Pusat kebudayaan Rusia di Berlin giat menyebarkan propaganda Kremlin, sembari menerima bantuan dana dari pemerintah Jerman. Namun penutupannya tidak semudah membalik telapak tangan.
Pusat kebudayaan Russisches Haus atau Rumah Rusia di Berlin, JermanFoto: Schoening/picture alliance
Iklan
Sebuah bangunan megah berlantai tujuh di jantung ibu kota Jerman, tepatnya di Friedrichstrasse, tengah menjadi sorotan tajam dan bahan perdebatan sengit di Berlin: "Russisches Haus” atau "Rumah Rusia”, peninggalan dari masa lalu ketika hubungan Jerman dan Uni Soviet masih harmonis.
Diresmikan pada tahun 1984, bangunan seluas hampir 30.000 meter persegi itu awalnya ditujukan untuk merayakan persahabatan antara Jerman Timur dan Uni Soviet, lewat konser, pemutaran film, pembacaan buku, dan toko buku kecilnya sendiri.
Hingga kini, pihak pengelola mengklaim bahwa mereka dimandatkan untuk mempromosikan persahabatan antarnegara. "Russisches Haus adalah kedutaan budaya Rusia di jantung kota Berlin,” demikian pernyataan situs resmi Kedutaan Besar Rusia di Jerman.
Namun, tidak sedikit kritikus yang menuding kegiatan di sana, yang menurut klaim resmi dikunjungi sekitar 200.000 orang setiap tahun, lebih banyak menjadi corong propaganda Rusia di bawah pemerintahan Vladimir Putin.
Sabun berbentuk tank
Media lokal Berlin kerap melaporkan penyelenggaraan acara yang kontroversial di dalam gedung itu. Salah satunya adalah pemutaran film tentang Holocaust, yang menggambarkan warga sipil Ukraina sebagai Nazi.
Politisi Partai Hijau di parlemen federal Jerman, Robin Wagener, bahkan menyebut bahwa orang tua bisa membeli sabun untuk anak-anak berbentuk tank di Rumah Rusia. Kepada Deutsche Welle (DW), Wagener menyatakan, "Sudah waktunya kita menyadari bahwa ini bukan kerja sama budaya timbal balik, melainkan propaganda perang Rusia di Jerman.”
Menlu Jerman: Rusia Gunakan Propaganda Baru
03:17
This browser does not support the video element.
Tanah Jerman, dioperasikan oleh Rusia
Rumitnya, lahan tempat berdirinya gedung tersebut masih dimiliki pemerintah Jerman, namun dioperasikan oleh badan pemerintah Rusia, Rossotrudnitschestwo — atau secara resmi: Badan Federal untuk Urusan Negara-negara CIS, Warga Rusia di Luar Negeri, dan Kerja Sama Kemanusiaan Internasional. Lembaga ini bertugas menyebarkan bahasa dan budaya Rusia ke luar negeri, dan saat ini menjalankan 73 pusat kebudayaan di 62 negara.
Namun sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Rossotrudnitschestwo masuk dalam daftar sanksi Uni Eropa. UE menyatakan bahwa lembaga ini berupaya membentuk persepsi publik bahwa wilayah pendudukan Ukraina adalah bagian dari Rusia. Kepala dan wakil kepala Rumah Rusia diketahui secara terbuka mendukung agresi militer Vladimir Putin terhadap Ukraina.
Iklan
70.000 euro pajak tanah
Meski demikian, pemerintah Jerman tetap menggratiskan pajak tanah tahunan sebesar 70.000 euro untuk aset Rusia tersebut. Hal ini merujuk pada perjanjian bilateral tahun 2013 antara Jerman dan Rusia mengenai properti lembaga kebudayaan. Wagener kini menuntut agar dalam pembahasan anggaran yang akan datang, keringanan pajak bagi instansi Rusia dihapus dari anggaran negara.
Menurutnya, perjanjian itu dibuat dalam semangat pertukaran budaya timbal balik yang kini tak lagi berlaku. "Rusia terus meningkatkan eskalasi konflik. Situasinya makin memburuk. Landasan dari perjanjian budaya ini adalah untuk saling bertukar secara budaya dan ilmiah,” tegasnya.
Misi Dialog Budaya: Goethe Institut Berusia 70 Tahun
Goethe Institut didirikan 9 Agustus 1951 dengan misi menggalang dialog budaya. Dengan cepat lembaga ini berkembang menjadi duta Jerman untuk bahasa dan budaya.
Foto: Michael Friedel/Goethe-Institut
Didirikan di München
Enam tahun setelah Perang Dunia II berakhir, Goethe Institut resmi didirikan menggantikan Deutsche Akademie (DA). Pada awalnya, lembaga ini berkonsentrasi pada pelatihan guru bahasa Jerman. Dalam foto ini, pelajar bahasa Jerman dari Ghana terlihat berjalan-jalan bersama keluarga angkatnya di Murnau, Bayern.
Foto: Michael Friedel/Goethe-Institut
Citra positif Jerman
Pada tahun-tahun awal, tujuan lembaga ini adalah untuk menciptakan citra positif Jerman setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1952, institut pertama di luar negeri dibuka di Athena, Yunani. Kota-kota lain menyusul, seperti di Mumbai, India (pada foto), di mana institut ini dinamai menurut Indolog Jerman, Max Mueller. Di Jerman, kursus ditawarkan di lokasi-lokasi yang indah.
Foto: Michael Friedel/Goethe-Institut
Mengubah citra pusat propaganda dan mata-mata
Secara politis, Goethe Institut merupakan upaya Jerman untuk memulai awal baru. Pasalnya, Deutsche Akademie yang didirikan pada tahun 1925 telah berubah menjadi alat propaganda Nazi. Pada tahun 1945, pasukan Amerika membubarkan Deutsche Akademie, yang mereka anggap sebagai "pusat propaganda dan mata-mata di seluruh Eropa" untuk Nazi. Foto siswa GI di Schwäbisch Hall pada tahun 1970-an.
Foto: Goethe-Institut
Musik Jazz atas nama Goethe
Pada tahun-tahun berikutnya, semakin banyak cabang Goethe Institut dibuka di berbagai negara di seluruh dunia, misalnya di Afrika Utara dan Barat, yang mana pada 1950-an dan 1960-an, merupakan negara-negara baru muncul setelah berakhirnya kolonialisme. Institut dan perwakilannya juga populer di Asia. Pemain saksofon Jerman, bintang jazz Klaus Doldinger (paling kanan), bersama musisi di Pakistan.
Foto: Goethe-Institut
Berkembang jadi jaringan global
Lab bahasa jadi tren paling anyar, saat belajar bahasa Jerman di tahun 1980-an. Haluan strategi baru lembaga ini telah membuahkan hasil, Sejak tahun 1960 lembaga budaya Jerman yang aktif di luar negeri diintegrasikan menjadi jaringan yang luas. Saat ini, 157 institut di 98 negara menyebarluaskan informasi tentang budaya dan bahasa Jerman.
Foto: Michael Friedel/Goethe-Institut
Melempari Ayatollah dengan pakaian dalam
Pada tahun 1987, Rudi Carrell, seorang pembawa acara talk show satir dari Belanda, membuat kehebohan, ketika ia menyajikan sketsa televisi yang menunjukkan orang-orang melemparkan bra dan celana dalam ke pemimpin revolusioner Iran, Ayatollah Khomeini. Teheran berang dan mengusir diplomat Jerman, melarang penerbangan ke Jerman serta menutup Goethe Institut di sana.
Foto: Dieter Klar/dpa/picture alliance
Membuka gerbang ke timur
Setelah "Tirai Besi" runtuh, Goethe Institut melebarkan sayapnya ke Eropa Timur. Para pendiri lembaga pertama di negara-negara bekas komunis harus banyak berimprovisasi. Pada tahun 1992, Menteri Luar Negeri Jerman, Klaus Kinkel, meresmikan Goethe Institut di Moskow. Lembaga ini tidak hanya tumbuh di luar Jerman, tetapi juga di kawasan bekas Jerman Timur.
Foto: Goethe-Institut
Promosikan dialog perdamaian dan saling pengertian
Serangan teror 11 September 2001 juga menggeser fokus Goethe Institut. Dialog dan pemahaman antarbudaya menjadi prioritas utamanya. Lembaga ini sekarang berfokus pada penguatan masyarakat sipil dan pencegahan konflik. Gambar ini menunjukkan proyek seni dan musik "Kunstdisco" di Seoul, Korea Selatan.
Foto: Goethe-Institut
Menari dengan robot
Pada tahun 2016, Goethe Institut memulai "Kultursymposium Weimar," di mana para pemikir dari seluruh dunia mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan mendesak di zaman ini. Pada tahun 2019 digelar festival bertajuk "Die Route wird neu berechnet" (Rute sedang dikalibrasi ulang), di mana para peserta mendiskusikan perubahan teknologi yang sangat cepat di masyarakat.
Foto: Goethe-Institut
Gambaran menyeluruh tentang Jerman
Lembaga ini secara teratur menyelenggarakan "Deutschlandjahre" (tahun Jerman) bersama dengan Kementerian Luar Negeri. Tujuan acara ini adalah untuk mempromosikan citra Jerman yang menyeluruh. "Deutschlandjahr" 2018/19 di AS dihadiri oleh total dua juta tamu yang menghadiri 2.800 acara. Acara tahun sebelumnya diadakan di Meksiko, di mana Kanselir Angela Merkel hadir sebagai tamu.
Foto: Goethe-Institut
70 tahun dan usia terus bertambah
Pandemi COVID memicu gelombang digitalisasi. Dipimpin oleh presiden Goethe Institut, Carola Lentz dan Sekretaris Jenderal Johannes Ebert, institut tersebut akan merayakan hari jadinya yang ke-70 pada November 2021. Sebuah buku karya Carola Lentz akan dirilis untuk merayakan acara tersebut, dan sebuah situs web interaktif akan memperkenalkan pembaca pada sejarah penting institusi tersebut. (sc/as)
Foto: Goethe-Institut
11 foto1 | 11
Dilema pemerintah Jerman
Belum jelas, apakah desakan menertibkan pajak aset Rusia di Jerman akan ditanggapi serius oleh pemerintah. Pemerintah di Berlin sejauh ini diketahui berhati-hati dalam menyikapi isu "Russisches Haus”, lantaran khawatir Rusia akan membalas dengan menutup Goethe-Institut di Moskow — pusat kebudayaan Jerman yang memainkan peran penting dalam diplomasi budaya luar negeri.
Pemerintah Jerman juga menyatakan bahwa pihak Rusia memiliki kekebalan diplomatik di dalam gedung tersebut. Dalam tanggapan atas pertanyaan resmi Wagener, pemerintah menjawab bahwa "Negara Federal Jerman membayar pajak properti untuk bangunan yang berada di atas lahan miliknya, berdasarkan kewajiban hukum dari perjanjian properti bilateral 2013 terkait institusi kebudayaan, " menurut kesepakatan yang diteken sebelum aneksasi Krimea oleh Rusia.
Rusia dan Ukraina: Kronik Perang yang Tidak Dideklarasikan
Akar konflik antara Rusia dan Ukraina sangat dalam. Semuanya diyakini bermuara pada keengganan Rusia untuk menerima kemerdekaan Ukraina.
Foto: Maxar Technologies via REUTERS
Berkaitan, tetapi tak sama
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina memiliki sejarah sejak Abad Pertengahan. Kedua negara memiliki akar yang sama, pembentukan negara-negara Slavia Timur. Inilah sebabnya mengapa Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut kedua negara itu sebagai "satu orang". Namun, sebenarnya jalan kedua negara telah terbagi selama berabad-abad, sehingga memunculkan dua bahasa dan budaya — erat, tapi cukup berbeda.
Foto: AP /picture alliance
1990-an, Rusia melepaskan Ukraina
Ukraina, Rusia, dan Belarus menandatangani perjanjian yang secara efektif membubarkan Uni Soviet pada Desember 1991. Moskow sangat ingin mempertahankan pengaruhnya di kawasan itu dan melihat Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) yang baru dibentuk sebagai alat untuk melakukannya. Sementara Rusia dan Belarus membentuk aliansi yang erat, Ukraina semakin berpaling ke Barat.
Foto: Sergei Kharpukhin/AP Photo/picture alliance
Sebuah perjanjian besar
Pada tahun 1997, Rusia dan Ukraina menandatangani Treaty on Friendship, Cooperation and Partnership, yang juga dikenal sebagai "Perjanjian Besar". Dengan perjanjian ini, Moskow mengakui perbatasan resmi Ukraina, termasuk semenanjung Krimea,kawasan hunian bagi mayoritas etnis-Rusia di Ukraina.
Krisis diplomatik besar pertama antara kedua belah pihak terjadi, saat Vladimir Putin jadi Presiden Rusia masa jabatan pertama. Pada musim gugur 2003, Rusia secara tak terduga mulai membangun bendungan di Selat Kerch dekat Pulau Tuzla Ukraina. Kiev melihat ini sebagai upaya Moskow untuk menetapkan ulang perbatasan nasional. Konflik diselesaikan usai kedua presiden bertemu.
Foto: Kremlin Pool Photo/Sputnik/AP Photo/picture alliance
Revolusi Oranye
Ketegangan meningkat selama pemilihan presiden 2004 di Ukraina, dengan Moskow menyuarakan dukungannya di belakang kandidat pro-Rusia, Viktor Yanukovych. Namun, pemilihan itu dinilai curang. Akibatnya massa melakukan Revolusi Oranye atau demonstrasi besar-besaran selama 10 hari dan mendesak diadakannya pemilihan presiden ulang.
Foto: Sergey Dolzhenko/dpa/picture alliance
Dorongan bergabung dengan NATO
Pada tahun 2008, Presiden AS saat itu George W. Bush mendorong Ukraina dan Georgia untuk memulai proses bergabung dengan NATO, meskipun ada protes dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Jerman dan Prancis kemudian menggagalkan rencana Bush. Pada pertemuan puncak NATO di Bucharest, Rumania, akses dibahas, tetapi tidak ada tenggat waktu untuk memulai proses keanggotaan.
Foto: John Thys/AFP/Getty Images
Tekanan ekonomi dari Moskow
Pendekatan ke NATO tidak mulus, Ukraina melakukan upaya lain untuk meningkatkan hubungannya dengan Barat. Namun, musim panas 2013, beberapa bulan sebelum penandatanganan perjanjian asosiasi tersebut, Moskow memberikan tekanan ekonomi besar-besaran pada Kiev, yang memaksa pemerintah Presiden Yanukovych saat itu membekukan perjanjian. Aksi protes marak dan Yanukovych kabur ke Rusia.
Foto: DW
Aneksasi Krimea menandai titik balik
Saat kekuasaan di Kiev kosong, Kremlin mencaplok Krimea pada Maret 2014, menandai awal dari perang yang tidak dideklarasikan antara kedua belah pihak. Pada saat yang sama, pasukan paramiliter Rusia mulai memobilisasi pemberontakan di Donbas, Ukraina timur, dan melembagakan "Republik Rakyat" di Donetsk dan Luhansk. Setelah pilpres Mei 2014, Ukraina melancarkan serangan militer besar-besaran.
Gesekan di Donbass terus berlanjut. Pada awal 2015, separatis melakukan serangan sekali lagi. Kiev menuding pasukan Rusia terlibat, tetapi Moskow membantahnya. Pasukan Ukraina menderita kekalahan kedua, kali ini di dekat kota Debaltseve. Mediasi Barat menghasilkan Protokol Minsk, sebuah kesepakatan dasar bagi upaya perdamaian, yang tetap belum tercapai hingga sekarang.
Foto: Kisileva Svetlana/ABACA/picture alliance
Upaya terakhir di tahun 2019
KTT Normandia di Paris pada Desember 2019 adalah pertemuan langsung terakhir kalinya antara Rusia dan Ukraina. Presiden Vladimir Putin tidak tertarik untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy. Rusia menyerukan pengakuan internasional atas Krimea sebagai bagian dari wilayahnya, menuntut diakhirinya tawaran keanggotaan NATO bagi Ukraina dan penghentian pengiriman senjata ke sana. (ha/as)
Foto: Jacques Witt/Maxppp/dpa/picture alliance
10 foto1 | 10
Siapa wakili budaya Rusia?
Meskipun menghadapi hambatan diplomatik, Wagener tetap menyerukan penutupan Rumah Rusia. Dia menegaskan bahwa promosi budaya Rusia seharusnya datang dari komunitas sipil independen, termasuk para seniman dan aktivis Rusia yang kini tinggal di Jerman karena mengalami represi di tanah airnya.
"Saya rasa, rumah budaya Rusia ini tidak lagi layak sebagai perantara budaya. Jika seseorang benar-benar ingin memahami budaya Rusia, dan saya sangat mendukung hal ini, maka kita bisa menemukannya dalam pertemuan-pertemuan sipil yang diselenggarakan oleh orang-orang yang kini tinggal di Jerman karena mereka tidak lagi bisa mengekspresikan kebudayaan mereka secara bebas di Rusia.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman