1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kemenangan Ahmadinejad di Iran

27 Juni 2005

Pemerintahan negara-negara Barat khawatir, kemenangan Ahmadinejad akan menguatkan kecenderungan radikalisasi di Republik Iran.

Mahmud Ahmadinejad, presiden baru Iran
Mahmud Ahmadinejad, presiden baru IranFoto: dpa

Terpilihnya tokoh garis keras Mahmud Ahmadinejad jadi berita di halaman pertama harian-harian Eropa. Dalam konferensi pers pertama setelah menang pemilu, Ahmadinejad berusaha tampil dengan nada agak moderat. Ia menyatakan akan melanjutkan dialog dengan Eropa mengenai program nuklir Iran. Tapi ia juga menegaskan, Iran perlu teknologi nuklir.

Harian konservatif Perancis ‚Le Figaro’ menulis:

„Kemenangan tokoh ultrakonservatif yang mengejutkan dalam pemilihan presiden adalah langkah mundur, yang tidak menjanjikan hal positif bagi Iran maupun bagi Barat. Masa depan warga Iran kelihatannya suram. Ruang-ruang kebebasan yang selama ini diperjuangkan tidak banyak, sekarang semuanya kembali terancam. Kaum perempuan adalah kelompok pertama yang akan merasakan dampak arah politik yang dikumandangkan, yaitu kembali ke nilai-nilai revolusi.“

Harian ‚Liberation’ yang terbit di Paris menilai, hasil pemilu presiden di Iran adalah pukulan bagi gerakan reformasi, yang tidak berhasil mengaitkan agenda reformasinya dengan langkah-langkah pembaruan sosial. Juga di Jerman, hasil pemilu di iran dinilaoi sebagai langkah mundur. Harian ekonomi ‚Handelsblatt’ yang terbit di Düsseldorf menulis:

„Memang, kubu reformis mengalami kekalahan besar. Sekarang seorang fundamentalis terpilih memimpin Iran. Ahmadinejad, yang ikut dalam pendudukan Kedutaan Besar Amerika Serikat tahun 1979, punya tujuan jauh berbeda dari Rafsanjani, yang ingin modernisasi. Ahmadinejad ingin kembali ke akar-akar revolusi, kembali ke fundamen moral dan relijius Negara Agama.“

Sementara Harian ‚General Anzeiger' yang terbit di Bonn berkomentar:

„Tujuan para Mullah yang ortodoks terpenuhi. Setelah eksperimen liberalisasi selama 8 tahun, mereka ingin kembali kepada kesatuan pimpinan spiritual dan pimpinan kenegaraan. Menguatnya kecenderungan anti barat dan anti liberal akan berdampak pada politik luar negeri, pada perkembangan di Irak, di kawasan Timur tengah, maupun dalam hubungan dengan Amerika Serikat“.

Bagi Eropa, perkembangan politik di Iran punya aspek penting tersendiri, yaitu kelanjutan konsultasi mengenai program nuklir. Eropa selama ini berusaha mencegah eskalasi sengketa nuklir. Harian Belanda ‚de Volkskrant’ menilai, perundingan dengan Iran akan jadi lebih rumit.

„Jaminan pemerintah Iran untuk tidak memproduksi senjata atom, sering tidak sejalan dengan fakta-fakta di lapangan. Belum terlambat untuk menemukan penyelesaian diplomatik dari masalah krusial ini. Tapi para perunding Eropa sekarang harus lebih tegas lagi.“

Inggris adalah salah satu negara yang sejak awal terlibat dalam konsultasi program nuklir Iran. Karena itu, media di Inggris terutama menyoroti kemungkinan perkembangan konsultasi ini. Harian ‚The Guardian’ menulis:

"Tes pertama untuk politik luar negeri Iran adalah kelanjutan perundingannya dengan Uni Eropa mengenai program nuklir. Kebanyakan anggota delegasi yang berunding berasal dari kubu liberal. Jika mereka diganti, atau mereka mendapat instruksi lain dari sebelumnya, ini akan jadi sinyal jelas. Mungkin juga perkembangannya tidak seperti yang dikhawatirkan. Karena sistem di Iran juga tetap punya fleksibilitas dan akal sehat. Bagaimanapun, kemungkinan meruncingnya konflik dengan Amerika Serikat sekarang meningkat.“

Harian konservatif Austria ‚die Presse’ yang terbit di Wina, meragukan kelanjutan konsultasi Uni Eropa dengan Iran. ‚Die Presse’ menulis:

„Politik Iran yang dijalankan Eropa dibangun diatas ilusi, bahwa negara Mullah ini bisa direformasi. Politik itu ternyata gagal. Kedok pembaruan, yang diwakili oleh Khatami dan sempat membuat Eropa tenang, sekarang tercabik. Dengan terpilihnya Ahmadinejad, Iran menunjukkan wajah yang sebenarnya. Adegan kaum reformis berakhir. Pertunjukan dilanjutkan dan sebuah tragedi mendekat: sengketa program atom Iran.“