1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIsrael

Kekerasan Antisemitisme Capai Rekor Tertinggi

15 April 2026

Saat Hari Peringatan Holokaus di Israel, sebuah studi terbaru dari Universitas Tel Aviv menunjukkan lonjakan kasus kekerasan berat terhadap orang Yahudi di negara-negara Barat pada tahun 2025.

Sydney, Australia 2026 | Monumen untuk mengenang korban tewas dalam penembakan massal di Pantai Bondi.
Monumen untuk mengenang korban tewas dalam penembakan massal selama perayaan Hanukkah pada tahun 2025 di Pantai Bondi, Sydney, Australia.Foto: Jeremy Piper/REUTERS

Jumlah korban tewas akibat kekerasan antisemitisme di negara-negara Barat mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025, menurut data yang dihimpun oleh Universitas Tel Aviv.

Laporan yang diterbitkan jelang Hari Peringatan Holocaust Israel pada 14 April menunjukkan bahwa 20 orang Yahudi tewas dalam empat serangan mematikan yang berbeda tahun lalu, angka tertinggi tiga dekade terakhir.

Jika dibandingkan dengan tahun 2022, insiden yang melibatkan kekerasan fisik, tindakan vandalisme terhadap lembaga-lembaga Yahudi, dan ujaran kebencian daring meningkat di semua negara-negara Barat.

Peningkatan ini terjadi setalah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang Israel di Gaza, Lebanon, hingga perang terakhir Israel-AS melawan Iran.

Serangan di Pantai Bondi, Australia

Universitas Tel Aviv telah menerbitkan laporannya mengenai kekerasan antisemit sejak tahun 2001, merujuk pada data yang disediakan oleh lembaga penegak hukum, komunitas Yahudi di seluruh dunia, organisasi nonpemerintah, dan organisasi-organisasi lainnya.

Laporan tahun 2026 tersebut juga memuat studi tentang antisemitisme di sektor layanan kesehatan dan analisis metadata terhadap para pelaku yang terdokumentasikan.

Serangan antisemitisme paling signifikan terjadi di tahun 2025: penembakan di acara Hanukkah komunitas Yahudi di Pantai Bondi, Australia, dekat Sydney, pada 14 Desember. Peristiwa ini menewaskan 15 orang dan sebabkan puluhan lainnya terluka.

Jumlah insiden antisemitisme di Australia meningkat tahun lalu, dari 1.727 pada tahun 2024 menjadi 1.750 pada tahun 2025. Kedua tahun tersebut menandai kenaikan tajam dibandingkan data serupa pada tahun 2022, dengan 472 kasus.

Tren kenaikan kasus antisemitisme yang serupa juga tercatat di Kanada, Inggris, dan Belgia.

Antisemitisme di AS ‘mengkhawatirkan'

Laporan tersebut juga menyoroti Amerika Serikat, tempat tinggal sekitar 6 juta orang Yahudi , yang "menormalisasi retorika antisemitisme dalam wacana politik”, menjadikannya fenomena paling mengkhawatirkan tahun ini.

Selanjutnya, laporan tersebut secara khusus menyoroti Presiden AS Donald Trump yang memiliki hubungan atau kedekatan dengan orang-orang yang dianggap antisemitisme di lingkaran politiknya.

"Mengaitkan masa depan Israel dengan sosok Donald Trump, apalagi membanggakan pengaruh politik atau filantropi Israel terhadapnya, adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab dan berisiko besar,” jelas laporan tersebut merujuk pada komentar Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang hubungan dekatnya dengan Trump.

Pemimpin AS dalam laporan tersebut dianggap sebagai ancaman bagi masa depan Amerika Serikat dan demokrasi liberal secara umum. Hal ini dikarenakan Trump sering menggunakan bahasa politik yang provokatif dan merendahkan, yang tidak mengakui bahaya "Rusia yang bersifat fasis,” serta tidak menghormati aturan hukum.

Dukungan bagi Israel, dalam laporan tersebut disebutkan berkurang baik dari kalangan warga AS juga kalangan partai Republik dan Demokrat.

Pemotongan anggaran pendidikan oleh pemerintah di Jerman, jadi ancaman

Meskipun laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah insiden yang terjadi di Jerman mengalami penurunan dari 5.729 kasus tahun 2025 dibandingkan dengan 6.560 kasus pada tahun 2024,  jumlah kasus yang melibatkan kekerasan fisik tetap serupa.

Pada tahun 2025, tercatat 144 kasus kekerasan fisik, sedangkan pada tahun 2024 tercatat 148 kasus, berdasarkan data Kantor Kepolisian Kriminal Federal Jerman (BKA).

Meskipun banyak kejahatan yang dilaporkan melibatkan serangan terhadap sinagog dan lembaga Yahudi lainnya, isu kriminalisasi istilah dan simbol tertentu yang terkait dengan gerakan pro-Palestina juga memicu perdebatan di Jerman.

Salah satu contohnya adalah istilah "From the river to sea, Palestine will be free.” Sejak 2023, pasca serangan Hamas pada 7 Oktober, Jerman secara hukum mengklasifikasikan penggunaan istilah tersebut sebagai tindak pidana. Hal ini memicu kritik dari aktivis dan organisasi hak asasi manusia di seluruh dunia.

Kekerasan antisemitisme dapat bersumber dari ideologi ekstrem, termasuk dari sebagian kelompok radikal Islam dan ekstrem kanan.

Meskipun upaya memerangi antisemitisme sering disebut-sebut sebagai salah satu tujuan pemerintah Jerman saat ini, pemerintah telah melakukan serangkaian pemotongan anggaran terhadap program-program pendidikan, yang berdampak pada banyak lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang pencegahan antisemitisme.

Perluasan makna antisemitisme yang berlebihan

Laporan tersebut mengkritik pemerintah Israel sayap kanan dan media lokal karena dianggap memperluas makna antisemitisme secara berlebihan. Perluasan ini dinilai dilakukan secara terburu-buru atau tidak masuk akal. Akibatnya, makna antisemitisme menjadi kabur dan kehilangan mana analitisnya.

Selain itu, Kementerian Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme Israel, yang dipimpin oleh politisi sayap kanan, Amichai Chikli, juga dinilai tidak efektif dalam menjalankan tugasnya. Bahkan, kementerian tersebut disebut pernah menuai kontroversi karena kedekatannya dngan politisi sayap kanan Eropa. Laporan tersebut merekomendasikan penutupan kementerian tersebut setelah pemilu legislatif Oktober mendatang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid