Kaum Maois Menangkan Pemilu Nepal
22 April 2008
Para gerilyawan Maois di Nepal tidak lagi harus berperang secara fisik melawan kerajaan dan partai-partai politik mapan. Karena mereka sudah memenangkan pemilihan umum yang demokratis. Pejuang bawah tanah yang sejak lama bertempur, secara mengejutkan menjadi fraksi terkuat di dewan konstituante, walau pun mereka sebenarnya tidak meraih suara mayoritas mutlak dalam pemilihan umum 10 April lalu.
Tapi kini, pemimpin Maois Prachanda merupakan pemenang pemilu dan orang terkuat di Nepal. Prachandra ingin dengan segera mengubah bentuk negara dan mendirikan Republik Nepal. Ia ingin membubarkan kerajaan dan menggulingkan Raja Gyanendra dari kursi kekuasaannya yang absolut.
Prachanda mengatakan, "Saya menantikan sidang pertama Dewan Konstituante dalam waktu sebulan. Dalam sidang tersebut, monarki akan dibubarkan. Koalisi tujuh partai sudah sepakat mengenai hal itu. Ada kemungkinan raja akan mencoba mengganggu proses ini. Jika hal itu terjadi, dia akan dihukum. Dia dapat melanjutkan kegiatannya sebagai warga biasa, tapi harus menghormati hasil keputusan orang banyak.“
Sejak tahun 1995 tentara kerajaan berusaha menumpas gerilyawan Maois dalam perang saudara yang menewasan lebih dari 13 ribu orang. Tiga tahun lalu, Raja Gyanendra memberlakukan keadaan darurat di Nepal. Namun dua tahun lalu, aksi protes massal memaksa raja untuk membuka jalan demokrasi dengan menyelenggarakan Pemilu. Kekuasaan absolut raja mulai pula dicabut. Dan gerilyawan Maois masuk ke panggung politik serta memulai proses perdamaian.
Dewan Konstituante yang dipilih warga Nepal melalui pemilu bertugas untuk tidak hanya menyusun konstitusi, namun juga berfungsi sebagai parlemen peralihan. Mantan gerilyawan Maois ingin memimpin pemerintahan peralihan, seperti yang disepakati Prachanda dan koalisi tujuh partai. Namun partai-partai kecil masih belum sepakat sepenuhnya. Di pihak lain, Prachanda juga ingin menunjukkan diri ke dunia internasional sebagai tokoh demokratis.
Lebih lanjut Prachanda, "Saya ingin menjelaskan bahwa kami berkomitmen untuk perdamaian dan perubahan sistem menjadi republik federal. Kami juga akan berjuang untuk membangun kembali perekonomian. Dan kami ingin memelihara hubungan baik dengan semua negara.“
Amerika Serikat selama ini menetapkan gerilyawan Maois Nepal sebagai organisasi teror. Namun negeri itu sudah mulai mengkaji ulang status tersebut. Mantan presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, yang juga menjadi pengamat pemilu di Nepal, berharap Amerika Serikat mengakui kemenangan Maois dalam pemilu dan membuka hubungan dengan mereka.
Saat ini, mantan gerilyawan Maois berada di bawah tekanan besar untuk menepati janji mereka, yaitu perdamaian, kesejahteraan, hak demokratis dan juga hak bagi warga minoritas. Harapan besar perubahan disandarkan pada mereka.(ls)