Kepolisian Jerman mencatat lebih dari 17.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak dalam setahun terakhir. Di tengah lonjakan kasus, organisasi seperti Zartbitter memberikan pendampingan bagi korban dan keluarganya.
Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak dan remaja berada pada tingkat yang mengkhawatirkanFoto: OBS/Keystone/picture alliance
Iklan
Leonie Kirschstein sudah mengetahui bahwa jumlah kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak dan remaja tidak akan menurun. Psikolog tersebut bekerja untuk organisasi nirlaba terdaftar Zartbitter e.V., yang selama hampir empat dekade menjadi pusat pendampingan bagi korban muda di Kota Köln, Jerman. Organisasi perintis ini memberikan konseling kepada para korban, melakukan edukasi di sekolah-sekolah, bahkan mementaskan drama bertema kekerasan seksual.
Kirschstein, yang telah bekerja di Zartbitter selama tiga tahun, mengatakan kepada DW bahwa jumlah kasus yang tidak pernah dilaporkan jauh lebih besar.
“Statistik kriminal hanya mencakup kasus-kasus yang dilaporkan kepada polisi. Namun, hal ini tidak mencakup kasus-kasus yang kami tangani setiap hari, seperti kekerasan seksual antarteman sebaya. Dalam banyak kasus, kejadian seperti ini sama sekali tidak dilaporkan, terutama ketika korbannya masih sangat kecil. Kelompok ini merupakan porsi terbesar dari kasus yang kami tangani dalam proses konseling.”
Hampir satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual setidaknya sekali seumur hidup, demikian laporan WHO 2021 lalu. Berikut ragam solusi digital sebagai upaya atasi pelecehan seksual.
Foto: Montira Narkvichien/UN Women | CC BY-NC-ND 2.0
Cincin alarm
Katya Romanovskaya awalnya pernah diserang. Pengalaman ini mendorongnya mendirikan perusahaan Nimb, yang menciptakan tombol darurat berbentuk cincin. Perhiasan buatan Rusia ini dirancang untuk memberi rasa aman pada perempuan. Jika tidak sengaja mengaktifkan peringatan, pengguna dapat membatalkannya dalam hitungan 20 detik. Namun, ada kata sandinya, jadi tidak semua orang bisa menghapusnya.
Foto: Mark Lennihan/AP/picture alliance
Cara kerja Nimb
Pengguna mengirimkan peringatan dan lokasi ke daftar nomor telepon yang telah dipilih sebelumnya. Pesan disampaikan dalam bentuk pemberitahuan baik berupa getaran, panggilan telepon, atau email. Orang yang memakai Nimb akan melihat cincin mereka bergetar dan tahu bahwa ada teman dan kerabat dalam bahaya. Informasi peringatan itu juga diteruskan ke layanan darurat dan kantor polisi.
Foto: Stephen Chung/ZUMA/imago
Berbicaralah kepada Spot
Insinyur dari Jerman dan Swiss menciptakan Spot, sebuah chatbot khusus yang memungkinkan karyawan melaporkan tuduhan pelecehan seksual secara anonim. Bot diprogram untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan informasi serta saran untuk membantu mereka menyelidiki insiden ini. Jawaban akan dirangkum ke dalam PDF, dengan lembar sampul yang tampak formal, yang dapat dikirim melalui email ke HRD.
Foto: Andriy Popov/PantherMedia/imago images
Sis bot buatan Thailand
Letkol Peabrom Mekhiyanont membuat chatbot yang memberikan informasi 24/7 bagi para penyintas kekerasan seksual. Bot ini dapat diakses melalui perangkat seluler atau komputer. Penyintas dapat mengirim pesan lewat Facebook Messenger, dan nanti akan otomatis dipandu terkait bagaimana cara melapor ke polisi, cara menyimpan barang bukti, dan layanan dukungan yang didapat para penyintas secara hukum.
Foto: Montira Narkvichien/UN Women | CC BY-NC-ND 2.0
Terkoneksi di malam hari dengan bthere
Aplikasi ini ditujukan untuk pengguna yang berusia 18-22 tahun demi mengurangi kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus di AS. Teknologi ini berupaya untuk membantu penggunanya menghindari situasi berbahaya dengan mendorong mereka terkoneksi di malam hari. Alat ini dilengkapi dengan fitur berkirim pesan, berbagi lokasi, bahkan hadiah yang mendorong pengguna habiskan waktu bersama.
Foto: bthere
Bagaimana cara kerja bthere?
Pengguna mendaftar dan membuat "lingkaran" dengan teman kampus, keluarga, atau teman serumah, yang dapat bersifat permanen atau sementara, misalnya hanya untuk keluar malam di hari tertentu. Aplikasi ini memiliki dua tujuan yakni menjaga anak muda tetap aman, tetapi juga memberi peluang agar mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam kehidupan nyata, dengan memanfaatkan kekuatan digital.
Foto: bthere
Callisto di kampus di Amerika Serikat
Kasus kekerasan seksual di berbagai kampus di AS mendasari terbentuknya Callisto. Platform ini dapat mendeteksi pelaku kekerasan seksual dengan teknologi AI yang menjalankan fungsi pencocokan. Penyintas akan melaporkan rincian pelaku ke dalam sistem, lalu penyintas lain juga memberi rincian serupa. Dengan cara ini, pelaku berantai dapat diidentifikasi terlepas dari afiliasi universitas.
Foto: Spencer Grant/imago images
Safecity di India
Dibentuk setelah kasus pemerkosaan Nirbhaya Gang 2012 di India, platform Safecity menjadi tempat berbagi cerita tentang pelecehan seksual atau pemerkosaan yang terjadi. Dengan menggunakan teknologi AI, secara visual akan terlihat lokasi berbahaya, dan rute aman. Lewat laporan berbasis crowdsoursing ini, otoritas keamanan dan pembuat kebijakan diharapkan dapat menciptakan ruang aman. (ts/ha)
Foto: safecity
8 foto1 | 8
Korban kekerasan seksual ada di setiap ruang kelas
Artinya, rata-rata di setiap ruang kelas sekolah di Jerman terdapat 1 hingga 2 anak yang menjadi korban kekerasan seksual.
Kirschstein, yang mengkhususkan diri dalam psikoterapi untuk anak dan remaja, mengatakan, “Kami menerima kasus baru setiap hari; terutama para orang tua yang menghubungi kami untuk konsultasi awal. Sayangnya, saya masih sangat sering menemui para korban yang bertanya-tanya apakah mereka sendiri melakukan sesuatu yang salah, misalnya apakah mereka sudah mengatakan ‘tidak’ dengan jelas dan apakah penolakan mereka dipahami sebagai penolakan oleh pelaku.”
Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Akan Dibatasi
01:38
This browser does not support the video element.
Kejahatan seksual anak bergeser ke dunia digital
Pengamatan Leonie Kirschstein sejalan dengan “Laporan Situasi Nasional tentang Kejahatan Seksual terhadap Anak dan Remaja 2025”, yang dirilis pada 21 Juli di Berlin.
Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja tetap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan bahkan meningkat di banyak sektor.
Jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah usia 14 tahun meningkat menjadi 17.126 kasus, dibandingkan dengan 16.354 kasus pada 2024.
Rekor tertinggi baru juga tercatat untuk kejahatan yang melibatkan materi pornografi anak serta pelecehan seksual terhadap anak tanpa kontak fisik.
Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menyampaikan peringatan keras.
“Tingginya jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja menunjukkan bahwa kita harus melindungi anak-anak dengan lebih baik, terutama di dunia digital,” ujarnya.
“Pelaku tidak boleh merasa aman dan bersembunyi di balik anonimitas internet. Dalam memerangi kejahatan yang menjijikkan ini, aparat penegak hukum memerlukan alat yang efektif, seperti penyimpanan alamat IP, untuk mengidentifikasi pelaku, menuntut mereka secara konsisten, dan menghentikan kekerasan yang masih berlangsung,” kata Dobrindt kepada media.
Trauma berkepanjangan, hancurnya semangat hidup, bahkan berujung kematian, banyak kepahitan dialami korban perkosaan. Sudah saatnya semua negara memperbaiki perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual.
Foto: Fotolia/Artem Furman
Jerman: No Means No
Tahun 2016 definisi perkosaan diperluas. Jika korban mengatakan 'TIDAK‘ terhadap aktivitas seksual, dan pihak lain tetap memaksa, maka pihka yang memaksa dapat diajukan ke pengadilan. Hukum Jerman sebelumnya terkait kekerasan seksual amat lemah. Sebuah kasus dianggap pemerkosaan hanya jika sang korban secara fisik mencoba melawan pelaku.
Foto: dapd
Perancis: Verbal pun Dapat Dihukum
Istilah "pemerkosaan" mencakup kegiatan seksual tanpa kesepakatan pihak yang terlibat atau adanya unsur pemaksaan. Pelanggar bisa mendapat ancaman vonis hingga 20 tahun penjara. Orang yang berulang kali secara verbal melecehkan orang lain secara seksual dapat dijatuhi vonis denda tinggi - atau bahkan hukuman penjara sampai dua tahun.
Foto: picture alliance/Denkou Images
Italia: Suami pun Bisa Dipenjara
Pada tahun 1996, Italia memperluas hukum kejahatan seks, mencakup pemaksaan aktivitas seksual dalam pernikahan. Ancaman bagi seseorang yang memaksa pasangannya berhubungan seks, sementara pasangannya menolak, bisa terancam hukuman 10 tahun penjara.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Gambarini
Swiss: Penetrasi Vagina
Swiss membatasi definisi pemerkosaan dengan kegiatan penetrasi pada vagina. Serangan pelecehan seksual lainnya dapat dikategorikan sebagai pemaksaan seksual – jika korban menolak, baik secara fisik maupun verbal. Hukuman untuk semua pelanggaran bisa divonis hingga 10 tahun penjara. Sejak tahun 2014, perkosaan dalam pernikahan dapat dikenai hukuman.
Foto: Fotolia/Ambelrip
Swedia: Korban terpaksa karena takut
Di bawah hukum pidana Swedia, membuka paksa baju orang lain dapat dikenai hukuman hingga 2 tahun penjara. Eksploitasi seks terhadap orang dalam "kondisi tak berdaya," seperti tertidur atau di bawah pengaruh obat/alkohol, termasuk pemerkosaan. Sejak 2013, perkosaan juga termasuk serangan terhadap orang yang tidak menolak karena takut, hingga tercipta kesan terjadinya hubungan seks konsensual.
Foto: Fotolia/Gerhard Seybert
Amerika Serikat: Bahkan terjadi di kampus
Definisi kekerasan seksual bervariasi dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Di Kalifornia, misalnya kedua pihak pasangan harus secara jelas menyetujui tindakan seksual, jika tak mau dianggap sebagai perkosaan. Aturan ini juga berlaku untuk mahasiswa di kampus-kampus, di mana dilaporkan meluasnya kekerasan seksual dalam beberapa tahun terakhir
Foto: Fotolia/Yuri Arcurs
Arab Saudi: Melapor malah dihukum
Negara ini menetapkan hukuman mati bagi pemerkosaan, meski masih sulit menjerat pelaku yang memperkosa istri mereka. Ironisnya perempuan yang melaporkan perkosaan malah bisa dihukum jika dianggap "aktif" berkontribusi dalam perkosaan. Misalnya, perempuan yang bertemu dengan laki-laki yang kemudian memperkosa mereka, dapat dihukum karena dianggap mau bertemu dengan lelaki itu.
Foto: picture-alliance/Bildagentur-online/AGF
7 foto1 | 7
Cybergrooming jadi ancaman baru bagi anak dan remaja
Untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap kejahatan siber, pemerintah federal Jerman saat ini mendorong undang-undang yang memungkinkan penyimpanan alamat IP selama 3 bulan. Dobrindt optimistis bahwa aturan tersebut dapat disahkan paling cepat pada musim gugur tahun ini.
Ia juga mengusulkan pembentukan jabatan Komisaris Eropa untuk Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja.
Sementara itu, Presiden Kantor Polisi Kriminal Federal (BKA), Holger Münch, memperingatkan tentang meningkatnya cybergrooming, yaitu ketika orang dewasa dengan sengaja menghubungi anak-anak atau remaja melalui internet untuk membangun hubungan yang bertujuan untuk melakukan eksploitasi seksual.
“Lebih dari 98% pelaku adalah laki-laki, dengan usia rata-rata sekitar 24 tahun. Korban sebagian besar adalah perempuan dengan usia rata-rata sedikit di bawah 12 tahun. Faktor risiko utamanya adalah kurangnya kesadaran akan bahaya perilaku mereka sendiri di dunia maya. Pelaku remaja biasanya bertindak karena bosan atau sekadar mengisi waktu luang, sedangkan pelaku dewasa umumnya memiliki motif seksual dan secara khusus menargetkan anak di bawah umur,” kata Münch.
Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut sering kali berujung pada pertemuan langsung yang kemudian diikuti oleh tindak pelecehan seksual.
Celah hukum dinilai hambat perlindungan anak dan remaja
Komisioner Federal Independen Jerman untuk Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja, Kerstin Claus, menyerukan perlindungan yang lebih baik, khususnya bagi remaja.
“Kasus sextortion meningkat secara dramatis, dan cybergrooming kini memengaruhi hampir 1 dari 3 remaja berusia 14 hingga 17 tahun,” katanya. “Namun, hingga saat ini, tindakan tersebut belum dikategorikan sebagai tindak pidana.”
Claus menegaskan bahwa apa yang belum dianggap sebagai tindak pidana tidak akan masuk dalam statistik, dan apa yang tidak tercatat dalam statistik tidak akan menjadi prioritas penanganan.
“Karena itu, remaja harus dilindungi dari cybergrooming, dan sextortion harus diklasifikasikan sebagai bentuk tersendiri dari kejahatan seksual. Laporan situasi nasional bahkan belum mampu menggambarkan besarnya kekerasan seksual yang dialami anak muda setiap hari di dunia maya,” ujarnya, memperingatkan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha