1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Tragedi KMP Virgo, Alarm bagi Pelayaran Indonesia

15 September 2026

Tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/09) menambah panjang daftar kecelakaan kapal di Indonesia. Kenapa sulit memitigasi risiko kecelakaan transportasi pelayaran?

Bagian bawah KMP Virgo Transport 8 terlihat di atas permukaan air setelah kapal tersebut terbalik akibat cuaca buruk di Laut Jawa
Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan pada Minggu (13/09)Foto: BASARNAS/AP Photo/picture alliance

Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 diduga sempat mengalami kemiringan dan hilang kontak di perairan Masalembo, Laut Jawa, sebelum tenggelam pada Minggu (13/09) dini hari.

Dilansir dari Detik pada Senin (14/09), sebanyak 114 orang telah ditemukan dalam insiden tersebut. Dari total, 108 orang dinyatakan selamat sementara enam orang meniggal dunia. Sementara 129 penumpang lain masih dalam proses pencarian. 

KMP Virgo tengah menempuh perjalanan dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, saat kecelakaan terjadi. Berdasarkan pernyataan Deputi Operasi Kesiapsiagaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Edy Prakoso, yang dikutip dari Kompas pada Minggu (13/09), kapal sempat mengalami kemiringan setelah dihantam ombak dari sisi lambung kanan. Akibatnya kapal yang berdasarkan data manifes mengangkut 243 orang tersebut terbalik dan tenggelam. 

Basarnas menyatakan bahwa KMP Virgo sempat mengalami kemiringan setelah dihantam ombak dari sisi lambung kanan sebelum terbalik dan tenggelamFoto: Indonesia's National Search and Rescue Agency/Handout/REUTERS

Kecelakaan ini menambah daftar tragedi kecelakaan pada moda transportasi laut sepanjang tahun 2026. Dalam sebuah rapat di DPR pada Rabu (19/08), Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syafi'i menuturkan data penyelamatan terkait kecelekaan kapal di tahun 2026. Ia menyatakan, "Berdasarkan hasil operasi yang kami laksanakan, terhitung mulai bulan Januari sampai 15 Augustus 2026, kami mencatat ada 601 kali operasi search and rescue (SAR) yang dilaksanakan," seperti dilansir dari Kompas. 

Kenapa kecelakaan kapal terus terjadi di Indonesia? 

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam laporan capaian kinerja tahun 2025 yang diluncurkan pada Januari lalu telah melakukan delapan investigasi terhadap insiden kecelakaan pada moda pelayaran. Dari delapan investigasi tersebut, tujuh kejadian dikategorikan sebagai very serious marine casualty. Kecelakaan tersebut di antaranya adalah kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya, KM Barcelona V, dan KM Putri Sakina.  

Dari hasil investigasi, KNKT menyatakan mayoritas kecelakaan yang terjadi dikarenakan akibat adanya "kelemahan sistem manifes penumpang, stabilitas kapal wisata dan tradisional, serta kelemahan dalam pemeriksaan keselamatan kapal oleh pejabat pemeriksa dan auditor Sistem Manajemen Keselamatan (SMK)." 

Sementara Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dilansir dari Detik, pada Senin (14/09) menekankan untuk menunggu investigasi menyeluruh dari KNKT soal penyebab kecelakaan KMP Virgo. Ia juga menuturkan bawa saat insiden terjadi kapal tidak dalam kondisi kelebihan muatan. "Perlu diketahui, KMP Viirgo Transport 8 berlayar dalam kondisi tidak overload. Namun demikian, kita tunggu investigasi menyeluruh dari KNKT untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan kapal tersebut," ungkap Dudy. 

108 orang dinyatakan selamat sementara enam orang meniggal dunia dan129 penumpang lain masih dalam proses pencarian.Foto: REUTERS

Pengamat maritim Marcellus Hakeng juga tidak mau berspekulasi terkait penyebab kecelakaan KMP Virgo. Dari pengalamannya sebagai nahkoda selama 18 tahun, ia menerangkan dua faktor utama yang dapat menyebabkan kecelakaan dalam pelayaran kapal muatan penumpang.  Faktor pertama adalah faktor eksternal terkait cuaca buruk yang sering terjadi di perairan Indonesia. Lalu, faktor kedua adalah faktor internal seperti kondisi kapal dan muatan.  

"Muatan berat terutama kendaraan-kendaraan yang ada di dalam kapal harus di-lashing (diikat) dengan baik. Dalam kasus ini bisa saja kapal semakin miring ke satu sisi akibat pergerakan muatan, ditambah terkena hantaman ombak," jelas Marcel. 

Kesulitan lain yang kerap terjadi dalam pelayaran kapal muatan di Indonesia menurut pengalaman Marcel adalah banyak kendaraan over dimension & overload (ODOL) yang diabaikan dan tetap dimuat dalam kapal. Ia menambahkan bahwa hal ini juga sering luput dari pengawasan nahkoda dan kerap mengganggu stabilitas laju dari kapal dan berpotensi mengancam keselamatan. 

Marcellus menjelaskan ada dua faktor utama yang dapat menyebabkan kecelakaan dalam pelayaran kapal muatan penumpangFoto: Privatarchiv Marcellus Hakeng

Berdasarkan data pemantauan maritim Vessel Traffic, KMP Virgo sudah mulai beroperasi sejak tahun 1987 atau berumur 39 tahun. Namun, bagi Marcel kelaikan kapal untuk berlayar tidak hanya bergantung pada usianya. "Bukan hanya usianya, kelaikan itu bergantung kepada perawatannya yang dilakukan oleh pihak pemilik kapal dan kecapkapan kualitas awak kapal yang ada. Bila dua faktor itu diperhatikan dengan baik maka usia kapal tidak begitu berpengaruh," pungkas Marcel. 

Sementara itu, pakar transportasi laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Setyo Nugroho menekankan terkiat masalah muatan yang menjadi faktor kecelakaan pelayaran terus berulang. Ia menyatakan, "Pola penyebab kecelakan kapal muatan penumpang yang berulang ini 80% disebabkan karena pemuatan yang tidak baik. Artinya setelah dimuat kapal tidak dihitung kembali stabilitasnya. Kita fokus saja dulu pada hal tersebut untuk mengurangi risiko kecelakaan." 

Lebih jauh dosen yang sudah mendalami ilmu transportasi laut sejak 1994 ini menuturkan bahwa regulasi yang ada terkait ketentuan muatan sebenarnya sudah cukup baik. "Regulasinya sudah baik, maka terapkanlah dengan baik. Sedihnya masalah ini terus berulang seperti lagu lama yang diulang terus menerus," ungkap Setyo kepada DW Indonesia. 

Alarm perbaikan menyeluruh keselamatan pelayaran Indonesia 

Pasca-insiden KMP Virgo, melansir dari Kompas pada Minggu (13/09), Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syaiful Huda mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengambil kebijakan radikal dalam menanggulangi rentetan kecelakan laut yang terus berulang. 

"Kita tidak boleh lagi menganggap musibah di laut sekadar 'takdir' atau faktor cuaca semata. Ini adalah akumulasi dari kelalaian sistemik dan lemahnya pengawasan," ungkap politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut. 

Ia juga memberikan tiga langkah darurat yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, menghentikan sementara operasional kapal-kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan khususnya pada rute penyebrangan padat penumpang. Kedua, pemerintah harus mencabut izin operasi secara permanen bagi perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran kapasitas. Ketiga mendesak adanya intergrasi sistem perizinan berlayar dengan data kependudukan untuk memastikan akurasi data penumpang kapal. 

Tidak sedikit angka korban jiwa yang terenggut, akibat sering luputnya mekanisme terkiat pemberian imbauan dari petugas kapal kepada para penumpangFoto: Infuz/AFP

Dari kecelakaan laut yang terus terjadi dan tidak sedikit angka korban jiwa yang terenggut, Marcel menyayangkan sering luputnya mekanisme terkiat pemberian imbauan dari petugas kapal kepada para penumpang.

"Dalam peraturan Menteri Perhubungan jelas mengatakan bahwa anak buah kapal memiliki kewajiban untuk memberikan informasi terkait keselamatan kepada seluruh penumpang. Yang sering terjadi, karena alasan waktu sandar yang sempit mereka melewatkan mekanisme pemberian informasi tersebut," tutur Marcel kepada DW Indonesia. 

Dalam perihal pengawasan muatan, Setyo mendorong agar sistem pelayaran kapal penumpang juga mulai menerapkan pengecekan muatan secara digital. Akademisi dari ITS ini telah megembangkan perangkat digital dengan namaIStow. Sebuah perangkat yang dapat mencatat pengangkutan muatan dan manifes untuk mengukur stabilitas pelayaran sebuah kapal secara digital. Ia juga menegaskan bahwa pelayaran kapal tanker di Indonesia sudah menerapkan mekanisme tersebut dan kapal muatan penumpang dapat mengadaptasinya.  

"Dalam sistem pelayaran Indonesia sebetulnya sudah ada contoh yang baik, yaitu sistem digitalisasi dalam mengukur muatan kapal tanker yang sangat bisa diterapkan juga di kapal penumpang. Di negara seperti Norwegia digitalisasi ini justru dikembangkan dalam semua sistem pelayaran. Sementara banyak kasus di negara berkembang penerapan sistem ini seolah menjadi beban," pungkas Setyo.

*Editor: 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait