Saat Hari Peringatan Holokaus di Israel, sebuah studi terbaru dari Universitas Tel Aviv menunjukkan lonjakan kasus kekerasan berat terhadap orang Yahudi di negara-negara Barat pada tahun 2025.
Monumen untuk mengenang korban tewas dalam penembakan massal selama perayaan Hanukkah pada tahun 2025 di Pantai Bondi, Sydney, Australia.Foto: Jeremy Piper/REUTERS
Iklan
Jumlah korban tewas akibat kekerasan antisemitisme di negara-negara Barat mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025, menurut data yang dihimpun oleh Universitas Tel Aviv.
Laporan yang diterbitkan jelang Hari Peringatan Holocaust Israel pada 14 April menunjukkan bahwa 20 orang Yahudi tewas dalam empat serangan mematikan yang berbeda tahun lalu, angka tertinggi tiga dekade terakhir.
Jika dibandingkan dengan tahun 2022, insiden yang melibatkan kekerasan fisik, tindakan vandalisme terhadap lembaga-lembaga Yahudi, dan ujaran kebencian daring meningkat di semua negara-negara Barat.
Peningkatan ini terjadi setalah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang Israel di Gaza, Lebanon, hingga perang terakhir Israel-AS melawan Iran.
Iklan
Serangan di Pantai Bondi, Australia
Universitas Tel Aviv telah menerbitkan laporannya mengenai kekerasan antisemit sejak tahun 2001, merujuk pada data yang disediakan oleh lembaga penegak hukum, komunitas Yahudi di seluruh dunia, organisasi nonpemerintah, dan organisasi-organisasi lainnya.
Laporan tahun 2026 tersebut juga memuat studi tentang antisemitisme di sektor layanan kesehatan dan analisis metadata terhadap para pelaku yang terdokumentasikan.
Jumlah insiden antisemitisme di Australia meningkat tahun lalu, dari 1.727 pada tahun 2024 menjadi 1.750 pada tahun 2025. Kedua tahun tersebut menandai kenaikan tajam dibandingkan data serupa pada tahun 2022, dengan 472 kasus.
Tren kenaikan kasus antisemitisme yang serupa juga tercatat di Kanada, Inggris, dan Belgia.
Antisemitisme di AS ‘mengkhawatirkan'
Laporan tersebut juga menyoroti Amerika Serikat, tempat tinggal sekitar 6 juta orang Yahudi , yang "menormalisasi retorika antisemitisme dalam wacana politik”, menjadikannya fenomena paling mengkhawatirkan tahun ini.
Selanjutnya, laporan tersebut secara khusus menyoroti Presiden AS Donald Trump yang memiliki hubungan atau kedekatan dengan orang-orang yang dianggap antisemitisme di lingkaran politiknya.
"Mengaitkan masa depan Israel dengan sosok Donald Trump, apalagi membanggakan pengaruh politik atau filantropi Israel terhadapnya, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan berisiko besar,” jelas laporan tersebut merujuk pada komentar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang hubungan dekatnya dengan Trump.
Pemimpin AS dalam laporan tersebut dianggap sebagai ancaman bagi masa depan Amerika Serikat dan demokrasi liberal secara umum. Hal ini dikarenakan Trump sering menggunakan bahasa politik yang provokatif dan merendahkan, yang tidak mengakui bahaya "Rusia yang bersifat fasis,” serta tidak menghormati aturan hukum.
Dukungan bagi Israel, dalam laporan tersebut disebutkan berkurang baik dari kalangan warga AS juga kalangan partai Republik dan Demokrat.
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Pemotongan anggaran pendidikan oleh pemerintah di Jerman, jadi ancaman
Meskipun laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah insiden yang terjadi di Jerman mengalami penurunan dari 5.729 kasus tahun 2025 dibandingkan dengan 6.560 kasus pada tahun 2024, jumlah kasus yang melibatkan kekerasan fisik tetap serupa.
Pada tahun 2025, tercatat 144 kasus kekerasan fisik, sedangkan pada tahun 2024 tercatat 148 kasus, berdasarkan data Kantor Kepolisian Kriminal Federal Jerman (BKA).
Meskipun banyak kejahatan yang dilaporkan melibatkan serangan terhadap sinagog dan lembaga Yahudi lainnya, isu kriminalisasi istilah dan simbol tertentu yang terkait dengan gerakan pro-Palestina juga memicu perdebatan di Jerman.
Salah satu contohnya adalah istilah "From the river to sea, Palestine will be free.” Sejak 2023, pasca serangan Hamas pada 7 Oktober, Jerman secara hukum mengklasifikasikan penggunaan istilah tersebut sebagai tindak pidana. Hal ini memicu kritik dari aktivis dan organisasi hak asasi manusia di seluruh dunia.
Kekerasan antisemitisme dapat bersumber dari ideologi ekstrem, termasuk dari sebagian kelompok radikal Islam dan ekstrem kanan.
Meskipun upaya memerangi antisemitisme sering disebut-sebut sebagai salah satu tujuan pemerintah Jerman saat ini, pemerintah telah melakukan serangkaian pemotongan anggaran terhadap program-program pendidikan, yang berdampak pada banyak lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang pencegahan antisemitisme.
Berdirinya Negara Israel
Inilah kilas balik pendirian negara warga Yahudi yang penuh pertikaian dan gejolak politik.
Foto: Imago/W. Rothermel
Deklarasi yang ditunggu-tunggu warga Yahudi
Tanggal 14 Mei 1948, tokoh Israel David Ben-Gurion mendeklarasikan pembentukan Negara Israel yang independen. Dia menggarisbawahi latar belakang sejarah keagamaan Yahudi. "Orang-orang tetap percaya dan tidak pernah berhenti berdoa dan berharap mereka kembali ke sana," katanya menegaskan kelahiran negara bagi warga Yahudi tersebut.
Foto: picture-alliance/dpa
Sejarah hitam
Peristiwa pembantaian warga Yahudi oleh rezim NAZI Jerman, yang dinamakan Holocaust adalah latar belakang kuat yang mendasari kepentingan pendirian Negara Israel. Foto di atas menunjukkan orang-orang yang selamat dari kamp Auschwitz setelah pembebasan.
Foto: picture-alliance/dpa/akg-images
"Bencana" bagi warga Palestina
"Nakba", artinya "bencana", Itulah kata yang digunakan warga Palestina pada hari yang sama. Sekitar 700.000 warga Arab yang tinggal di Palestina saat itu harus melarikan diri dengan tibanya gelombang pendatang Yahudi yang ingin menetap di negara barunya. Pendirian Israel menjadi awal konflik Israel-Palestina dan dunia Arab, yang tidak terselesaikan sampai sekarang, 70 tahun kemudian.
Foto: picture-alliance/CPA Media
Darurat perang
Ketegangan dengan negara-negara Arab di wilayah itu pecah saat 'Perang Enam Hari' terjadi pada Juni 1967. Militer Israel berhasil memukul mundur pasukan Mesir, Yordania dan Suriah, lalu menduduki kawasan Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Namun kemenangan itu tidak membawa ketenangan, melainkan ketegangan dan konflik berkepanjangan hingga kini.
Foto: Keystone/ZUMA/IMAGO
Politik pemukiman di wilayah pendudukan
Pembangunan permukiman Yahudi di kawasan yang diduduki memperburuk konflik dengan Palestina, yang sebenarnya dijanjikan untuk mendirikan negara. Otoritas Palestina menuduh Israel menjalankan politik yang berupaya menihilkan harapan pendirian Negara Palestina Merdeka. Israel tidak mengindahkan protes internasional yang menentang pembangunan permukiman Yahudi.
Foto: picture-alliance/newscom/D. Hill
Kemarahan dan kebencian: Intifada pertama
Akhir 1987, warga Palestina melakukan mobilisasi untuk menentang pendudukan Israel. Kerusuhan menyebar di wilayah permukiman Palestina dari Gaza sampai Yerusalem Timur. Kerusuhan itu menggagalkan Kesepakatan Oslo dari tahun 1993 — kesepakatan pertama yang dicapai dalam perundingan langsung antara perwakilan pemerintah Israel dan pihak Palestina, yang diwakili oleh PLO.
Foto: picture-alliance/AFP/E. Baitel
Upaya perdamaian
Presiden AS Bill Clinton (tengah) menengahi konsultasi perdamaian antara PM Israel Yitzhak Rabin (kiri) dan pimpinan PLO Yasser Arafat (kanan). Perundingan itu menghasilkan Kesepakatan Oslo I, yang memuat pengakuan kedua pihak atas eksistensi pihak lain. Namun harapan perdamaian pupus ketika Rabin dibunuh oleh seorang warga Yahudi radikal dua tahun kemudian.
Foto: picture-alliance/CPA Media
Kursi yang kosong
Rabin ditembak pengikut radikal kanan pada 4 November 1995 ketika akan meninggalkan acara demonstrasi damai di Tel Aviv. Foto di atas menunjukkan Shimon Peres yang kemudian menggantikan Yitzhak Rabin sebagai Perdana Menteri. Kursi kosong di sebelahnya adalah tempat duduk Rabin.
Foto: Getty Images/AFP/J. Delay
Tembok pemisah
Tahun 2002, setelah rangkaian aksi kekerasan dan teror selama Intifada II, Israel mulai membangun tembok pemisah sepanjang 107 kilometer atas alasan keamanan. Tembok ini memisahkan wilayah Israel dan Palestina di wilayah Tepi Barat. Proyek tembok pemisah sekarang masih dilanjutkan dan menurut rencana panjangnya akan mencapai 700 kilometer. (Teks: Kersten Knipp/hp/ts)
Foto: picture-alliance/dpa/dpaweb/S. Nackstrand
9 foto1 | 9
Perluasan makna antisemitisme yang berlebihan
Laporan tersebut mengkritik pemerintah Israel sayap kanan dan media lokal karena dianggap memperluas makna antisemitisme secara berlebihan. Perluasan ini dinilai dilakukan secara terburu-buru atau tidak masuk akal. Akibatnya, makna antisemitisme menjadi kabur dan kehilangan mana analitisnya.
Selain itu, Kementerian Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme Israel, yang dipimpin oleh politisi sayap kanan, Amichai Chikli, juga dinilai tidak efektif dalam menjalankan tugasnya. Bahkan, kementerian tersebut disebut pernah menuai kontroversi karena kedekatannya dngan politisi sayap kanan Eropa. Laporan tersebut merekomendasikan penutupan kementerian tersebut setelah pemilu legislatif Oktober mendatang.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
Ketika Peluru Israel Membunuh Impian Atlet Palestina
Atlet sepeda Palestina, Alaa al-Daly, kehilangan kaki setelah ditembak tentara Israel. Peristiwa nahas tersebut mengubur mimpinya membela bendera negara di ajang Asian Games 2018 di Jakarta.
Foto: Reuters/S. salem
Mimpi Besar Alaa al-Daly
Alaa al-Daly bermimpi mengibarkan bendera negaranya di ajang Asian Games di Jakarta, Agustus mendatang. Ia adalah atlet sepeda yang sedianya akan mewakili Palestina pada perhelatan akbar olahraga terbesar se-Asia tersebut. Namun apa daya, nasib berkata lain.
Foto: Reuters/S. salem
Nahas di Hari Nakba
Pemuda berusia 21 tahun itu ditembak serdadu Israel ketika menghadiri aksi demonstrasi mengenang hari Nakba di perbatasan Israel dan Jalur Gaza. Akibatnya, kaki kanan Alaa harus diamputasi - sebuah vonis mati untuk seorang atlet.
Foto: Reuters/S. salem
Petaka Memutar Nasib
Alaa mengaku tidak mengetahui aksi damai di perbatasan akan berubah menjadi insiden berdarah. Setidaknya 16 demonstran tewas dihujani peluru oleh serdadu Israel. Sementara 16 orang lain mengalami nasib seperti Alaa. Kendati beruntung masih hidup, peristiwa tersebut mengubah hidupnya untuk selamanya.
Foto: Reuters/S. salem
Ketidakadilan Tak Berkesudahan
Kaki Alaa mungkin masih bisa diselamatkan seandainya ia mendapat pengobatan yang baik di luar negeri. Buat penduduk Jalur Gaza, satu-satunya layanan medis yang paling berkualitas hanya terdapat di Israel. Nahas buat sang atlet, militer Israel menolak mengabulkan permohonannya lantaran ia terlibat dalam aksi demonstrasi di perbatasan.
Foto: Reuters/S. salem
Israel Menolak
"Setiap bentuk permohonan layanan medis oleh teroris atau demonstran yang ikut serta dalam aksi berdarah akan ditolak," tulis IDF dalam pernyataannya. "Warga asing tidak memiliki hak untuk memasuki Israel, termasuk warga Palestina yang hidup di Jalur Gaza." Aksi demonstrasi yang berlangsung selama berhari-hari itu menyisakan 31 korban jiwa.
Foto: Reuters/S. salem
Masa Depan di Olahraga
Alaa adalah satu dari sedikit atlet Palestina yang bisa berlaga di turnamen internasional. Ia bahkan atlet sepeda pertama yang diproyeksikan untuk tampil di ajang dunia. Kini Alaa bertekad melanjutkan mimpinya di ajang Paralimpiade atau Asian Para Games. Namun untuk itu ia harus terlebih dahulu berlatih berjalan untuk kelak bisa kembali menggowes sepeda.