160409 Indien Wahlen Kasten
18 April 2009
Sebuah desa kecil di India. Shubam memiliki pondok kecil dari tanah, beratapkan jerami. Tempat bernaung bagi ia, istrinya yang cacat dan ketiga anak mereka. Perabotan tidak ada, keluarga itu tidur beralaskan lantai tanah.
Saya sangat ingin punya rumah dan air bersih untuk minum, kata Shubam. Ia tak mengharapkan apa-apa dari para politisi, dan memang belum ia belum pernah mendapat apapun dari mereka untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Meski begitu Shubam tertarik pada politik. Apapun yang terjadi, ia akan memberikan suara dalam pemilu. Pilhannya jatuh pada partai dari PM Uttar Pradesh saat ini, Mayawati.
Shubam mengatakan, "Walaupun saya tidak mendapat keuntungan materi, dan tidak punya pekerjaan,saya gembira dia ada. Dia memberi kami rasa percaya diri. Sekarang saya tidak ketakutan seperti dulu!"
Seperti kebanyakan penduduk desa itu, Subham termasuk golongan Dalits. Mereka berada di luar sistem kasta, lebih rendah dari kasta terendah. Begitu rendahnya, sehingga ada larangan bagi kasta lain untuk menyentuh atau menjamah golongan Dalits. Hal mengejutkan terjadi di Uttar Pradesh. Seorang perempuan dari golongan ini berhasil menduduki kursi PM. Orang kebanyakan memuja dan memilihnya karena ia adalah salah satu dari mereka.
Seorang profesor dari kampus kecil tak jauh dari desa itu mengatakan, "Kasta adalah faktor menentukan di India. Mayawati hanya melakukan sesuatu untuk kastanya, bukan kasta lain."
Sistem kasta, yang menempatkan seseorang sejak lahir dalam urutan atas atau bawah lapisan masyarakat, secara resmi sudah dihapus. Tapi, semakin terbelakang sebuah daerah, kasta semakin kuat berkembang dalam sistem penindasan tradisional.
Seolah untuk membuktikan hal tersebut, dua pemuda dari desa kecil itu datang ke balai pertemuan. Kumar Singh seorang dokter, tapi dari golongan Dalits. Bihari dari kasta Brahmana, usianya 15 tahun tapi cukup banyak menerima suntikan tradisi.
Kalau saya ke rumahnya dan Kumar menawarkan segelas air, saya tidak menerimanya, kata Bihari. Alasannya, karena Dalits dianggap kotor. Meski begitu ia menyebut Kumar sebagai kawan.
"Saya tahu, darah yang sama mengalir di tubuh kami. Tapi orangtua saya mengajarkan demikian," kata Bihari.
Kumar sang dokter menerangkan, pasiennya yang kaum brahmana akan bolak-balik membersihkan diri jika ia memegang mereka. Tapi, jika harus disuntik, mereka merelakan Kumar yang melakukannya. Bagi Kumar, pejuang Dalit Mayawati, adalah pahlawan.
Ia mengatakan, "Beberapa perubahan terjadi di sini. Sejak Mayawati memerintah, banyak kemajuan. Kami mendapat pekerjaan, istri saya juga."
Jumlah penduduk di Uttar Pradesh lebih banyak daripada Brasil. Banyak kursi parlemen dibagikan di sini untuk diperebutkan partai-partai peserta pemilu yang akan mendapat banyak kesulitan dari Mayawati. Ia mengangkat tema kasta, lebih kuat daripada terorisme, G20 atau perubahan iklim, yang jauh dari perhatian pemilihnya.
Kai Küstner/ Renata Permadi