1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PendidikanJerman

Kemampuan Baca Anak SD di Jerman Lebih Buruk dari Rerata UE

18 Mei 2023

Status sosial dan kebiasaan menggunakan bahasa Jerman di rumah cenderung menjadi dua faktor utama mengapa keterampilan membaca anak-anak sekolah dasar kelas empat Jerman lebih buruk daripada rata-rata Eropa.

Anak-anak sekolah dasar Jerman
Anak-anak membaca di sekolah dasar JermanFoto: Martin Schutt/dpa/picture-alliance

Sebuah studi internasional lima tahunan yang diterbitkan pada hari Selasa (16/05) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak sekolah Jerman di akhir kelas empat (ketika anak-anak dalam sistem pendidikan Jerman berusia 10 tahun) telah memburuk dalam 20 tahun terakhir dan lebih rendah daripada anak-anak lainnya di Uni Eropa.

Menurut hasil Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2021 dalam studi membaca (dikenal di Jerman dengan akronim berbeda, IGLU), 25% anak-anak Jerman tidak mencapai apa yang dianggap sebagai standar minimum untuk memenuhi tantangan akademik yang akan dihadapi nantinya di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Penelitian Jerman Bettina Stark-Watzinger menyebut rasio 1 banding 4 ini "mengkhawatirkan".

Saat studi pertama kali dilakukan pada tahun 2001, angkanya 17% atau kurang dari 1 banding 5. Penulis laporan mengatakan bahwa setiap anak yang tidak memenuhi standar minimum akan mengalami "kesulitan yang cukup besar di hampir semua mata pelajaran sekolah" di tahun-tahun berikutnya, kecuali mereka berhasil menutupi kekurangan tersebut.

Adapun skor membaca rata-rata anak-anak Jerman hanya 529 poin, bandingkan dengan rata-rata 539 poin pada tahun 2001 dan 537 poin selama studi tahun 2016.

Perbandingan dengan anak-anak di negara UE lainnya

Sebagai perbandingan, di luar kawasan Uni Eropa skor rata-rata di Singapura adalah 587, disusul Hong Kong dengan skor 573. Lebih dari 60 negara, sebagian besar negara yang lebih kaya dan lebih berkembang, berpartisipasi dalam PIRLS secara keseluruhan. Sementara rata-rata anak sekolah Finlandia mendapat skor 549, begitu pula Polandia dan Swedia di skor 544.

Sebagian besar negara-negara yang lebih kaya idealnya mendapat skor lebih dari 500, meskipun salah satu yang berkinerja terburuk di Eropa adalah wilayah dwibahasa Belgia yang sebagian besar berbahasa Prancis di selatan negara itu, dengan skor 494.

Hanya tiga negara di Afrika yang berpartisipasi dalam studi tersebut, yang menunjukkan bahwa delapan dari 10 anak sekolah di Afrika Selatan kesulitan membaca dengan baik pada usia 10 tahun. Maroko dan Mesir juga ikut serta dalam studi ini.

Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) dikenal dengan akronim lain di Jerman, yakni IGLUFoto: Marcus Führer/dpa/picture-alliance

Sosiolog Nele McElvany memimpin tim yang mempresentasikan temuan mereka di Berlin pada hari Selasa (16/05).

McElvany mengidentifikasi empat faktor utama yang menurutnya tampak terlihat dari studi mereka tentang data kinerja murni — salah satunya bersifat sementara dan khusus untuk tahun 2021, tetapi tiga di antaranya permanen dan tampaknya merupakan bagian dari tren yang berjalan lebih lama.

Ditanya tentang dampak pandemi COVID-19, McElvany mengatakan hal itu pasti berdampak pada skor tahun 2021. Namun, dia berpendapat bahwa bukti menunjukkan serangkaian tantangan yang lebih permanen.

"COVID tentu menjadi bagian dari penjelasan kali ini," kata McElvany kepada penyiar publik Jerman ARD. "Namun, pada saat yang sama kita harus ingat bahwa tren penurunan kompetensi membaca rata-rata di Jerman ini telah diamati sejak 2006."

Nele McElvany mengatakan bahwa COVID-19, status sosial ekonomi, bahasa yang digunakan di rumah, dan bahkan jumlah waktu kelas yang dihabiskan untuk membaca semuanya tampaknya merupakan bagian dari indikatorFoto: Jürgen Heinrich/IMAGO

Meskipun McElvany menekankan bahwa pekerjaannya lebih berfokus pada pemrosesan data daripada menemukan penjelasan, dia mengatakan beberapa pola tampak jelas.

Dia menyinggung tren berulang dari anak-anak dari latar belakang yang lebih kaya atau berpendidikan lebih baik atau sering kali keduanya, cenderung lebih baik dalam studi semacam itu, terutama pada usia dini.

"Ada juga perubahan di ruang kelas kami. Kami memiliki lebih banyak anak di sekolah yang tidak lagi berbicara bahasa Jerman di rumah. Untuk sekolah dasar, ini bukan tantangan baru, tetapi ini adalah tantangan yang berkembang," kata McElvany.

Negara-negara lain dengan populasi migran yang lebih besar dan tren budaya multibahasa yang berkembang, seperti Belanda dan Belgia, menunjukkan tren penurunan seperti Jerman, perbedaan yang lebih besar dari rata-rata antara anak-anak yang berkinerja terbaik dan terburuk.

McElvany mengatakan sekolah dasar di Jerman menghabiskan sekitar 140 menit seminggu untuk kegiatan membaca, dibandingkan dengan rata-rata sekitar 200 menit di negara-negara OECD dan Eropa yang sebanding.

Kekhawatiran para politisi

Menteri Pendidikan Stark-Watzinger mengatakan temuan itu harus menjadi peringatan.

"Studi IGLU menunjukkan bahwa kita sangat membutuhkan koreksi dalam haluan politik pendidikan,” kata Watzinger. "Sangat mengkhawatirkan jika seperempat siswa kelas empat kami dianggap pembaca yang lemah."

Stark-Watzinger kemudian mengutip sebuah proyek khusus pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari latar belakang yang kurang beruntung secara sosial. Dia mengatakan bahwa pemerintah berusaha menawarkan dukungan "berkelanjutan".

Studi ini adalah yang terbaru dari beberapa studi serupa. Pada 2022 studi lain oleh Universitas Humboldt di Berlin — disebut Tren Pendidikan IQB — menemukan penurunan nilai sekolah dasar dalam matematika dan bahasa Jerman.

Politisi lain dalam partai koalisi yang berkuasa juga melihat kesempatan untuk mendiskusikan rencana mereka untuk membantu sekitar 4.000 anak yang kurang beruntung mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Pemimpin SPD Saskia Esken mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "kami tidak dapat menerima korelasi antara latar belakang sosial dan keberhasilan akademik."

Seorang juru bicara kebijakan pendidikan untuk Partai Hijau, Nina Stahr, menyebut penelitian ini sebagai "sinyal peringatan lain untuk politik pendidikan di semua tingkatan" dan mendesak negara bagian Jerman untuk mulai memikirkan bagaimana menerapkan rencana pemerintah federal yang masih baru lahir.

ha/hp (AFP, dpa, KNA)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait