1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kaum Sekuler Turki Terisolasi Pasca Percobaan Kudeta

19 Juli 2016

Kegagalan kudeta militer memperkuat praktik islamisasi Turki yang dijalankan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Kini kelompok sekuler Turki kian tersisihkan dan mengkhawatirkan keamanan pribadi.

Türkei Proteste gegen die Regierung in Ankara 05.06.2013
Foto: Reuters

Ketika ribuan pendukung Presiden Recep Tayyip Erdogan membanjiri jalan-jalan protokol di ibukota Ankara, kelompok sekuler Turki membentengi diri di rumah masing-masing. Keberhasilan pemerintah menggagalkan kudeta militer merupakan kemenangan buat kaum mayoritas Muslim.

Kegagalan tersebut juga membuka jalan buat garis kebijakan Erdogan yang cendrung memperkuat gelombang Islamisasi di pemerintahan.

Sebab itu kekhawatiran mulai melanda kelompok sekuler dan moderat di Turki. "Saya saat ini merasa menjadi minoritas," kata Ugur Zaman, pelayan berusia 24 tahun di distrik Tunali, sebuah kawasan yang dipenuhi bar dan restoran di Ankara.

"Pengikut Erdogan sudah seperti sebuah agama," katanya kepada DW. "Dan mereka kini yang memegang kuasa."

Minoritas Terbuang

Ugur Zaman yang gay dan tak beragama menghabiskan akhir pekan lalu untuk berdiskusi dengan teman-temannya soal langkah lanjutan. Banyak yang mulai melamar studi di luar negeri lantaran khawatir Turki kian bergeser menjadi negara agama dengan sistem pemerintahan satu partai.

"Saya dulu merasa kita terus melangkah maju, tapi itu sepuluh tahun lalu," ujar Zaman. "Turki berubah. Kini kebebasan berpendapat mulai dikekang. Kami tidak lagi bisa berdemonstrasi seperti dulu dan saya sekarang mengkhawatirkan keselamatan pribadi."

Pendukung Erdogan berdemonstrasi setelah kudeta militer yang digagalkanFoto: DW/D. Cupolo

Banyak penduduk Turki yang apolitis saat ini merasa tersisihkan dari politik di Ankara. Mereka terutama mengkhawatirkan slogan "Turki Baru" yang dikumandangkan Erdogan setelah kudeta.

Hari-hari ini media sosial di Turki dipenuhi gambar kerusuhan, bahkan pembunuhan terhadap kaum makar. Sejumlah pendukung Erdogan bahkan mulai menyerang jurnalis atau toko-toko yang tidak mengibarkan bendera Turki.

Tirani Mayoritas?

Ziya Trufan, pemilik sebuah bar di Tunali, memastikan bendera Turki bekibar, kendati menggunakan bendera yang menampilkan foto Mustafa Kemal Atatürk, bapak sekulerisme Turki. Dengan cara itu Turfan yang mengklaim diri sebagai muslim moderat, ingin menunjukkan dukungan pada konstitusi sekuler Turki.

"Erdogan bukan musuh kami. Tapi dia mengkawatirkan kami," ujarnya. "Saya mencintai Islam. Tapi bukan dengan cara seperti yang mereka gunakan saat ini. Agaman adalah senjata yang sangat berbahaya. Sebab itu Atatürk memisahkan agama dari negara."

Turfan terpaksa menutup kedainya lantaran khawatir atas situasi keamanan. Situasi serupa dialami Hasan Topuz, pegawai sebuah kedai wine berusia 36 tahun. "Kami menutup toko akhir pekan ini karena ada gerombolan Islamis berpartroli di kawasan ini," ujarnya. "Saya ketakutan."

rzn/hp