Keberhasilan Referendum Venezuela Karena Lemahnya Oposisi
17 Februari 2009
Dengan 54 persen suara rakyat Venezuela hari Minggu (15/02) lalu menyetujui perubahan konstitusi. Itu berarti Hugo Chávez dapat terus menerus mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Kesempatan berikutnya adalah tahun 2012.
Apa sebenarnya kunci keberhasilan itu? Apakah hal-hal yang dicapai Chávez di segi sosial memang merupakan kenyataan yang dapat dibuktikan atau hanya sebuah mitos belaka? Ilmuwan politik dan pakar ilmu perbandingan pemerintahan di Universitas Rostock, Manuel Paulus mengemukakan pendapatnya: "Angka-angka yang dicapai pasti bukan mitos. Walaupun, kuantitasnya boleh dipertanyakan. Adanya program sosial yang menjangkau masyarakat, itu jelas. Tetapi pada saat bersamaan harus dicatat pula, bahwa program sosial itu hanya dinikmati oleh pendukung pemerintah. Pihak oposisi tidak dibolehkan ikut."
Selain itu menurut Manuel Paulus, sebagian besar dari pihak oposisi masih belum menyadari, mengapa Chávez berhasil menang dalam pemilihan presiden tahun 1998. Walaupun Chávez belum menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi rakyat, tetapi dia menganggap rakyat sederajat dengan dirinya. Itu tidak berhasil dilakukan oleh pihak oposisi. Koalisi 'Anti Chávez' terdiri dari berbagai kelompok dan partai, seperti Gerakan Menuju Sosialisme, Movimiento al Socialismo (MAS) atau kelompok konservatif, Primero Justicia, yang artinya utamakan keadilan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Tentunya cukup mengherankan mengapa pihak oposisi tidak mampu membuat program politik yang menarik dan dapat dipercaya, bagi mayoritas warga Venezuela. Mengapa generasi baru pihak oposisi dipandang sebagai penerus partai-partai yang mendominasi politik Chavez?
Christoph Twickel, seorang penulis pertama biografi Hugo Chávez dalam bahasa Jerman mengatakan: "Kekurangan di pihak oposisi merupakan keberhasilan Chávez. Setelah dekade nihil tahun 90-an Chávez memulai era baru di Amerika Latin. Chávez berhasil menaikkan andil pemerintah dalam pemasukan dari sektor minyak. Itu digunakannya untuk membiayai program sosial, yang sama sekali baru bagi negara itu. Akhir tahun 90-an Chávez ibaratnya Obama di Venezuela, yang merangkul kembali penduduk miskin ke dalam politik. Topik yang ditangani pihak oposisi berbeda. Yaitu korupsi, soal keamanan, dan kurangnya budaya demokrasi. Itu memang juga penting bagi Venezuela, tetapi sebelum Chávez, semua itu pun sudah ada. Masalah-masalah sosial adalah pegangan Chávez, jadi tawaran dari pihak oposisi, lemah. Para lawan Chávez dinilai merupakan orang-orang yang sebelumnya menguasai politik. Hanya saja politik itu mengesampingkan sebagian besar rakyat negara itu. Tetapi lawan Chávez kini juga meraih keberhasilan dengan perolehan 45 persen suara. Itu bukan lagi suara kelompok minoritas."
Dengan kemungkinan bagi Chávez untuk terus menerus mencalonkan diri, apakah artinya demokrasi di Venezuela atau Amerika Latin terancam? Manuel Paulus mengemukakan: "Itu bukan petaka bagi demokrasi. Tidak dikatakan, bahwa Chávez akan memerintah untuk selamanya, tetapi dia dapat terus mencalonkan diri. Hasil referendum itu menunjukkan adanya perpecahan dalam masyarakat. Keseluruhan sistem itu berdiri dan jatuh bersama sang presiden. Itu sudah dibuktikannya. Sekarang, dengan referendum itu sistem pemerintahan di Venezuela masih dapat berjalan bertahun-tahun lagi." (dgl)