1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Sepatu Baru Isaac: Duka Ibu yang Kehilangan Putranya di Jerman

16 Oktober 2026

“Aman kok, Mam. Kan aku sudah gede,“ kalimat itu terus terngiang di kepala Yuli, ibu almarhum Isaac Averino yang meninggal dunia di Kirchen, Jerman, 18 Maret 2026. Diduga, ia dibunuh rekan satu kosnya.

Isaac Averino
Isaac Averino, meninggal dunia dengan banyak luka di tubuhnya di Kirchen, Jerman, Maret 2026.Foto: privat

Petang itu waktu Jerman, pada tanggal 18 Maret 2026, Sri Yuliawati masih bertukar pesan dengan putranya, Isaac Averino, yang baru pulang bekerja. Sebagai ibu, ia menyimpan kecemasan yang tak mudah diterangkan. Ia mengingatkan Isaac agar cepat pulang. Ia bilang dirinya was-was jika anaknya masih di luar rumah. Isaac menenangkan ibunya. "Aman kok, Mam.” Isaac buru-buru pulang karena mau coba sepatu baru, ungkap Yuli.

Percakapan di hari itu itu berlangsung seperti percakapan mereka pada hari-hari biasa. Tiada firasat bagi sang bunda bahwa itulah hari perpisahan mereka.

Yuli hanya ingin memastikan hatinya tenang jika Isaac sudah sampai di rumah. Rumah, baginya, adalah tempat seseorang terlindung dari bahaya. Apalagi Isaac tinggal di Jerman, jauh dari keluarganya di Jakarta, di lingkungan yang menurut cerita putranya relatif sepi. Ia tak tahu bahwa sekitar beberapa jam kemudian, anaknya meregang nyawa.

"Mengapa aku enggak berada di sana? Kok aku enggak sadar ya hari itu (hari terakhir)?” tanya Yuli mengenang percakapan penghabisan mereka. Ada kalimat putra sulungnya yang lebih sulit ia lepaskan dari benaknya di hari itu: "Aman, kok Mam, kan aku sudah gede.”

Isaac memang sudah dewasa. Usianya 24 tahun. Lulus dari jurusan Mechanical Engineering, konsentrasi Mechatronicsm, Swiss German University (SGU) di Indonesia, Isaac bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jerman. Ia mengurus keperluannya sendiri dan merancang masa depan yang hendak dijalaninya bersama kekasihnya yang setia mendukungnya bertahun-tahun. Bagi Yuli, semua itu semestinya menjadi alasan untuk merasa lega. Putranya sedang bertumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa.

Namun, setelah kematian Isaac, kalimat itu terdengar berbeda baginya. Itu menjadi jawaban sederhana yang tak pernah dibayangkan Yuli akan dikenangnya berulang-ulang.

Sepasang sepatu baru itu

Sepasang sepatu dibeli Isaac pada akhir pekan, beberapa hari sebelum kematiannya. Sepatu lamanya rusak. Yuli menceritakan kembali kata-kata Isaac, bahwa seorang teman kantor memberitahunya bahwa sepatu yang digunakan di Jerman perlu disesuaikan dengan musim. Isaac kemudian membeli sepatu baru. Demikian sang ibunda menuturkan kisah itu di sela tangisnya.

Yuli bercerita, Isaac menunjukkan sepatu itu kepada ibunya. ”Aku ingin mencoba bagaimana rasanya ketika dipakai berlari, kata dia waktu itu.” Bagi Isaac, itu urusan kecil. Bagi Yuli, percakapan tentang sepatu tersebut kini menjadi salah satu kenangan yang sangat menyakitkan. "Mami, aku mau coba sepatu baruku,” begitu yang diingat Yuli.

Dua hari sebelum kematiannya, Isaac juga sempat memperlihatkan kepada Yuli bagaimana ia berlari menggunakan sepatu itu. Di telepon, terdengar napas dan suaranya. Pada hari terakhir, ia kembali berlari-lari setelah pulang bekerja. ”Mami aku mau coba lagi sepatuku,” begitu diingat Yuli.

Pesan yang tak lagi dibalas

Pada pagi hari berikutnya, Yuli kembali menghubungi putranya. Biasanya, ia bertanya apakah Isaac sudah tiba di kantor. Jawaban Isaac sering disertai gurauan. Kadang-kadang ia menjawab "Aku sudah sampai sejak zaman Majapahit, atau zaman Sultan Hasanuddin.” Candaan itu menjadi bagian dari kebiasaan mereka. Namun, kali ini tidak ada jawaban.

Yuli mengirim pesan lagi. Ia bertanya apakah Isaac sudah sampai di kantor atau sedang bekerja dari rumah. Ia menduga mungkin telepon genggam anaknya tertinggal. Bagi seorang ibu yang terbiasa menerima kabar hampir setiap hari, keheningan itu terasa ganjil. ”Aku mencoba mencari orang-orang yang mungkin dapat membantu memastikan keadaan Isaac. Aku menghubungi teman yang anaknya berada di Jerman, lalu mencari kerabat yang tinggal di sana.”

Yuli terus menunggu kabar sambil berharap putranya hanya tak sedang membawa telepon genggam. Hingga kabar duka itu tiba dari salah seorang kenalan kawan Isaac dan Konsulat Jenderal RI di Frankfurt, Jerman. ”Kami mula-mula diberi tahu bahwa putranya meninggal akibat penusukan. Namun, saya tidak membayangkan bahwa luka yang dialami Isaac sedemikian banyak.” Belakangan, keluarga mengetahui rincian luka yang membuat mereka semakin terpukul.

Isaac meninggal dunia pada malam 18 Maret 2026 di tempat tinggalnya di Kirchen, Jerman.Foto: privat

Ibu yang ingat anaknya yang lembut hati

Isaac meninggal dunia pada malam 18 Maret 2026 di tempat tinggalnya di Kirchen, Jerman. Menurut keterangan yang disampaikan Yuli, putranya hendak turun untuk memasak ketika komunikasi dengan orang-orang terdekatnya di tanah air terputus.

Yuli menuturkan sebelum pukul 19.00 waktu setempat, Isaac memberi tahu kekasihnya bahwa ia hendak makan dan memasak. Beberapa menit kemudian, telepon genggamnya masih sempat aktif. Setelah itu, komunikasi mereka terhenti.

Keesokan harinya, keluarga kemudian menerima kabar bahwa Isaac meninggal dunia, dan diduga menjadi korban penusukan. Bagi Yuli, yang merupakan seorang dokter, peristiwa itu sulit dipahami karena ia tidak pernah mengenali Isaac sebagai orang yang mencari masalah. "Dia bukan tipe orang yang menghindari berantem,” ujarnya.

Menurut Yuli, Isaac cenderung menjauh jika berhadapan dengan konflik. Ia juga tidak pernah bertengkar dengan adiknya maupun teman-temannya.

Di Jerman, Isaac tinggal di sebuah apartemen, bersama beberapa penghuni yang berbagi bayar uang sewa dan fasilitas. Menurut penuturan Yuli, putranya biasanya menunggu hingga dapur bersama kosong sebelum turun untuk memasak.

Dua minggu sebelum kejadian, Isaac pernah ingin memperlihatkan keju dua warna yang dibelinya kepada ibunya. Namun Isaac menunda  pergi ke dapur untuk mencobanya karena rekan satu kosnya masih menggunakan dapur. ”Sampai hari kematiannya, keju itu belum sempat dicicipi Isaac,” ungkapnya.

Hampir tiada hari bagi Yuli dan Isaac tanpa berkomunikasi di antara keduanya. Isaac bercerita tentang makanan, sepatu, pekerjaan, bahkan kegiatan sehari-hari yang bagi orang lain mungkin tak penting. ”Saya mengikuti kehidupan anak saya melalui foto makanan, pesan singkat, dan percakapan tentang hal-hal sederhana.” 

Setiap kali Isaac makan, ia kerap mengirimkan foto kepada ibunya. ”Ia juga menunjukkan makanan yang dimasaknya kepada ayah, adik, dan neneknya.” Hubungan itu membuat Yuli merasa dekat dengan kehidupan Isaac meskipun mereka terpisah ribuan kilometer. Karena itu, ketika pesan-pesan Isaac mendadak berhenti, Yuli tak segera memahami apa yang sedang terjadi.

Herryanto, ayah dari Isaac Averino hadiri sidang perdanan kasus kematian anaknya di Pengadilan Koblenz, JermanFoto: Privat

Sering menang lomba dan dapat beasiswa

"Sampai dia lulus kuliah, dia dapat beasiswa 75% karena sebelumnya aku bilang, Koko, kamu kan mau kuliah di Swiss German University. Itu kuliah mahal 30 juta rupiah satu semester. Mami enggak punya uang sebanyak itu.‘ Tapi puji Tuhan dia dapat beasiswa. Sampai lulus, saya cuma bayar per semester tujuh juta rupiah sampai dia lulus,” kenang Yuli bangga. 

Yuli mengenang Isaac sebagai anak yang senang berbagi dan tidak banyak menuntut. Ketika mulai bekerja, Isaac menyisihkan uang untuk neneknya. Menurut Yuli, ia rutin mengirimkan uang setiap bulan, termasuk pada awal Maret 2026, beberapa pekan sebelum meninggal.

Isaac ungkap Yuli dan suaminya juga kerap memberikan hadiah kepada anggota keluarga pada hari ulang tahun atau perayaan lainnya: ”Hadiah itu tidak selalu penting karena harga atau bentuknya. Yang membuat terharu adalah perhatian di balik itu,” tandas Yuli.

Isaac juga berusaha membantu adiknya. ”Jika adiknya menginginkan sesuatu, ia sering berusaha membelikannya. Jika uang adiknya habis, ia bersedia berbagi atau mengirimkan uang,” ungkap Yuli. Bagi Yuli, tindakan-tindakan kecil itulah yang menggambarkan siapa putranya.

Dari penuturan Yuli, Isaac adalah sosok anak muda yang berusaha tetap dekat dengan keluarganya meskipun hidup jauh dari mereka.

Tahun-tahun yang tidak sempat dijalani

Dalam ingatan Yuli, masa depan Isaac masih terbentang panjang. "Ia telah membicarakan rencana pertunangan dengan keluarganya. Isaac memperkirakan akan melamar pasangannya pada 2027, bekerja satu tahun lagi untuk mengumpulkan uang, kemudian menikah pada tahun berikutnya. Namun kini semua rencana sirna. Kasihan kekasihnya," ujar Yuli.

Ia juga pernah berjanji mengajak ibu, ayahnya, dan adiknya bepergian ke luar negeri. "Mami bikin paspor ya,” begitu Yuli mengingat perkataan putranya. Isaac ingin mengajak keluarganya berjalan-jalan.

Namun, rencana-rencana tersebut kini hanya bisa diceritakan sebagai kemungkinan yang tidak pernah terwujud.

Pada tanggal 17 Maret, sehari sebelum meninggal, Isaac masih menelepon Yuli. Mereka membicarakan rencana kunjungan Yuli kepada adiknya yang tinggal di Jakarta. ”Isaac kemudian memutuskan mengirimkan biskuit untuk adiknya, sebab saya tidak akan datang dalam waktu dekat. Biskuit itu tiba di Jakarta pada 29 Maret. Isaac sudah meninggal kala itu dan jenazahnya telah dipulangkan ke Indonesia,” pecah tangis Yuli menceritakan kisah biskuit yang masih mereka simpan di kulkas itu. ”Adiknya tidak ingin memakannya karena menganggapnya sebagai kenangan terakhir dari sang kakak.”

Beberapa hari setelah pemakaman, pakaian yang dipesan Isaac untuk adiknya juga tiba. Barang-barang itu melanjutkan perjalanan yang telah direncanakan pengirimnya. Paket sampai sesuai jadwal, tetapi orang yang memesan dan mengirimkannya tidak lagi ada.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kedatangan barang-barang tersebut menjadi pengingat bahwa Isaac masih sempat merencanakan sesuatu untuk orang-orang yang dikasihinya dengan tulus hingga akhir hayatnya.

*Edior: Yuniman Farid dan Rizki Nugraha

**Wawancara dilakukan tanggal 13 Oktober 2026, sekitar lebih dari setengah tahun sejak kematian Isaac, 18 Maret 2026, di Kirchen am Sieg, Jerman

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait