukan di kantor barunya. Krisis perumahan adalah salah satu masalah terbesar di Jerman.
Foto: Harald Tittel/dpa/picture alliance
Kantor Kanselir: Thorsten Frei (CDU)
Pengacara berusia 52 tahun, Thorsten Frei, bisa dibilang orang kepercayaan Friedrich Merz yang paling penting. Dia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013. Sebelumnya adalah seorang politisi di Jerman bagian selatan. Frei memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai topik. Sebagai kepala kantor kanselir, ia harus mengantisipasi dan menyingkirkan masalah dan jebakan bagi Merz sejak dini.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Negara Bidang Kebudayaan dan Media: Wolfram Weimer
Sejarawan berusia 60 tahun dengan gelar doktor ini telah menulis buku-buku non-fiksi seperti "Das konservative Manifest"(“Manifesto Konservatif") dan "Sehnsucht nach Gott" (“Kerinduan akan Tuhan”). Sebelum mendirikan perusahaan penerbitan, ia pernah bekerja sebagai jurnalis di harian FAZ dan Die Welt, menjadi pemimpin redaksi Cicero dan Focus
Foto: -/teutopress/picture alliance
19 foto1 | 19
Regulasi lawan 'disrupsi'
Namun Potrafke mengakui bahwa menempatkan eksekutif bisnis di pemerintahan ada bahayanya: Tentu saja akan menjadi hasil yang buruk jika mantan pebisnis membuat kebijakan, seperti regulasi, yang menguntungkan sektor mereka sendiri," katanya.
"Mereka dapat memperkaya diri, bisa dibilang, karena mereka tahu bahwa suatu hari mereka akan meninggalkan politik dan mendapatkan keuntungan dari perusahaan mereka sendiri," tambahnya.
Kekuasaan Wildberger juga dilindungi oleh sistem federal Jerman, yang berarti pemerintah negara bagian dan pemerintah distrik setempat memiliki otonomi atas layanan publik mereka sendiri.
"Salah satu tugas besarnya adalah membuat aliansi dan menemukan kesamaan dengan negara bagian, karena menteri federal tidak dapat memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan," ujar Lena-Sophie Müller, kepala Initiative D21, sebuah jaringan masyarakat digital yang bekerja sama dengan sektor swasta dan pemerintah.
"Bukan hanya itu: Wilberger memiliki kekuasaan untuk memerintah, tapi apakah ia dapat menjadi pemimpin yang baik, dapatkah ia menyatukan Jerman dan bekerja bersama dalam ‘satu tim'?"
Iklan
Mengapa Wildberger?
Kanselir Merz tidak benar-benar membuat terobosan baru dengan memasukkan direktur perusahaan ke dalam kabinetnya. Pada tahun 1998, Kanselir Sosial Demokrat (SPD) Gerhard Schröder yang baru saja terpilih mengangkat Werner Müller, seorang anggota dewan direksi perusahaan energi raksasa RWE, sebagai menteri ekonominya - mengisyaratkan harapan eksplisit pemerintahannya akan lebih berorientasi pada bisnis.
Sejumlah Kota di AS Geler Protes anti-Musk
01:03
This browser does not support the video element.
Namun tetap saja, penunjukan Wildberger merupakan kejutan bagi banyak orang - bahkan bagi mereka yang mengharapkan pemerintahan Merz untuk membentuk Kementerian Digitalisasi. "Saya yakin semua orang terkejut,” kata Müller dari Initiative D21.
"Saya menelepon beberapa orang di jaringan saya, dan saya bertanya, 'Apakah kalian mengenalnya? Tidak ada yang benar-benar mengenalnya."
Kejutan tambahan adalah kekuasaan khusus yang tidak biasa yang diberikan kepada kementerian Wildberger: Hak veto untuk menolak pengeluaran departemen federal lainnya jika ingin melakukan apa yang disebut pemerintah sebagai "pengeluaran teknologi informasi yang signifikan.” Di Jerman, wewenang kontrol pengeluaran biasanya hanya diberikan kepada Kementerian Keuangan, meskipun dibatasi prinsip yang tercantum dalam konstitusi di mana setiap kementerian memiliki hak untuk memutuskan urusannya sendiri.
"Kontrol pengeluaran ini adalah instrumen yang kuat. Namun Wilberger tidak dapat mengatakan: ‘Anda harus membelanjakannya untuk hal lain,'” ujar Müller. "Kewenangannya terbatas pada hak veto saja."
Müller berharap bahwa dengan jaminan latar belakang bisnisnya, Wildberger dapat mengukur kinerja kementeriannya berdasarkan indikator yang tepat. Müller, yang organisasinya Initiative D21 melakukan survei tahunan mengenai sikap masyarakat terhadap digitalisasi, memiliki saran tersendiri mengenai hal ini.
"Agar ia dapat dikatakan sukses, saya berekspektasi untuk melihat meningkatnya persentase layanan digital,” katanya.
Hal ini dapat tercermin tidak hanya dari seberapa positif orang melihat layanan publik digital - "Jika orang mengatakan, ‘pemerintah benar-benar membuat hidup saya lebih mudah',” seperti yang dikatakan Müller - tetapi juga dari seberapa baik warga negara Jerman mengembangkan keterampilan digitalnya.
"Jika saya melihat tren positif dalam angka-angka tersebut, saya akan menganggap Wilberger telah melakukan sesuatu yang tepat,” ujarnya.
Ini tentu akan menjadi langkah maju yang signifikan di suatu negara yang di mana pembicaraan tentang layanan digital sering kali berubah menjadi lelucon tentang mesin faks, yang masih digunakan banyak perusahaan di Jerman.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris