Pemerintah India menyadari pohon punya andil besar memerangi desertifikasi, polusi, serta perubahan iklim, dan sekarang sedang melakukan sensus besar-besaran jumlah pohon yang mereka miliki.
Hutan-hutan di India terancam pembalakan liarFoto: Adarsh Sharma/DW
Iklan
Institut Penelitian Hutan India sedang mengorganisir penghitungan semua pohon di seluruh wilayah ibu kota India, New Delhi, di tengah kontroversi kasus penebangan ilegal. Sensus pohon ini telah direstui Mahkamah Agung India, yang lantas menginstruksikan Institut Penelitian Hutan untuk segera bekerja meningkatan area hijau kawasan ibu kota.
Proyek ini diberikan tenggat waktu empat tahun dan diperkirakan akan menghabiskan anggaran sekitar 44,3 juta rupee India atau sekitar 8,7 miliar rupiah.
Dalam tenggat waktu tersebut, para petugas sensus diharapkan untuk melakukan lebih dari sekedar menghitung pohon-pohon di wilayah tersebut. Para ahli dan sukarelawan harus mengkategorikan pohon-pohon tersebut berdasarkan spesies, tinggi, diameter batang, kesehatan, dan titik lokasinya. Bagi para ilmuwan iklim, yang paling penting untuk dicatat adalah apa yang disebut massa karbon pohon - berapa banyak karbon yang dapat diserap pohon tersebut dari atmosfer melalui fotosintesis.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Satu pohon per orang
India menargetkan emisi nol karbon pada tahun 2070 dan pohon-pohon memiliki peran penting mengendalikan emisi karbon di negara terpadat di dunia ini. Pohon tak sekadar mengurangi emisi karbon, tapi juga untuk mencegah deforestasi. Studi pada tahun 2019 yang dilakukan badan antariksa India, ISRO melaporkan, sekitar 30% wilayah India berisiko mengalami desertifikasi atau penggurunan dan dengan memiliki lebih banyak pohon, terutama di kota-kota, dapat mengurangi dampak polusi dan kematian akibat gelombang panas.
Iklan
Dr. Smitha Hegde, seorang ahli tanaman, meyakini "setidaknya satu pohon per orang" diperlukan untuk mencapai emisi nol karbon. Hegde menyatakan hal tersebut dalam sebuah wawancara dengan pembuat konten Q Head di YouTube, di sana Smitha juga menjelaskan sensus pohon tahun 2023 di kota pelabuhan Mangalore yang dilakukannya bersama tim yang terdiri dari 40 sukarelawan. Di kota tersebut, ia hanya menemukan sekitar 19.000 pohon di kota yang berpopulasi sekitar 600.000 jiwa.
Sebagai catatan, butuh waktu satu tahun penuh untuk menyelesaikan sensus di kota yang ukurannya jauh lebih kecil dari New Delhi ini.
Kurangi Risiko Kebakaran Hutan dengan Deteksi AI
03:56
Kecerdasan buatan (AI) dan pesawat nirawak gantikan manusia?
Sebagian besar pengukuran dan penghitungan masih dilakukan secara manual di India, dengan data yang disortir ke dalam lembar Excel. Pada saat yang sama, para petugas sensus mulai menggabungkan teknologi modern seperti penginderaan jarak jauh, LiDAR (Light Detection and Ranging), pesawat nirawak - drone, dan GIS (Geographic Information Systems), untuk meningkatkan akurasi data dan kecepatan proses perhitungan.
Dalam wawancara online, Hegde mengakui bahwa teknologi modern dapat membuat proses survei pohon menjadi lebih mudah dan cepat. Namun, sistem yang sepenuhnya otomatis untuk proses ini belum dikembangkan.
Berbicara dengan DW, ilmuwan AI, Arpit Yadav mengatakan, meningkatkan infrastruktur teknologi membutuhkan "investasi yang sangat besar.”
"Teknologi kecerdasan buatan menggunakan metode visi komputer dan deteksi objek. Ketika pesawat nirawak terbang di atas hutan atau area mana pun, mereka menggunakan deteksi objek untuk mengidentifikasi pohon dan menghitungnya. Data ini kemudian dikirim ke server, yang membuat proses penghitungan menjadi lebih cepat dan akurat," jelas Yadav.
"Semakin baik infrastruktur teknologi yang kita bangun, semakin sedikit kebutuhan untuk kerja lapangan," tambah Yadav, "jika kita tidak memiliki cukup banyak drone dan teknologi yang canggih untuk meminimalisir kesalahan, maka keterlibatan manusia untuk melakukan pendataan masih sangat dibutuhkan.”
Fakta Menakjubkan Seputar Pepohonan
Pepohonan menyerap karbon dari atmosfer, menjadi rumah bagi satwa dan meningkatkan kesejahteraan mental. Tapi tahukah Anda bahwa pepohonan juga dapat "berkomunikasi dan mengirimkan sinyal tanda bahaya saat diserang?
Foto: picture-alliance/Goldmann
Lebih dari 60.000 spesies
Ada sekitar 3 triliun pohon di planet ini, menurut studi global yang dipimpin oleh peneliti Universitas Yale, termasuk lebih dari 60.000 spesies pohon yang dikenal. Lebih dari setengahnya endemik, artinya hanya ditemukan di satu negara. Brasil, Kolombia, dan Indonesia adalah rumah bagi spesies pohon terbanyak. Namun saat ini terdapat 46% lebih sedikit pohon dibandingkan awal peradaban manusia.
Foto: picture-alliance/Wildlife
'Bermigrasi' untuk hindari perubahan iklim
Pepohonan jelas tidak dapat berpindah tempat sendiri, tapi pusat populasi mereka dapat bergeser seiring waktu sebagai respons tekanan iklim. Studi yang mengamati 86 spesies pohon antara tahun 1980 - 2015 di AS menemukan bahwa 73% pohon bergerak ke barat, di mana curah hujan meningkat. Yang lain menuju ke kutub untuk menghindari panas. Rata-rata, pepohonan bergerak sekitar 16 kilometer per dekade.
Foto: picture-alliance/blickwinkel/R. Linke
Punya kekuatan untuk penyembuhan
Pohon dapat mengurangi tingkat stres, membantu manusia merasa lebih bahagia dan lebih sehat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di alam, atau bahkan hanya melihat pohon atau bunga lewat jendela, dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kualitas tidur, mengurangi depresi dan kecemasan, bahkan mempercepat pemulihan setelah operasi.
Foto: picture-alliance/dpa/C. Klose
Pohon saling 'berkomunikasi'
Hutan punya sistem komunikasi tersendiri - hampir seperti internet bawah tanah yang memungkinkan mereka bertukar nutrisi dan mengirim peringatan tentang kekeringan atau penyakit. Pohon berinteraksi melalui jaringan jamur tanah. Penelitian oleh ahli ekologi Suzanne Simard menunjukkan bahwa pohon birch (foto) dan pohon cemara menggunakan sistem ini untuk saling berkirim air, karbon dan nutrisi.
Foto: picture-alliance/All Canada Photos
Mengirim sinyal ke udara
Pohon memang tidak bisa lari jika daunnya dimakan oleh herbivora lapar. Yang bisa mereka lakukan adalah melepaskan senyawa organik yang mudah menguap ke udara untuk memperingatkan anggota spesies yang sama di dekatnya atas adanya ancaman. Studi menunjukkan bahwa pohon-pohon lain merespons dengan meningkatkan produksi racun antiherbivora. Dalam kasus pohon akasia di gambar, daunnya menjadi pahit.
Foto: picture-alliance/Anka Agency International
Dapat memanggil bala bantuan
Saat dikepung oleh serangga atau parasit, beberapa spesies seperti pohon apel, tomat, dan ketimun melepaskan senyawa ke udara untuk mengingatkan pemangsa penyerang. Seringnya predator tersebut berupa serangga. Tetapi sebuah penelitian di Eropa menunjukkan bahwa pohon yang dipenuhi ulat juga dapat mengeluarkan sinyal kimia untuk menarik burung pemakan ulat.
Pohon adalah organisme hidup tertua di dunia. Satu individu dapat bertahan hidup ratusan, bahkan ribuan tahun. Menurut OldList yang membuat catatan resmi tentang pohon-pohon kuno, individu tertua yang masih hidup adalah pinus bristlecone di Pegunungan Putih California. Pohon ini dinamai Methuselah, usianya sekitar 4.850 tahun. Lokasi dirahasiakan untuk melindunginya dari vandalisme.
California adalah rumah bagi pohon sequoia raksasa bernama General Sherman, yang dianggap sebagai pohon hidup dengan volume terbesar. Pohon ini membentang setinggi 83,8 meter dengan diameter 7,7 meter. Sementara predikat pohon terluas di dunia jatuh ke Arbol del Tule (di foto), sejenis cemara di Meksiko, dengan diameter 11,6 meter dan keliling 42 meter.
Foto: picture-alliance/ImageBroker/
8 foto1 | 8
Satelit tidak dapat mendeteksi aktivitas penggembalaan
Selain metode tradisional dan metode berbasis kecerdasan buatan, banyak negara juga menggunakan teknologi satelit untuk menghitung jumlah pohon. Dalam proses ini, satelit mengambil foto dan mengirimkan gelombang radio atau sinyal gelombang mikro, yang memantul di permukaan bumi dan memproyeksikan berbagai jenis data.
Namun, teknologi luar angkasa pun memiliki keterbatasan. "Satelit tidak dapat mengetahui apakah penggembalaan sedang terjadi di suatu wilayah atau tidak. Untuk itu, kunjungan lapangan sangat diperlukan," Purabi Saikia, seorang profesor ahli ekologi hutan di Banaras Hindu University. Ia membagikan pengalamannya melakukan pemetaan dan penilaian hutan di beberapa negara bagian di India kepada DW.
Hutan dan Pohon: Bukan Hanya Paru-Paru Dunia
Hari Hutan Internasional adalah saatnya untuk menghargai alam sekeliling kita yang hijau. Tahun ini, yang jadi salah satu fokusnya energi yang bisa diperbaharui. Sumber energi tertua dan bisa diperbaharui adalah kayu.
Foto: Reuters
Panggilan bagi Hutan
Rimba, kayu, hutan, hutan kecil. Semua kawasan tempat tumbuhnya kayu jadi perhatian utama pada Hari Hutan Dunia tanggal 21 Maret. Hari ini ditetapkan Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 2012. Karena temanya berganti-ganti tiap tahun, ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran akan hutan dan kegunaannya yang beraneka ragam. Tema tahun ini: hutan dan energi.
Foto: picture-alliance/Arco Images/J. & A. Kosten
Seberapa Banyak Kayu Dibutuhkan?
Hutan adalah basis banyak tipe energi. Jika digunakan sebagai bahan bakar, kayu bisa berguna dalam bentuk padat, gas dan cair. Bahan bakar kayu misalnya kayu bakar, gas kayu, bioetanol menghasilkan energi bagi satu dari tiap tiga rumah tangga di seluruh dunia. Kayu terutama digunakan untuk memasak, memanaskan ruangan dan mendidihkan air.
Foto: picture-alliance/dpa
Bahan Bakar Kayu Adalah Energi Terbarukan
Hutan-hutan adalah sumber bahan bakar yang bisa didaurulang. Jumlahnya tidak sedikit, sekitar 40% sumber energi di dunia. Emisi yang dilepas ke atmosfir jika kayu dibakar kembali dihilangkan dari udara lewat pohon-pohon yang baru ditanam, karena pohon-pohon menggunakan dan menyimpan CO2. Ini semua tidak ada pada bahan bakar fosil.
Foto: Fotolia/maho
Asap Adalah Dampak Mematikan
Sekitar 50% kayu digunakan untuk menghasilkan energi tiap tahunnya. Di Asia, jumlahnya 60% persen, dan di Afrika bahkan 90%. Asap yang dihasilkan jadi masalah, tertuma bagi kesehatan orang. 4,3 juta orang meninggal tiap tahunnya karena polusi udara di dalam ruangan. Itu lebih dari jumlah seluruhnya kematian akibat malaria, tuberkulosis dan HIV.
Foto: Reuters/M. Al Hwaity
Bekerja dengan Kayu
Kayu adalah sumber pekerjaan yang penting. Di negara-negara berkembang, sumber keuangan sekitar 883 juta orang sepenuhnya atau sebagian berasal dari kayu. Dengan bahan bakar organik yang mulai bermunculan, jumlahnya bisa bertambah, juga di negara-negara berkembang.
Foto: picture-alliance/AP Photo/J. Holden
Dari Kayu Hasil Tebangan?
Popularitas briket arang dan pelet semakin tinggi dalam beberapa hari belakangan. Bentuk ini tidak hanya lebih kecil dan mudah digunakan, tapi juga bisa diproduksi dengan bahan selain kayu, misalnya rumput dan abu penggergajian kayu. Keuntungan lain, tranpornya lebih aman dan mudah, dibanding misalnya bahan bakar gas atau minyak dari fosil.
Foto: German Pellets
Tempat Teduh di Kota Yang Panas
Kayu tidak hanya bagus untuk memanaskan. Di planet bumi yang tambah panas, pohon juga bisa jadi penyejuk. Di kota-kota yang terlalu panas, pohon jadi penyejuk sampai sekitar 8° Celcius. Jika udara kota yang lebih sejuk berarti pendingin ruangan tidak terlalu banyak diperlukan di gedung-gedung.
Foto: Public Domain
Pembalakan Liar Ancam Paru-Paru Hijau Dunia
Rimba hutan tropis memegang peran utama dalam menyimpan CO2. Hutan rimba amazon terancam penebangan ilegal karena pohon ditebang dan lahan dibuka untuk pertanian, pertambangan dan proyek konstruksi. Ilmuwan memperingatkan, hutan harus diselamatkan jika iklim bumi ingin dijaga. Penulis: Jessie-May Franken (ml/hp)
Foto: Reuters
8 foto1 | 8
Masyarakat lokal adalah sekutu perjuangan perlindungan pohon
Sensus pohon mempermudah pelacakan spesies invasif atau asing serta dapat melindungi pohon dari penebangan liar. Dalam perjuangan ini, para pejuang konservasi dapat meminta bantuan dari komunitas lokal, terutama mereka yang kesehariannya begitu erat dengan pepohonan. Beberapa orang di India masih menganggap pohon-pohon tertentu sebagai sesuatu yang sakral, sementara yang lain hanya mengakui dampak pengobatan medisnya.
"Mereka yang kehidupannya begitu tergantung pada hutan akan lebih bertanggung jawab menggunakan sumber daya di dalamnya, sementara mereka yang kurang bergantung sering kali menyebabkan lebih banyak kerusakan,” kata Saikia kepada DW.
Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris