Ke India, Menlu AS Marco Rubio Batasi Kemunduran Diplomasi
28 Mei 2026
Kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio ke India pekan lalu berlangsung di tengah merenggangnya hubungan Washington–New Delhi akibat kebijakan "America First” Presiden Donald Trump.
Perselisihan dagang, tarif terhadap ekspor India, hingga tekanan Washington terkait pembelian minyak murah Rusia oleh India memicu kegelisahan politik dan ekonomi di New Delhi. Sejumlah analis menilai hubungan kedua negara kini memasuki fase yang lebih transaksional dan penuh gesekan, berbeda dengan tren penguatan hubungan selama dua dekade terakhir.
Navtej Sarna, mantan duta besar India untuk Amerika Serikat, menilai satu kunjungan diplomatik tidak cukup untuk memperbaiki keretakan kepercayaan yang sudah telanjur dalam.
"Kepercayaan berada di titik merah. Kepentingan kedua negara tidak lagi sepenuhnya sejalan," kata dia kepada DW. Menurutnya, kebijakan dan sikap Washington yang sulit diprediksi merugikan New Delhi, mulai dari perdagangan, energi, hingga imigrasi.
Dia menilai, posisi India dalam strategi global Amerika kini tidak lagi otomatis dianggap penting seperti sebelumnya. "Memulihkan hubungan membutuhkan lebih dari sekadar kunjungan diplomatik. Yang menentukan adalah apa yang benar-benar dilakukan Washington terhadap kepentingan inti India," ujarnya.
Mantan duta besar India lainnya untuk AS, Meera Shankar, menyebut betapa New Delhi mulai mempertanyakan reliabilitas Washington sebagai penjamin stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Keruh akibat Pakistan
Kekhawatiran India juga meningkat setelah Washington membuka kembali komunikasi dengan Pakistan dan Cina sebagai buntut perang melawan Iran. India sendiri tetap berusaha menjaga prinsip "otonomi strategis" dengan mempertahankan hubungan bersama berbagai mitra global.
Mantan Komisaris Tinggi India untuk Pakistan, Ajay Bisaria, mengatakan pendekatan Washington terhadap militer Pakistan setelah pemilu menjadi salah satu sumber iritasi baru bagi India.
"Perkembangan itu tidak luput dari perhatian New Delhi," ujarnya.
Dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar, Rubio membela kebijakan tarif agresif pemerintahan Trump. Menurut dia, langkah itu merupakan upaya Amerika menyeimbangkan neraca perdagangan di seluruh dunia, bukan ditujukan khusus kepada India.
"Presiden tidak berkata: mari kita menciptakan konflik dagang dengan India," ujar Rubio. "Yang ingin dilakukan adalah menyeimbangkan perdagangan AS."
Rubio juga mencoba meredakan ketegangan dengan menyebut kedua negara "hampir” mencapai kesepakatan dagang baru dalam waktu dekat.
Namun bagi banyak pengamat, dalam kunjungannya Rubio tidak mencatatkan terobosan besar, melainkan sekadar mencegah hubungan kedua negara makin memburuk.
"Membatasi kerusakan"
Wakil Presiden bidang studi dan kebijakan luar negeri di lembaga pemikir Observer Research Foundation, Harsh Pant, menilai kunjungan Rubio lebih menyerupai operasi "membatasi kerusakan".
"Kerja sama inti antara India dan Amerika memang tetap berjalan. Tetapi di New Delhi muncul kekhawatiran bahwa kepemimpinan politik AS tidak sepenuhnya berkomitmen terhadap hubungan kedua negara," kata Pant.
Menurut dia, Washington kini berusaha memperbaiki citra dengan mengembalikan hubungan ke jalurnya, setidaknya secara politik dan simbolik.
Ajay Bisaria juga melihat kunjungan itu sebagai upaya menstabilkan hubungan setelah periode penuh ketegangan akibat tarif era Trump. "Ini lebih merupakan sinyal penenangan dan reset taktis ketimbang terobosan dramatis," ujarnya.
Meski demikian, hambatan struktural tetap besar. Washington ingin menjual energi dan mengamankan rantai pasok global, sementara New Delhi ingin mempertahankan akses minyak murah sekaligus menjaga hubungan strategisnya dengan Moskow dan Teheran.
Meera Shankar menilai pembicaraan mengenai perjanjian dagang sementara memang terus berjalan, tetapi ketidakpastian kebijakan tarif Amerika membuat proses negosiasi sulit diprediksi.
"Perubahan hukum dan kebijakan perdagangan di Washington membuat kesepakatan yang stabil dan dapat diprediksi sulit dicapai," katanya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid