Kekerasan dan Anarki Bayangi Somalia
23 April 2009
PBB bertindak sebagai pengundang dan Uni Eropa sebagai organisator konferensi untuk menggalang dana sekitar 200 juta Dollar bagi Somalia. Negara tersebut harus secepatnya distabilkan, karena 18 tahun tanpa pemerintahan, Somalia terpuruk dalam kekerasan dan anarki.
Sebuah negara yang berantakan, teror merajalela, anarki dan perang bawah tanah antara kelompok Islam radikal dan kekuatan yang lebih moderat. Sejak hengkangnya mantan Presiden Siad Barre 18 tahun yang silam, keadaan di Somalia semakin mengenaskan. Di ibukota Mogadishu terlihat bangunan-bangunan yang rusak oleh tembakan dan ledakan granat.
Mohammed Hurre, penggagas inisiatif perdamaian Somalia mengutarakan: "Mogadishu adalah rimba, tempat setiap orang melakukan apa yang diinginkannya. Pemerintah tidak punya kekuasaan. Para pemberontak beroperasi dari tempat persembunyian. Semua punya senjata dan kekerasan meningkat."
Presiden Somalia tak mampu kendalikan negara
Hanya ada sekitar 3.000 tentara Uni Afrika yang ditugaskan untuk mengupayakan keamanan di Somalia. Pemerintah transisi dari Presiden Sharif Sheikh Achmed dapat dikatakan tidak mampu mengendalikan negerinya. Dawn Blalock, juru bicara PBB untuk urusan kemanusiaan di Somalia mengatakan, waktu sekarang sudah mendesak: "Sejak 20 tahun ini Somalia menghadapi masalah kemanusiaan. Tapi dua tahun terakhir, situasi memburuk secara dramatis. Sekitar 3, 2 juta warga Somalia kini tergantung pada bantuan kemanusiaan. Ini lebih dari 42 persen jumlah penduduk keseluruhan."
Krisis berkelanjutan ini terutama menimpa anak-anak. Menurut dana bantuan anak PBB, UNICEF, tidak ada di belahan dunia ini terdapat anak-anak yang keadaannya lebih buruk dari di Somalia. Sekitar 15 persen anak Somalia menderita kekurangan gizi yang parah. Seorang anak mengatakan, dulu mereka makan tiga kali sehari, tapi sekarang hanya sekali sehari. Akibat inflasi yang meroket, banyak warga yang sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.
Namun, penyaluran bantuan kemanusiaan di Somalia tidak pernah sesulit saat ini. Pembunuhan dan penculikan petugas bantuan semakin meningkat. Tiga petugas "Dokter Tanpa Batas Negara" sedang berada di tangan penculik Somalia yang menuntut uang tebusan satu juta Dollar. Kepala organisasi kemanusiaan tersebut, Christophe Fournier memperingatkan: "Tak seorang pun dapat melakukan tugasnya di sini. Kami tidak butuh perlindungan khusus. Tapi pihak yang bertempur harus menghormati posisi netral dan misi kemanusiaan kami."
Surga bagi bisnis kriminal
Hanya bagi orang yang melakukan bisnis kriminal, Somalia adalah surga. Karena di negeri yang tidak punya pemerintahan ini, tidak ada undang-undang, polisi maupun penjagaan perairan. Dawn Blalock, juru bicara PBB di Somalia memperingatkan untuk tidak menelantarkan bantuan kemanusiaan akibat diskusi mengenai perompakan. Dikatakannya bahwa tidak semua penduduk Somalia adalah bajak laut. Masih banyak warga lain yang kelaparan, kekurangan air atau sama sekali tidak punya tempat tinggal.
Namun tidak hanya perompak, tetapi juga krisis ekonomi yang menghambat bantuan bagi Somalia. Kebanyakan negara industri mengurangi dana bantuan internasionalnya.
Marc Engelhardt/Christa Saloh
Editor: Hendra Pasuhuk