1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
MediaAfrika

Ketika Kelaparan Luput dari Sorotan Media

25 Februari 2026

Menurut para analis, krisis kelaparan parah di negara-negara Bumi Selatan tidak mendapatkan perhatian media maupun politik yang semestinya. Anggaran untuk persenjataan jauh lebih besar dibandingkan dana bantuan pangan.

Tangkapan layar menunjukkan adegan dari video tentang kamp pengungsi di Malawi, yang direkam oleh koresponden DW Chimwemwe Padatha pada 22 Januari 2026
Menurut pemerintah, sejak tahun 2025, Malawi berada dalam situasi bencanaFoto: Chimwemwe Padatha/DW

Menurut para analis, krisis kelaparan parah di negara-negara di Bumi Selatan tidak mendapatkan perhatian media maupun politik yang semestinya. Anggaran untuk persenjataan jauh lebih besar dibandingkan dana bantuan pangan.

Amina Suleman meninggalkan desanya di Maradun, negara bagian Zamfara, barat laut Nigeria, untuk menghindari serangan militan islamis. "Mereka membunuh banyak, menjarah harta benda dan ternak kami. Mereka membakar semuanya, termasuk persediaan makanan,” tuturnya kepada DW.

Krisis kelaparan di Nigeria kian memburuk

Serangan itu terjadi tujuh tahun lalu, tapi situasi keamanan hingga kini belum membaik. Pasukan pemerintah masih berperang melawan milisi jihadis dan kelompok bandit untuk menghentikan penculikan serta pemerasan.

Kini Suleman tinggal bersama tujuh anaknya di sebuah bangunan kosong dekat Sokoto. "Anak-anak kami harus keluar mengemis agar kami bisa makan. Kami tidak punya sumber makanan selain dari mengemis. Jika mereka mendapat sedikit uang, kami membelikan garri,” ujarnya, merujuk pada makanan ringan berbahan dasar singkong.

Dulu, keluarga mereka makan dari hasil ladang sendiri. Sekarang, makanan hanya cukup untuk sekali sehari. "Kemarin saya tidur dengan perut kosong, karena tidak ada makanan.” Suaminya menganggur, dan tidak ada bantuan yang datang.

Jamila Shehu (37), yang berasal dari desa yang sama, mengatakan para bandit mencuri seluruh harta bendanya. Keluarganya sejauh ini bertahan hidup berkat anak-anaknya yang mengemis. "Kalau mereka membawa sesuatu, kami makan. Kalau tidak, kami hanya bisa menahan lapar,” ungkapnya.

Menurut laporan Global Outlook 2026 dari Program Pangan Dunia (WFP), diperkirakan 318 juta orang di seluruh dunia mengalami kelaparan akut, dengan sebagian besar berada di benua Afrika.

Badan PBB tersebut menyebutkan bahwa saat ini Gaza dan sebagian wilayah Sudan merupakan daerah yang paling terdampak. Ini menjadi pertama kalinya dalam abad ini dua krisis kelaparan akut terjadi secara bersamaan di dua negara berbeda.

Hidroponik: Pertanian Tanpa Tanah Atasi Kelaparan

03:51

This browser does not support the video element.

Media ‘mengabaikan' kelaparan

Banyak krisis kelaparan luput dari perhatian akibat minimnya peliputan, kata peneliti Ladislaus Ludescher dari Universitas Goethe di Frankfurt.

Ia menyebut kelaparan global sebagai "masalah terbesar di dunia yang sebenarnya bisa diselesaikan,” tapi mengkritik pengabaian serius terhadap isu ini di kalangan media dan politik.

"Lebih banyak orang meninggal karena kelaparan dibandingkan akibat tuberkulosis, HIV/AIDS, dan malaria jika digabungkan,” ujarnya kepada DW.

"Setiap 13 detik, seorang anak di bawah lima tahun meninggal karena penyebab yang berkaitan dengan kelaparan. Ini adalah masalah besar yang bisa diatasi jika sumber daya yang memadai disediakan.”

Kesimpulan itu ia sampaikan setelah meneliti 39 media Jerman — termasuk 8.000 laporan berita, sekitar 500 episode talk show politik, dan lebih dari 1.000 edisi media cetak dengan total sekitar 37.000 halaman.

Hasilnya: mengakhiri kelaparan dunia pada dasarnya adalah soal kemauan politik. Namun media, menurutnya, sebagian besar mengabaikan isu tersebut.

Liputan olahraga lebih banyak daripada isu-isu negara berkembang

Menurut Ludescher, sekitar 85% populasi dunia tinggal di negara berkembang, tetapi hanya 10% laporan dalam program berita utama yang membahas mereka. Di media cetak, angkanya bahkan turun menjadi 5%.

Sebagai contoh, pada paruh pertama 2022, program berita utama Jerman, Tagesschau, menayangkan lebih banyak liputan olahraga dibandingkan seluruh isu-isu di negara berkembang jika digabungkan. Unsur soft news seperti olahraga yang lebih menghibur memang kerap menjadi selingan dari berita keras.

Liputan semacam itu memberi jutaan pemirsa pelarian ke dunia yang terasa lebih ringan dan mudah diakses — dunia yang tidak selalu dipenuhi krisis.

Penelitiannya juga menunjukkan bahwa insiden aktor Will Smith menampar komedian Chris Rock di ajang Oscar 2022 mendapat lebih dari dua kali lipat liputan dibandingkan perang saudara di Tigray, utara Etiopia.

"Dalam perang itu, lebih dari 120.000 perempuan diperkosa, dan sekitar 600.000 warga sipil tewas. Itu adalah perang paling berdarah di abad ke-21. Namun, sebagian besar orang di Eropa mungkin belum pernah mendengar sepatah kata pun tentangnya,” ujar Ludescher.

Warga Gaza Terancam Kelaparan

01:12

This browser does not support the video element.

Status darurat di Malawi

Malawi di Afrika bagian selatan secara berkala muncul dalam laporan krisis. "Malawi tengah menghadapi salah satu krisis kelaparan terberat dalam beberapa tahun terakhir akibat kekeringan panjang, curah hujan yang tak menentu, dan tekanan ekonomi,” papar Pamela Kuwali, direktur negara untuk LSM CARE, kepada DW.

"Jutaan keluarga tidak memiliki cukup makanan. Antara sekarang hingga Maret, sekitar empat juta orang berjuang melawan kelaparan serius,” imbuhnya.

Pemerintah Malawi telah berulang kali menetapkan status darurat dalam satu dekade terakhir. Namun, menurut Kuwali, isu ini jarang dibicarakan — dan tidak cukup lantang.

"Ketika media tidak meliput sebuah krisis, krisis itu menjadi tak terlihat. Dan ketika menjadi tak terlihat, semakin sulit menggalang dana, semakin sulit memobilisasi dukungan, dan semakin sulit menarik perhatian politik yang dibutuhkan untuk solusi nyata,” ungkapnya. "Tanpa cerita, tanpa gambar, tanpa tajuk utama, dunia tidak akan merasakan urgensinya.”

Media seharusnya dapat mempertajam kesadaran dunia tentang kelaparan global, mendorong para pengambil keputusan untuk memberi perhatian dan terlibat dalam penyelesaiannya, kata Ludescher. "Dengan sedikit pengecualian, tanggung jawab kemanusiaan dan jurnalistik ini belum dijalankan.”

Penentuan agenda berita memainkan peran besar dalam membentuk perdebatan publik, tambahnya. "Politik dan media memiliki hubungan timbal balik. Media melaporkan apa yang dilakukan politisi dan persoalan yang mereka hadapi. Di sisi lain, politisi juga mengamati isu apa yang mendapat sorotan besar di media, lalu ikut menumpanginya.”

Dunia lebih banyak belanja senjata daripada pangan

Ludescher memperkirakan tambahan dana sekitar 10 hingga 50 miliar dolar AS per tahun sebenarnya sudah cukup untuk menanggulangi krisis kelaparan. Namun, angka itu tampak kecil dibandingkan belanja militer global.

Pada 2024, dunia menghabiskan sekitar 2,7 triliun dolar AS untuk peralatan militer, menurut lembaga pemikir Swedia SIPRI — meningkat 9,4% dibandingkan 2023. Amerika Serikat dan Jerman bahkan telah mengumumkan peningkatan anggaran militer mereka.

Negara-negara kaya, pungkas Ludescher, kini cenderung lebih berfokus ke dalam negeri. "Barat banyak berbicara tentang kemanusiaan dan hak asasi manusia. Dengan membentuk dana kelaparan — misalnya sekitar 100 miliar euro — kita justru akan membangun kredibilitas yang lebih kuat.”

 

Abiodun Jamiu di Nigeria turut berkontribusi pada artikel ini.

Artikel ini diadaptasi dari artikel berbahasa Jerman

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

 

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya