1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Kedubes AS Diserang Iran, Trump Janjikan Respons Segera

Timothy Jones | Kate Hairsine sumber: AFP, AP, Reuters, dpa
3 Maret 2026

Kedutaan Besar AS di Riyadh diserang dua drone di tengah gelombang rudal yang menargetkan negara Teluk. Enam personel militer AS dilaporkan tewas. Presiden Donald Trump menyatakan Washington akan segera merespons.

AS Washington D.C. 2026 | Donald Trump kembali ke Gedung Putih setelah serangan terhadap Iran
Presiden AS Donald Trump memperkirakan perang Iran dapat berlangsung dalam hitungan mingguFoto: Nathan Howard/REUTERS

Arab Saudi menyatakan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh terkena serangan dua drone pada Selasa dini hari (4/3). Kementerian Pertahanan Arab Saudi dalam unggahan berbahasa Arab di X menyebut serangan itu menyebabkan “kebakaran terbatas dan sejumlah kerusakan material.”

Saksi yang dikutip kantor berita melaporkan terdengar ledakan keras dan terlihat asap tipis dari kompleks kedutaan. Kedutaan kemudian mengeluarkan pemberitahuan “berlindung di tempat” bagi warga negara Amerika Serikat di Riyadh, Jeddah, dan Dhahran, serta merekomendasikan agar warga Amerika “menghindari Kedutaan hingga pemberitahuan lebih lanjut akibat serangan terhadap fasilitas tersebut.”

Di Kuwait, kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) juga dilaporkan terkena serangan pada Senin dan ditutup. Departemen Luar Negeri memperingatkan warga agar “tidak mendatangi Kedutaan.”

Otoritas Saudi menyatakan serangan ini bagian dari gelombang rudal dan drone yang menargetkan negara negara Teluk sejak Senin malam (3/3). Militer Israel menyebut sedang mencegat “gelombang besar rudal” dari Iran yang menargetkan berbagai lokasi termasuk Yerusalem. Uni Emirat Arab dan Qatar juga melaporkan pencegatan rudal balistik.

Rudal balistik berhasil dicegat di atas wilayah Qatar pada Selasa pagiFoto: Mahmud Hams/AFP

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menambahkan telah “mencegat dan menghancurkan delapan proyektil” di dekat Riyadh dan Al Kharj. Televisi pemerintah Iran, IRIB, menyatakan Iran turut menargetkan Yordania, Kuwait, dan Bahrain.

Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan segera merespons serangan terhadap Kedubes AS di Riyadh serta tewasnya enam personel militer AS akibat serangan Iran.

Dalam wawancara dengan NewsNation pada Senin (3/3), Trump mengatakan, “Anda akan segera tahu” bagaimana AS akan membalas, tanpa merinci langkah yang akan diambil. Ia juga menegaskan tidak “menganggap pengerahan pasukan darat di Iran akan diperlukan.”

Komando Pusat AS pada Senin sore (3/3) mengonfirmasi enam anggota militer tewas.

Serangan ke Iran meluas, selat Hormuz terganggu

Ibu kota Iran, Teheran, kembali digempur serangan udara pada Selasa pagi, menurut laporan media pemerintah.

Laporan lokal menyebut sekitar 12 rudal menghantam kawasan Pardis, pinggiran Teheran. Di media sosial beredar gambar kepulan asap di atas pegunungan Alborz di luar ibu kota.

Kepulan asap kembali terlihat di atas ibu kota Iran pada Selasa pagiFoto: Atta Kenare/AFP

Belum jelas target yang diserang maupun pihak yang melancarkan serangan. Namun militer Israel menyatakan di platform X bahwa mereka “melakukan serangan terarah secara simultan terhadap target militer di Teheran dan Beirut.”

Ledakan juga dilaporkan terjadi di Karaj, dekat Teheran, serta di Isfahan, Iran bagian tengah.

Konflik yang meluas turut mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak, gas, dan pupuk dunia. Jika situasi berlanjut, dampaknya berpotensi menekan perekonomian global.

Suksesi kepemimpinan Iran dipercepat di tengah perang

Majelis Ahli Iran menyatakan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru akan segera dilakukan dan diperkirakan tidak memakan waktu lama. Pernyataan itu disampaikan seorang anggota Majelis Ahli kepada kantor berita ISNA, menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2) di tengah ofensif Amerika Serikat dan Israel.

Majelis Ahli merupakan lembaga ulama yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menunjuk dan memberhentikan pemimpin tertinggi, jabatan politik dan keagamaan tertinggi di Iran yang berada di atas presiden. Sejak Republik Islam Iran berdiri pada 1979 oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, posisi tersebut baru dipegang oleh dua orang.

Di tengah proses suksesi itu, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat menegaskan bahwa pergantian rezim di Iran bukan tujuan konflik. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance menyatakan fokus Washington adalah menghancurkan program nuklir Iran.

Dalam wawancara dengan Fox News, Vance mengatakan bahwa “dalam dunia yang ideal” akan ada pemimpin baru di Teheran yang lebih terbuka bernegosiasi. Namun ia menekankan tujuan Presiden Donald Trump adalah memastikan “rezim teroris Iran tidak membangun bom nuklir.”

“Jelas, presiden dan saya tentu lebih memilih jika Iran dipimpin rezim yang bersahabat … tetapi pada dasarnya, selama kita mencapai tujuan presiden untuk menegaskan bahwa Iran tidak dapat membangun bom, saya pikir presiden akan puas dengan hasilnya,” ujar Vance.

Pernyataan itu muncul meski Trump sebelumnya menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir JCPOA. Dalam pesan terpisah, Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan Anda.”

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Rizki Nugraha