1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kebebasan Pers Terpuruk, Demokrasi Dunia Kian Terancam

12 September 2025

Laporan terbaru menunjukkan kondisi demokrasi global yang semakin memprihatinkan. Banyak negara mengalami kemunduran berdasarkan temuan dari laporan tersebut.

Pemilu Parlemen di Senegal
Lebih banyak negara mengalami penurunan demokrasi daripada kemajuan.Foto: Leo Correa/AP/dpa

Tren global menunjukkan bahwa demokrasi di seluruh dunia terus memburuk pada tahun lalu, menurut laporan terbaru.

Laporan Global State of Democracy 2025, yang diterbitkan oleh International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) yang berbasis di Stockholm, menganalisis kinerja demokrasi di 173 negara pada 2024 lalu.

Dalam laporan itu, 94 negara, yakni lebih dari separuh dari jumlah negara yang dianalisis, menunjukkan penurunan dalam setidaknya salah satu indikator demokrasi utama pada kurun waktu 2019 hingga 2024. Sebagai perbandingan, hanya sepertiga negara yang diteliti yang mencatat kemajuan.

"Keadaan demokrasi dunia saat ini sangat mengkhawatirkan,” kata Sekretaris Jenderal IDEA, Kevin Casas-Zamora.

Beberapa penurunan kondisi demokrasi paling signifikan sejak 2019 bisa terlihat dari beberapa faktor seperti penyelenggaraan pemilu yang kredibel, akses terhadap keadilan, dan kehadiran parlemen yang efektif dalam bekerja.

Afrika menyumbang 33% dari penurunan demokrasi global, diikuti Eropa dengan 25%, sementara Asia Barat menjadi kawasan dengan kinerja demokrasi terendah.

Eropa mendominasi peringkat demokrasi

Laporan tersebut juga menyoroti beberapa contoh perkembangan positif selain negara-negara di Eropa, seperti Botswana dan Afrika Selatan, yang terus menunjukkan kemajuan dalam penyelenggaraan pemilu yang kredibel. Pada 2024, kedua negara tersebut menggelar pemilu yang dinilai dapat membawa perubahan historis.

Denmark menjadi satu-satunya negara yang masuk lima besar di keempat kategori demokrasi yang diteliti: Representasi, supremasi hukum, partisipasi, dan hak-hak warga.

Peringkat teratas didominasi negara-negara Eropa seperti Jerman, Swiss, Norwegia, dan Luksemburg. Negara lain seperti Kosta Rika, Cile, dan Australia juga mencatat skor tinggi.

Kebebasan pers alami penurunan terbesar dalam 50 tahun terakhir

"Terjadinya kemerosotan serius dalam kebebasan pers” menjadi temuan penting, kata Kevin Casas-Zamora.

Antara 2019 dan 2024, dunia mencatat penurunan terbesar dalam 50 tahun terakhir.

Kebebasan pers menurun di 43 negara di seluruh benua, termasuk 15 negara di Afrika dan 15 negara lainnya di Eropa.

Jurnalis Palestina Issam Rimawi (kiri) dan koresponden DW News Fanny Facsar diancam dengan senjata dan disemprot gas air mata oleh tentara Israel saat melakukan peliputan di Ramallah.Foto: DW

"Kita belum pernah mengalami penurunan tajam seperti ini dalam indikator utama kesehatan demokrasi,” tambahnya.

Afganistan, Burkina Faso, dan Myanmar, yang sebelumnya memiliki kebebasan pers paling rendah, mencatat penurunan terbesar, disusul oleh Korea Selatan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa terdapat lonjakan kasus pencemaran nama baik negara-negara di Asia yang diajukan oleh pemerintah dan pendukung politiknya terhadap jurnalis, disertai sejumlah laporan penggerebekan rumah jurnalis.

Casas-Zamora menyebut penurunan kebebasan media global disebabkan oleh kombinasi intervensi pemerintah yang keras, dampak adanya pandemi beberapa waktu silam, dan disinformasi yang sangat berdampak negatif.

"Sebagian disinformasi memang terlihat nyata, sementara disinformasi lain dijadikan pemerintah sebagai alasan untuk mengekang kebebasan pers,” ujarnya.

Demokrasi menurun di Amerika Serikat

Laporan ini hanya mencakup data sebelum Presiden AS Donald Trump menjabat pada Januari lalu.

Namun, IDEA menekankan bahwa mereka telah mendokumentasikan sejumlah kebijakan administrasi Trump yang melemahkan dan menghapus aturan, institusi, serta norma yang menjadi fondasi demokrasi Amerika Serikat.

Amerika Serikat menempati peringkat lebih rendah dibanding banyak negara OECD lainnya, yakni 35 untuk representasi dan 32 untuk hak-hak warga. AS hanya menonjol pada kategori partisipasi, menduduki peringkat ke-6.

"Beberapa hal yang kita saksikan selama pemilu akhir tahun lalu dan beberapa bulan pertama 2025 cukup mengkhawatirkan,” kata Casas-Zamora.

"Karena apa yang terjadi di AS bisa berdampak secara global, ini menjadi pertanda yang kurang baik bagi demokrasi di dunia,” tambahnya.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Pratama Indra

Editor: Rahka Susanto

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait