1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Tak Ingin Menonjol: Kehidupan Yahudi Muda di Berlin

27 Januari 2026

Umat Yahudi di Jerman kian dihantui antisemitisme seiring berkecamuknya perang di Gaza. Tidak sedikit yang menyarukan identitas demi keamanan. Bagaimana kaum muda Yahudi di Berlin memitigasi maraknya hasutan kebencian?

Seorang demonstran dengan kippa (penutup kepala yahudi) dalam demonstrasi
Seorang warga Yahudi mengenakan kippa saat berdemonstrasi mendukung Israel di Gerbang Brandenburg, Berlin, Jerman, Oktober 2023.Foto: Stefan Boness/IPON/picture alliance

Dia menyebut dirinya "tidak religius”. Tim Kurockin mengatakan itu dengan nada datar. Dalam situasi Berlin saat ini, ketidakberagamaan itu, menurutnya, justru sebuah "privilese”. Dia tidak mengenakan kippa, penutup kepala Yahudi. Dia juga tidak memakai kalung Bintang Daud. "Saya tidak terlihat sebagai orang Yahudi.”

Pemuda Yahudi berusia 21 tahun itu tiba di Berlin dari kampung halamannya di Bayern tak lama sebelum 7 Oktober 2023, hari ketika Hamas melancarkan serangan ke Israel. Dalam wawancara dengan DW, Tim menjelaskan maksud "privilese” tersebut. Dia memiliki kawan-kawan yang religius — dan "pernah diserang secara fisik karena dikenali sebagai Yahudi”.

Di ibu kota Jerman, dia kuliah di Universitas Hukum dan Ekonomi, Hochschule für Wirtschaft und Recht. Di luar kampus, dia aktif di berbagai organisasi Yahudi, antara lain gerakan Hillel yang menghubungkan mahasiswa Yahudi di seluruh dunia, serta Perhimpunan Mahasiswa Yahudi Jerman (JSUD).

Sangat berhati-hati

Tim mengaku "sangat berhati-hati” ketika beraktivitas di Berlin. Tidak banyak orang yang tahu bahwa dia Yahudi. Namun, katanya, dia juga tidak hidup "sepanjang hari dalam ketakutan”. Pada demonstrasi tertentu, dia memilih memutar arah. Di sana sering terbentang spanduk antisemit dan terdengar teriakan slogan kebencian. Seruan intifada, yang dikenal di Palestina sebagai gerakan perlawanan sipil, baginya adalah seruan pembunuhan terhadap orang Yahudi.

Kehidupan Yahudi di Berlin — terutama di ruang-ruang publik — sudah berada di bawah pengamanan polisi sejak puluhan tahun. Usai serangan Hamas pada akhir 2023, pengamanan itu kian diperketat. Pada perayaan Chanukka di Pariser Platz, dekat Gerbang Brandenburg, Desember lalu, kawasan itu disiapkan menyerupai benteng. Beberapa tahun silam, pejalan kaki masih bisa menyaksikan perayaan dari dekat. Tapi kini, pagar pembatas dipasang jauh, pemeriksaan berlapis, polisi berjaga di atap gedung.

Tragedi Kristallnacht, Gelombang Teror Anti-Yahudi di Jerman

01:15

This browser does not support the video element.

Perubahan lain tampak di depan berbagai institusi Yahudi. Pagar darurat yang mudah dipindahkan dan tak akan menahan kendaraan kini diganti bollard beton berat, dipasang rapat berjajar.

Pengamanan polisi sebenarnya sudah ada sebelum 7 Oktober 2023, hari ketika lebih dari 1.200 warga Israel tewas dan sekitar 250 orang disandera Hamas. Namun penjagaan diperketat seiring berkecamuknya Perang Gaza — yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lembaga PBB, dan banyak organisasi HAM telah menewaskan sedikitnya 70.000 warga Palestina akibat serangan Israel.

Sebagian warga Yahudi di Jerman, seperti Tim Kurockin, mau membuka kehidupan mereka kepada publik. Sebagian lain memilih diam. Ada pula anak muda Yahudi yang mengatakan tak pernah mengalami kebencian secara langsung.

Bagi Kurockin, tanggal 27 Januari — yang menandai hari peringatan korban genosida oleh Nazi Jerman — adalah "hari bagi duka yang jujur”. Namun dia sulit menerima sebagian bentuk peringatan Holocaust di Jerman. "Sering kali cuma unggahan media sosial yang itu-itu saja: tulisan ‘Tidak Lagi' atau foto hitam-putih Auschwitz,” katanya. "Itu tidak cukup. Kalau serius, lakukan sesuatu melawan antisemitisme.”

Dia menunjuk kenyataan politik: di sejumlah wilayah, partai ekstrem kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) berada di posisi kedua, bahkan sempat di peringkat pertama dalam survei nasional. Di saat yang sama, antisemitisme berbasis kebencian terhadap Israel dari kelompok kiri ekstrem juga meningkat. "Antisemitisme tumbuh terus. Politik tidak berbuat cukup.” Menurutnya, dari kalangan kanan konservatif, tembok pembatas terhadap ekstrem kanan makin rapuh. Menguatnya AfD membuat Tim cemas.

Jumlah orang Yahudi di Berlin sulit dipastikan. Komunitas Yahudi Berlin resmi mencatat sekitar 10.000 anggota. Angka sebenarnya jauh lebih besar, apalagi setelah kedatangan pengungsi Yahudi dari Ukraina akibat agresi Rusia. Jumlah warga Israel di Berlin diperkirakan 15.000 hingga 30.000 orang — tanpa data pasti soal tingkat religiositas mereka.

"Cepat jadi kasar”

Lilach Sofer, 20 tahun, kuliah di Potsdam dan tinggal di Berlin. Apakah dia mengalami kebencian atau ancaman? Di media sosial, dia kini jarang menyampaikan pandangan politik. "Kalau menanggapi secara kritis, respons netizen cepat sekali berubah jadi kasar dan menghina,” katanya.

Sofer, anak dari ibu Israel dan ayah Jerman, menekankan bahwa hidup di Berlin pada dasarnya masih "terasa normal”. Dia tidak takut pergi ke kampus. Dia juga kadang berpergian ke kawasan mayoritas pendatang Arab dan Turki seperti Kreuzberg atau Neukölln — dengan satu kehati-hatian: tidak berbicara bahasa Ibrani dengan suara keras. Dengan nada nyaris datar, dia bercerita tentang teman-temannya yang pernah diancam pisau di jalan, dan berhasil meredakan situasi dengan susah payah.

Seperti Kurockin, Sofer menyinggung satu detail simbolik. Dulu dia sesekali memakai kalung Bintang Daud. "Sekarang tidak. Gila rasanya, saat ini, di mana pun di Berlin, memakai kalung Bintang Daud,” ujarnya.

Perasaan terancam yang menjadi bagian keseharian muncul berulang kali dalam percakapan dengan anak muda Yahudi. Kemungkinan ancaman, kata David Gorelik, adalah "pikiran sehari-hari”.

Hidupnya berubah "sangat, sangat” setelah 7 Oktober 2023. Pemuda 21 tahun itu aktif di "Meet a Jew”, proyek Dewan Pusat Yahudi Jerman yang mempertemukan Yahudi dan non-Yahudi. "Aspek keamanan jauh lebih ketat dibanding dulu,” katanya.

Lahir dan besar di Berlin, Gorelik tergabung dalam komunitas Chabad Berlin di Wilmersdorf. Ia belajar pekerjaan sosial Yahudi, sebagian di Erfurt, sebagian di Hochschule für Jüdische Studien Heidelberg. Mungkin, katanya, ia memilih kampus itu karena berada "di dalam bubble yang aman”. Di sana, mengenakan kippa di ruang kuliah bukan masalah.

Berdiri bersama

Setelah Oktober 2023, menyusul maraknya serangan antisemitisme, tak sedikit yang mempertanyakan apakah kehidupan Yahudi di Jerman masih bisa diperjuangkan. Gorelik berbeda pandangan. "Masuk akal. Kegelapan bisa diusir dengan cahaya. Itu yang kami perjuangkan. Dan kami ingin berdiri bersama.”

Dia menekankan bahwa dalam lima tahun terakhir, kehidupan Yahudi di Jerman "tumbuh pesat” dengan "infrastruktur yang sangat baik”. Setiap ibu kota negara bagian kini memiliki sinagoge. Bundeswehr membentuk layanan rohani militer Yahudi. Di Berlin, komunitas Chabad membuka Kampus Yahudi yang sengaja dibuat terbuka bagi masyarakat luas.

Meski dia mengakui lebih berhati-hati berbicara soal Israel atau Timur Tengah, Gorelik memilih menunjukkan keberadaan. Setelah 7 Oktober, dia memutuskan mengenakan tzitzit—umbai religius di sudut pakaian—secara terbuka. "Karena kaum antisemit ingin menekan kami agar bersembunyi.”

Dia pun merasa "Tidak lagi” dalam seremoni resmi kerap kehilangan makna. "Saya rasa anak itu sudah lama jatuh ke sumur,” katanya. Harapannya sederhana: lebih banyak ruang dialog agar orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang Yudaisme bisa bertemu Yahudi secara nyata—melihat kehidupan, kegelisahan, dan keseharian mereka—melawan prasangka.

Satu hal yang bisa membuatnya meninggalkan Jerman dan pindah ke Israel, katanya, bukan antisemitisme, melainkan alasan politik: jika AfD sampai mengajukan kanselir.

"Guncangan itu belum hilang.”

Perubahan cara menghadapi kebencian dan kecemasan juga diamati Andrea von Treuenfeld, jurnalis Berlin yang menulis sejumlah buku tentang kehidupan Yahudi, termasuk kumpulan wawancara Israelis in Berlin nach dem 7. Oktober.

Dia melihat beberapa fase. "Guncangan bulan-bulan pertama—ketika rumah mereka ditandai bintang Daud, mereka diserang di universitas, menyembunyikan nama asli saat memesan Uber, atau restoran Israel dibanjiri ujaran kebencian—guncangan itu belum hilang, tapi mereda,” katanya.

Kini, meski jumlah serangan antisemit meningkat, reaksinya beragam. Banyak Yahudi kembali merasa "relatif aman” dan bergerak tanpa rasa takut di kota. Namun yang lain, berbeda dari sebelum 7 Oktober, "dengan sangat sadar menghindari ruang publik”.

 

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait