Kasus Dinas Rahasia Jerman di Irak
1 Maret 2006
Dalam laporan terbaru, dipublikasikan contoh konkrit kerjasama BND dengan militer AS. Disebutkan, dinas rahasia Jerman memasok informasi akurat mengenai posisi pertahanan Saddam Hussein di Bagdad sesaat menjelang perang Irak. Harian Die Welt yang terbit di Berlin menulis, pemerintah Jerman kembali harus memainkan peranan sebagai pihak yang terpojok.
"Harian terkemuka Amerika melaporkan, seorang agen dinas rahasia Jerman BND, meneruskan informasi rencana pertahanan Bagdad kepada militer AS. Kembali harian ini mengutip keterangan dari sumber dinas rahasia AS. Memang pemerintah Jerman membantah keras laporan ttersebut. Akan tetapi Berlin kembali terpojok pada peranan yang tidak disukainnya, yakni sebagai pihak yang membela diri. Memang dinas rahasia kedua negara bersahabat itu selalu bekerjasama. Tapi masalahnya, sejauh mana pentingnya kerjasama pertukaran data keamanan yang relevan semacam itu."
Harian Frankfurter Rundschau yang terbit di Frankfurt berkomentar, pemerintah Jerman sulit untuk menampik tuduhan secara resmi.
"Pemerintah Jerman harus kembali membantah berita keterlibatan dinas rahasianya dalam perang Irak. Akan tetapi pemerintah Jerman tidak dapat, atau mungkin tidak mau, memberikan tanggapan yang jelas mengenai tuduhan itu. Sekarang publik berada pada wilayah percaya atau tidak. Inti persoalannya tetap pada kepercayaan sikap penolakan Jerman bagi perang Irak. Di tatanan politik luar negeri dan di panggung diplomasi dunia, penolakan Jerman sangat berani dan tegas. Kini masalahnya, apakah di belakang kebijakan itu, dinas rahasia Jerman terlalu banyak bergerak sendiri?"
Harian Tageszeitung yang terbit di Berlin berkomentar, dalam saat yang tepat, selalu muncul berita yang memojokan Jerman dalam kaitan perang Irak.
"Dengan dimunculkannya detail baru yang amat peka, hendak ditegasakan, bahwa di saat pemerintahan lama Jerman menolak politik perang Irak dari George W. Bush, di belakang secara diam-diam diberikan dukungan. Jerman bukan anggota koalisi dalam perang Irak tapi ikut bekerjasama. Klasifikasi pemerintah AS itu akan meruntuhkan monumen politik luar negeri anti-perang Irak dari pemerintah koalisi Jerman SPD dan Partai Hijau."
Tema lainnya yang masih disoroti secara kritis oleh harian-harian Eropa adalah konflik atom Iran. Harian Inggris The Independent yang terbit di London berkomentar, dalam sengketa atom Iran diperlukan sikap yang lebih bijaksana.
"Rusia bukan hanya ingin memetik keuntungan ekonomi dari kerjasama nuklir dengan Iran. Lebih jauh lagi, Moskow ingin diakui sebagai faktor penting di panggung diplomasi internasional. Sikap Rusia terhadap Hamas, setelah memenangkan pemilu Palestina, juga harus dipandang dari sudut yang sama. Bagi semua pihak yang terlibat, kini prioritasnya adalah untuk bertindak lebih bijaksana. Yang harus dilakukan adalah membuat kompromi dengan Iran, agar semua merasa menjadi pemenang. Seni diplomasi menuntut, bahwa semua pihak harus bertindak secara diplomatis."
Harian Jerman Handelsblatt yang terbit di Düsseldorf menulis, Teheran akan terus berunding dengan Moskow sebagai satu-satunya strategi mencegah eskalasi.
"Iran tetap akan melanjutkan perundingan dengan Rusia. Akan tetapi dalam waktu bersamaan, Iran juga tetap meyakini posisinya yang amat kuat. Bahkan para perancang taktik di Teheran melihat, posisi Iran dari hari ke hari semakin kuat, seiring dengan semakin gawatnya situasi di Irak dan semakin paniknya reaksi atas naiknya harga minyak. Di Teheran tidak ada lagi yang memperdulikan laporan program atom Iran dari Badan Energi Atom Internasional IAEA. Pokoknya semua berlangsung sama seperti sebelumnya." (set)