Kekerasan Terhadap Umat Kristen di India
30 Agustus 2008
Sekelompok provokator Hindu radikal menyuluh rasa benci massa terhadap umat Kristen di negara bagian Orissa, India. Hasutan keji itu berakibat fatal. Ketua Konferensi Keuskupan Katholik di India, Babu Joseph menyebutnya sebagai aksi terorganisir terhadap kelompok minoritas Kristen.
Di India, umat Kristen merupakan kelompok minoritas. Namun Jumat lalu, di berbagai kota di India, suara kelompok Kristen terdengar jelas dan tegas: „kami menuntut keadilan… ”, begitu teriakan para pengunjuk rasa di ibukota New Delhi. Mereka memrotes kekerasan terhadap umat Kristen di negara bagian Orissa.
Sejak lebih dari seminggu, massa beragama Hindu membakar gereja-gereja, menghancurkan gedung-gedung yang dikenal sebagai lokasi lembaga agama Kristen, mendirikan barikade di jalan-jalan dan berbentrokan dengan polisi. Ketika mereka menyulut api di sebuah rumah yatim piatu, seorang ibu hangus terbakar.
Hingga kini, lebih dari 10 orang tewas dalam aksi kekerasan ini. Ribuan orang mengungsi, menghindar dari kerusuhan dan brutalitas yang merajaleala. Uskup Vincent Concessao mengatakan, „Kelompok radikal menolak konstitusi India. Mereka tidak menghormati Hak Azasi Manusia dan kebebasan beragama. Kami umat Kristen sekarang merasa tidak aman di sini”.
Ketegangan antara umat Kristen dan Hindu sudah lama berlangsung di Orissa. Tahun 1999, kelompok radikal Hindu dengan sengaja membakar sebuah mobil yang berisikan beberapa penumpang beragama Kristen. Seluruh penumpangnya tewas.
Pemicu kerusuhan yang terakhir adalah kematian Laksmanananda Saraswati, seorang pemuka Dewan Hindu se Dunia. Polisi memperkirakan kelompok Maois berada dibalik teka-teki pembunuhan yang belum terpecahkan itu. Namun sejumlah kelompok Hindu mempersalahkan kaum Kristen.
Sepengetahuan kelompok Hindu, Saraswati meluncurkan kampanye untuk mengkonversi umat Kristen agar beralih ke agama Hindu. Dan karenanya, ada kemungkinan ia dibenci oleh pemeluk agama Krsiten. Padahal, penduduk asli India dari kasta-kasta rendah, kaum Dalit atau golongan Paria umumnya memilih untuk pindah ke agama Kristen untuk menghindari kerugian yang dialaminya dalam sistim kasta.
Agama Kristen dianggap memandang semua manusia setara dan sederajat, karenanya kaum ini amat menyambut kecaman yang diserukan Paus Benediktus ke 16. Ketua masyarakat Kristen „South Asian Concern“ di India, Ram Gidoomal mengatakan: „Sri Paus dengan pernyataannya telah merangkul semua kelompok agama, dan khususnya umat Kristen agar mengutamakan perdamaian dan memulai dialog yang menuju rekonsiliasi.“
Hari Kamis lalu (28.8), para wakil kelompok umat Kristen bertemu dengan Perdana Menteri Manmohan Sing dan meminta intervensi pemerintah India untuk menghentikan kekerasan di Orissa. Saat ini lebih dari 3000 polisi ditempatkan di negara bagian itu, namun gelombang kekerasan terhadap kaum Kristen belum mereda juga. (ek)