1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Negara Penengah, Secercah Harapan di Tengah Tensi Global?

Sorta Caroline
29 Oktober 2025

Saat dua kekuatan adikuasa di kancah global menggunakan perdagangan sebagai senjata, ada negara-negara dengan kekuatan penengah yang dapat memanfaat momentum ini untuk menguatkan aliansi baru.

Peran Indonesia sebagai kekuatan penengah dibahas dalam Berlin Global Dialogue 2025
Peran Indonesia sebagai kekuatan penengah dibahas dalam Berlin Global Dialogue 2025Foto: Tonggie Siregar/DW

"Bayangkan dalam satu mobil Mercedes yang disebut ‘mobil Eropa', di situ ada hasil pekerjaan yang berasal dari lima kontinen,” jelas CEO Mercedes Ola Källenius membuka sesi tentang bagaimana perdagangan dan aliansi berperan penting mengubah tatanan global.

Sesi tersebut diselenggarakan dalam rangka Berlin Global Dialogue Forum. Forum yang digelar 23-25 Oktober ini mempertemukan para pebisnis, pembuat kebijakan, dan para ahli untuk membahas bagaimana kesejahteraan tetap bisa dicapai di tengah tatanan global yang sedang berubah.

Berbicara seputar aliansi dalam sesi tersebut, India tak mau terburu-buru. "Kami tidak ingin buru-buru membuat kesepakatan, kami ingin kemitraan jangka panjang. Jika memang AS mengenakan tarif kepada kami - ya kenakanlah tarif itu. Kami mencari cara mengatasinya dengan menguatkan ekonomi dalam negeri, dengan kekuataan sumber daya manusia kami yang hampir mencapai 1,5 miliar melebihi Cina. Kami juga tidak pernah memutuskan siapa saja teman kami,” jelas Piyush Goyal, Menteri Perdagangan dan Industri India.

India serius menekankan pengembangan sumber daya manusia berbasis STEM (Science, Technology, Engineer, dan Mathematics) sejak era pasca-kemerdekaan dengan pendirian institut-institut teknologi dan kebijakan nasional yang gencar mendukung hal tersebut. Literasi sains, penelitian, dan inovasi menguatkan posisi strategis India, memaksimalkan pengaruhnya di tengah perseteruan geopolitik.

Selain India, Brasil turut merespons genjotan tarif Trump dengan tenang. Brasil memilih tidak berbalas tarif tetapi memberikan paket perlindungan bagi eksportir dalam negeri yang terdampak. Selain itu, Brasil bertindak cepat menguatkan aliansi-aliansi baru BRICS+ mengamankan rantai pasok, menciptakan kemitraan ekonomi yang lebih solid.

Baik India dan Brazil adalah contoh negara-negara dengan kekuatan penengah yang didukung pendapatan perkapita menengah dan besar, memiliki kekuatan populasi dan militer yang kuat di kawasan serta aktif berdiplomasi menjadi penyeimbang kekuatan global north dan south.

Indonesia berpotensi sebagai kekuatan penengah

Menurut Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno, potensi Indonesia sebagai kekuatan penengah terletak pada populasi yang besar (287 juta jiwa) dan posisi yang strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik dengan potensi sumber daya alamnya. Kedua elemen tersebut dapat meningkatkan kekuatan Indonesia sebagai pasar dan juga sebagai agenda setter dalam berbagai diskusi isu global dunia.

"Pelajaran dari tarif AS adalah kita tidak dapat yang dapat menggantungkan kerja sama dengan satu negara. 20% total perdagangan Indonesia berasal dari AS - sisa 80% dapat kita himpun dengan kemitraan dengan negara-negara lain. Kita punya kerja sama yang berbeda dengan tiap partner,” jelas mantan Dubes RI Jerman tersebut dalam sesi the Pivotal Role of Middle Powers in a Multipolar World.

Karena Indonesia bukanlah negara major power layaknya Cina atau AS, Indonesia perlu bersikap kreatif membina kemitraan, "Kita mencari cara menyesuaikan diri dengan kebijakan EU CEPA tapi kita juga membina kemitraan dengan Turki yang telah sepakat untuk mendirikan industri produksi baterai di Indonesia, Turki terkoneksi dengan standar EU bahkan standar NATO.”

Indikasi lain yang membuat suatu negara dikategorikan sebagai middle power atau memiliki kekuatan penengah adalah kemampuannya menjadi aktor regional. Seperti apa peran aktif Indonesia di ASEAN?

"Di tengah ketegangan geopolitik AS-Cina, ASEAN menjalin kemitraan dengan kedua negara bukan memilih salah satu. Mereka dapat menggunakan kemitraan tersebut sebagai sarana damai bukan serangan. Stabilitas keamanan yang ada sekarang di ASEAN perlu disyukuri, jangan sampai kita take it for granted situasi seperti ini,” jelas Havas dalam interview kepada DW Indonesia.

Menurutnya, Indonesia punya peran signifikan dalam digitalisasi keuangan ASEAN, "Digital ekonomi Indonesia nilainya mencapai 90 billion US Dolar (Rp 1,495 triliun), setara dengan GDP Luxembourg, bayangkan potensi ini diperluas di ASEAN - teknologi ini dapat menawarkan banyak hal.”

Kekuatan penengah masih perlu berbenah

Muhammad Nur Alam Tejo, salah satu dari 30 BGD Young Voices dari seluruh dunia turut hadir dalam BGD 2025. Tulisannya tentang pendidikan dan kebijakan ekonomi untuk mengatasi kesenjangan sosial membuatnya terpilih menjadi salah satu Young Voices yang diundang untuk datang ke Berlin.

Mahasiswa manajemen Universitas Indonesia tersebut menilai peran kunci kekuatan penengah Indonesia saat ini lebih banyak ditopang oleh faktor-faktor ‘pemberian' seperti faktor geografi yang strategis, ukuran populasi yang besar, dan kekayaan alam.

Muhammad Nur Alam Tejo, Young Voices BGD 2025Foto: Tonggie Siregar/DW

Sementara itu, faktor yang perlu dikembangkan seperti kualitas SDM masih jadi pekerjaan rumah yang perlu segera dirampungkan. Skor PISA (kompetensi siswa dalam membaca, matematika, dan sains) masih sangat rendah. Potensi SDM ini akan menjadi kekuatan ekonomi nyata jika dilatih menjadi tenaga kerja terampil yang siap pakai baik untuk mendukung program hilirisasi mineral kritis (untuk industri hijau/baterai) atau mendukung terciptanya hub talenta ekonomi digital dan teknologi tinggi (untuk industri masa depan).

"Jika hal ini tidak dibenahi, maka kualitas SDM kita akan menjadi stagnan atau bahkan menjadi beban di masa depan sehingga kita akan terjebak dalam perangkap pendapatan menengah (middle trap income). Hal ini berpotensi menciptakan pengangguran, ketimpangan serta konflik sosial” jelas Tejo.

Acara BGD 2025 ditutup dengan pernyataan Presiden Komisi Eropa Ursula Von der Leyen, "Baik dalam hal energi, bahan baku mineral, pertahanan, dan digital - Eropa sedang memperjuangkan kemandiriannya. Gambarannya kini buram, ekonomi global terfragmentasi begitu cepat. Ini adalah alarm yang ‘membangunkan' Eropa memasuki era baru ekonomi global. EU meluaskan kemitraan - merangkul kemitraan dagang dengan Mercosour, Mexico, Indonesia, dan Swiss ….”

Dapatkah Indonesia menjadi negara dengan kekuatan penengah yang siap menangkap tawaran aliansi dan menjadi mitra jangka panjang yang andal?

Editor: Tonggie Siregar dan Rizky Nugraha