Polisi Jerman menangkap pria berusia 72 tahun yang diduga dalang kebakaran di sebuah rumah sakit. Insiden ini menewaskan tiga orang dan melukai puluhan orang lainnya.
Pihak rumah sakit mengatakan pasien yang terkena dampak telah dievakuasiFoto: Steven Hutchings/dpa/picture alliance
Iklan
Seorang pria berusia 72 tahun ditangkap terkait kasus kebakaran di Rumah Sakit Marien, di kota Hamburg, Jerman.
Polisi mengatakan pria itu adalah seorang pasien di rumah sakit tersebut, dan diduga kuat sebagai pelaku dalam insiden yang menewaskan tiga orang dan melukai sedikitnya 34 orang lainnya.
Rencananya, tersangka akan diseret ke pengadilan pada hari Senin (02/06).
“Dalam proses pemeriksaan saksi, muncul indikasi bahwa pasien berusia 72 tahun itu berpotensi kuat sebagai tersangka dalam kebakaran ini,” kata polisi. Mereka juga menambahkan bahwa kondisi kesehatankejiwaan pasien tersebut sedang diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan yang masih berlangsung.
Sebelumnya, pihak berwenang sempat mengatakan 16 orang mengalami luka serius, dan setidaknya satu orang berada dalam kondisi kritis.
Belum diketahui pasti bagaimana kebakaran bermulaFoto: Steven Hutchings/dpa/picture alliance
Api diduga berasal dari departemen perawatan lansia
Kebakaran terjadi tak lama setelah lewat tengah malam. Api dilaporkan berawal di salah satu gedung RS Marien, yang terletak di kawasan Hohenfelde, Hamburg.
Menurut juru bicara dinas pemadam kebakaran, tak lama kemudian asap tebal menyelimuti seluruh lantai gedung.
Menanti Ajal di Rumah
Di Jepang, kebanyakan pasien yang penyakitnya tidak dapat disembuhkan lagi memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit. Tapi tidak sedikit yang lebih suka meninggal di rumah bersama keluarga.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Didamping anjing Rin
Saat Mitsuru Niinuma tahu ia sakit kanker paru-paru dan dalam kondisi kritis, ia memilih untuk menetap di rumah dan tidak meninggal di rumah sakit. Ia bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan cucu dan anjing kesayangnya Rin. "Perawatan di rumah memungkinan pasien untuk hidup senormal mungkin. Di rumah sakit tidak demikian."
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Kamar sendiri
Dinding di kamar tidur Mitsuru dihias dengan puzzle warna warni yang disusun oleh cucunya. Terapis fisik datang secara rutin untuk memijat dan menggerakkan otot-ototnya yang kaku karena hanya terbaring di tempat tidur selama berbulan-bulan.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Demensia semakin buruk di rumah sakit
Yasudo Toyoko tinggal di rumah putrinya di Tokyo. Perempuan 95 tahun ini menderita kanker perut dan demensia. Ia dirawat oleh anaknya yang yakin kondisi ibunya memburuk karena menetap di rumah sakit. Perawatan di rumah termasuk langka di Jepang. Menurut OECD, 80 persen orang Jepang memilih untuk meninggal di rumah sakit.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Daftar tunggu yang panjang
Tidak semua pasien secara sukarela menunggu ajal di rumah. Setelah didiagnosis leukemia, Katsuo Saito memutuskan untuk meninggal di "hospice", perawatan pasien stadium akhir. Tapi daftar tunggunya sangat panjang, sehingga ia harus menunggu beberapa bulan di rumah. Setelah ditransfer ke hospice, dua hari kemudian ia meninggal.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Tidak cukup tempat tidur
Semakin sulit mendapat tempat di rumah sakit dan "hospice" di Jepang. Sekitar 25 persen warga Jepang berusia di atas 65 tahun. Populasi Jepang termasuk yang paling tua di dunia. Pakar kesehatan memperkirakan tahun 2030 Jepang akan kekurangan setengah juta tempat perawatan di rumah sakit.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Biaya rumah sakit mahal
Yasuhiro Sato menderita kanker paru-paru. Ia sebenarnya ingin tinggal di kamar perawatan rumah sakit. Tapi pensiunan ini tidak mampu membayar dan asuransi kesehatan biasanya menolak menggantikan biaya kamar tunggal di rumah sakit. Jadi Sato tinggal di apartemennya di Tokyo. "Orang kaya, seperti politisi atau artis punya uang. Cuman mereka yang mampu," ujarnya.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Dokter berjalan
Dokter Yuu Yasui (kanan) memiliki klinik berjalan yang menyediakan perawatan bagi pasien kondisi terminal yang menetap di rumah. Sejak didirikan tahun 2013, kliniknya telah merawat lebih dari 500 pasien. "Menurut saya penting punya dokter yang medukung pasien yang memilih untuk menanti ajal di rumahnya sendiri," ujarnya.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Mati dalam kesepian
Beberapa pasien dokter Yasui tinggal bersama keluarga atau ada saudara dan teman yang secara rutin menjenguk. Tapi bagi beberapa pasien, jadwal bertemu dokter dan perawat adalah satu-satunya kontak dengan dunia luar. Yusuhiro Sato tidak punya keluarga dekat di Tokyo. Ia hidup seorang diri di apartemennya.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Tidak ingin menjadi beban
"Tidak apa-apa. Saya tidak ingin menjadi beban orang," ujar Yasuhiro. "Saya ingin meninggal sendiri secara tenang." 13 September lalu ia menghembuskan napas terakhir. Di hari itu hanya dokter dan perawat yang berada di sampingnya. Penulis: Mara Bierbach (vlz/ml)
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
9 foto1 | 9
Belum diketahui pasti bagaimana kebakaran ini bermula. Namun, diduga api pertama kali muncul di sebuah ruangan pada departemen perawatan lansia di lantai dasar gedung tersebut.
Petugas darurat pun langsung dikerahkan untuk mengendalikan api dan menyelamatkan orang-orang di dalam rumah sakit.
Api dilaporkan berhasil dipadamkan pada Minggu pagi (02/06)Foto: Steven Hutchings/dpa/picture alliance
Pasien dievakuasi ke rumah sakit lain
Pada dini hari Minggu (01/06), pihak berwenang menyatakan bahwa api telah berhasil dipadamkan. Sementara, pasien-pasien yang berada di gedung yang terdampak telah dievakuasi.
Beberapa pasien yang terluka dirawat di ruang gawat darurat rumah sakit, sementara pasien lain dipindahkan ke rumah sakit terdekat lain.
Artikel ini diadaptasi dari bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Tezar Aditya
Editor: Prita Kusumaputri
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!