1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kasus Kekerasan Seksual Anak di Jerman Kian Mengkhawatirkan

23 Juli 2026

Kepolisian Jerman mencatat lebih dari 17.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak dalam setahun terakhir. Di tengah lonjakan kasus, organisasi seperti Zartbitter memberikan pendampingan bagi korban dan keluarganya.

Ilustrasi: Kekerasan seksual
Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak dan remaja berada pada tingkat yang mengkhawatirkanFoto: OBS/Keystone/picture alliance

Leonie Kirschstein sudah mengetahui bahwa jumlah kasus kekerasan seksual yang melibatkan anak-anak dan remaja tidak akan menurun. Psikolog tersebut bekerja untuk organisasi nirlaba terdaftar Zartbitter e.V., yang selama hampir empat dekade menjadi pusat pendampingan bagi korban muda di Kota Köln, Jerman. Organisasi perintis ini memberikan konseling kepada para korban, melakukan edukasi di sekolah-sekolah, bahkan mementaskan drama bertema kekerasan seksual.

Kirschstein, yang telah bekerja di Zartbitter selama tiga tahun, mengatakan kepada DW bahwa jumlah kasus yang tidak pernah dilaporkan jauh lebih besar.

“Statistik kriminal hanya mencakup kasus-kasus yang dilaporkan kepada polisi. Namun, hal ini tidak mencakup kasus-kasus yang kami tangani setiap hari, seperti kekerasan seksual antarteman sebaya. Dalam banyak kasus, kejadian seperti ini sama sekali tidak dilaporkan, terutama ketika korbannya masih sangat kecil. Kelompok ini merupakan porsi terbesar dari kasus yang kami tangani dalam proses konseling.”

Korban kekerasan seksual ada di setiap ruang kelas

Isu kekerasan seksual kini semakin mendesak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa hingga 1 juta anak dan remaja di Jerman pernah mengalami atau sedang mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.

Artinya, rata-rata di setiap ruang kelas sekolah di Jerman terdapat 1 hingga 2 anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Kirschstein, yang mengkhususkan diri dalam psikoterapi untuk anak dan remaja, mengatakan, “Kami menerima kasus baru setiap hari; terutama para orang tua yang menghubungi kami untuk konsultasi awal. Sayangnya, saya masih sangat sering menemui para korban yang bertanya-tanya apakah mereka sendiri melakukan sesuatu yang salah, misalnya apakah mereka sudah mengatakan ‘tidak’ dengan jelas dan apakah penolakan mereka dipahami sebagai penolakan oleh pelaku.”

Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Akan Dibatasi

01:38

This browser does not support the video element.

Kejahatan seksual anak bergeser ke dunia digital

Pengamatan Leonie Kirschstein sejalan dengan “Laporan Situasi Nasional tentang Kejahatan Seksual terhadap Anak dan Remaja 2025”, yang dirilis pada 21 Juli di Berlin.

Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja tetap berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan bahkan meningkat di banyak sektor.

Jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah usia 14 tahun meningkat menjadi 17.126 kasus, dibandingkan dengan 16.354 kasus pada 2024.

Rekor tertinggi baru juga tercatat untuk kejahatan yang melibatkan materi pornografi anak serta pelecehan seksual terhadap anak tanpa kontak fisik.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menyampaikan peringatan keras.

“Tingginya jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak dan remaja menunjukkan bahwa kita harus melindungi anak-anak dengan lebih baik, terutama di dunia digital,” ujarnya.

“Pelaku tidak boleh merasa aman dan bersembunyi di balik anonimitas internet. Dalam memerangi kejahatan yang menjijikkan ini, aparat penegak hukum memerlukan alat yang efektif, seperti penyimpanan alamat IP, untuk mengidentifikasi pelaku, menuntut mereka secara konsisten, dan menghentikan kekerasan yang masih berlangsung,” kata Dobrindt kepada media.

Cybergrooming jadi ancaman baru bagi anak dan remaja

Untuk meningkatkan penegakan hukum terhadap kejahatan siber, pemerintah federal Jerman saat ini mendorong undang-undang yang memungkinkan penyimpanan alamat IP selama 3 bulan. Dobrindt optimistis bahwa aturan tersebut dapat disahkan paling cepat pada musim gugur tahun ini.

Ia juga mengusulkan pembentukan jabatan Komisaris Eropa untuk Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja.

Sementara itu, Presiden Kantor Polisi Kriminal Federal (BKA), Holger Münch, memperingatkan tentang meningkatnya cybergrooming, yaitu ketika orang dewasa dengan sengaja menghubungi anak-anak atau remaja melalui internet untuk membangun hubungan yang bertujuan untuk melakukan eksploitasi seksual.

“Lebih dari 98% pelaku adalah laki-laki, dengan usia rata-rata sekitar 24 tahun. Korban sebagian besar adalah perempuan dengan usia rata-rata sedikit di bawah 12 tahun. Faktor risiko utamanya adalah kurangnya kesadaran akan bahaya perilaku mereka sendiri di dunia maya. Pelaku remaja biasanya bertindak karena bosan atau sekadar mengisi waktu luang, sedangkan pelaku dewasa umumnya memiliki motif seksual dan secara khusus menargetkan anak di bawah umur,” kata Münch.

Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut sering kali berujung pada pertemuan langsung yang kemudian diikuti oleh tindak pelecehan seksual.

Celah hukum dinilai hambat perlindungan anak dan remaja

Komisioner Federal Independen Jerman untuk Penanganan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja, Kerstin Claus, menyerukan perlindungan yang lebih baik, khususnya bagi remaja.

“Kasus sextortion meningkat secara dramatis, dan cybergrooming kini memengaruhi hampir 1 dari 3 remaja berusia 14 hingga 17 tahun,” katanya. “Namun, hingga saat ini, tindakan tersebut belum dikategorikan sebagai tindak pidana.”

Claus menegaskan bahwa apa yang belum dianggap sebagai tindak pidana tidak akan masuk dalam statistik, dan apa yang tidak tercatat dalam statistik tidak akan menjadi prioritas penanganan.

“Karena itu, remaja harus dilindungi dari cybergrooming, dan sextortion harus diklasifikasikan sebagai bentuk tersendiri dari kejahatan seksual. Laporan situasi nasional bahkan belum mampu menggambarkan besarnya kekerasan seksual yang dialami anak muda setiap hari di dunia maya,” ujarnya, memperingatkan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha

Oliver Pieper Reporter meliput isu sosial dan politik Jerman dan Amerika Selatan.