Kenapa Muslim & Kaum Yahudi Bosnia jadi "Contoh buat Eropa"?
2 Februari 2026
Eli Tauber berjalan santai menyusuri Sarajevo, kota di mana dia lahir dan menua. Setiap beberapa langkah, seseorang menyapanya. Sebuah senyum. Sepotong percakapan. Obrolan singkat di satu sudut jalan. Janji bertemu di sudut lain. Senyum tak lepas dari wajahnya yang ramah.
Tak ada yang luar biasa dari pemandangan itu. Dan justru karena itu ia menjadi luar biasa. Tauber berusia 75 tahun. Dia adalah seorang Yahudi.
Apakah dia tak merasa cemas berjalan di ibu kota Bosnia dan Herzegovina, kota yang mayoritas penduduknya Muslim? Tauber tersenyum. "Tidak. Kami hidup damai dengan semua orang di sini. Kami komunitas yang saling menjaga.”
Lima abad kehidupan Yahudi di Bosnia
Di Bosnia, bangsa Yahudi telah mengikat tenun alami dari tatanan sosial selama lima abad. Di depan Museum Yahudi di Sarajevo, tak ada penjaga, tak ada barikade, tak tampak polisi. Museum itu menempati sebuah sinagoga Sefardim yang dibangun pada 1581.
Kaum Sefardi—Yahudi dari Spanyol dan Portugal—diusir dari tanah asal mereka pada 1492. Pada sekitar 1530an, tiga puluh keluarga Sefardi menetap di Sarajevo atas undangan Sultan Ottoman, Suleiman Yang Agung. Saat itu, kota ini merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman.
Satu-satunya Haggadah yang utuh
Eli Tauber adalah sejarawan, penulis, penasihat budaya dan agama bagi Federasi Komunitas Yahudi, direktur arsip komunitas Yahudi Bosnia, sekaligus pendiri dan presiden organisasi Haggadah Sarajevo. Nama itu merujuk pada sebuah kitab.
Haggadah menggabungkan teks, ritual, dan kisah tentang eksodus bangsa Yahudi dari Mesir. Haggadah Sarajevo adalah satu-satunya naskah yang tersisa secara utuh. Ia selamat dari Inkuisisi di Italia abad pertengahan dan, pada Perang Dunia II, diselamatkan dari tangan Nazi oleh cendekiawan Muslim, Dervis Korkut.
Malam kaum Sefardi
Tauber juga pendiri salah satu perhelatan budaya paling dikenal di Sarajevo: Malam Sefardi. Acara ini bermula dari gagasan Mevlida Serdarevic, mantan direktur Museum Yahudi—seorang Muslim. Pada 2025, acara itu genap berusia 20 tahun.
Sebuah band dari Spanyol tampil di hadapan sekitar 700 penonton, membawakan musik Sefardim dalam bahasa Ladino—bahasa "Spanyol Yahudi” yang dibawa nenek moyang mereka ke Balkan dan tetap dilestarikan hingga kini.
Hidup berdampingan tanpa Ghetto
Sejak awal, kata Tauber, keluarga Yahudi hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain di berbagai penjuru kota. Mereka berbagi profesi, lingkungan, dan perayaan. Tak pernah ada ghetto. Hanya di distrik Bjelave, hampir setiap dua rumah dihuni keluarga Yahudi—bukan karena paksaan, melainkan karena sinar matahari paling lama menyentuh kawasan itu.
Sarajevo berada di sebuah lembah yang dikelilingi tujuh bukit. Tinggal di sisi yang "salah” berarti hidup di bawah bayangan dan membeku, terutama saat musim dingin.
Sebelum Holokaus, sekitar 12 ribu warga Yahudi tinggal di Sarajevo. Setelah tahun 1945, jumlah itu menyusut menjadi 2.000. Banyak yang kemudian bermigrasi, terutama ke Israel. Perang Bosnia (1992–1995) memicu eksodus lanjutan.
Sefardi, Askenazi, dan Muslim
Kini, hanya 500–700 Yahudi yang tersisa di Bosnia dan Herzegovina. Sekitar 70 persen Sefardi, sisanya Askenazi—Yahudi Eropa Tengah yang datang setelah Austria-Hongaria menganeksasi wilayah ini pada 1878. Di Sarajevo, kedua kelompok kini merayakan hari besar bersama.
"Dulu perbedaan utama ada pada bahasa,” kata Tauber. Sefardi berbahasa Ladino, Askenazi menggunakan Yiddish. Seiring waktu, keduanya beralih ke bahasa Bosnia. Perayaan bersama dan pernikahan campuran pun menjadi hal biasa. Keluarga Tauber sendiri mencerminkan tradisi tersebut: ibunya Sefardi, ayahnya campuran Sefardi-Askenazi.
Menjadi bagian komunitas Yahudi di Bosnia tak mensyaratkan keyakinan agama. Tauber menceritakan Fata Finci, seorang muslim yang menikah dengan pria Yahudi dan tetap menjadi anggota aktif komunitas hingga wafat.
Arsip melawan lupa
Dalam bukunya Als Nachbarn Menschen waren (Ketika Tetangga Masih Manusia), Tauber mengumpulkan kisah-kisah masa pendudukan Nazi. Dia masih menyimpan foto seorang Muslimah, Zejneba Hardaga, yang menutupi lambang bintang Daud di lengan Rivka Kabilio dengan jubahnya.
Keluarga Hardaga menyelamatkan keluarga Kabilio dari Holokaus dan dianugerahi gelar "Orang Benar di Antara Bangsa-Bangsa”. Pada 1994, saat Sarajevo dikepung, keluarga Kabilio membalas budi dengan membantu Zejneba Hardaga dan keluarganya mengungsi ke Israel.
Aksi heroik seorang Katolik
Kisah serupa ada dalam keluarga Tauber. Dia menunjuk foto Zora Krajina, seorang Katolik. "Perempuan ini menyelamatkan ibu saya,” katanya. Pada 1941, Krajina membawa ibu Tauber dari Sarajevo ke Mostar, lalu ke Pulau Hvar.
Kisah-kisah seperti inilah yang ingin Tauber abadikan. Komunitas Yahudi Bosnia kini membangun arsip, mengumpulkan dan mendigitalisasi dokumen dari seluruh dunia. Ribuan arsip telah datang dari Serbia, Israel, Prancis, dan Amerika Serikat. Targetnya: pada 2030, lima abad kedatangan Sephardic, tersaji sejarah lengkap Yahudi Bosnia.
Salah satu proyek lain adalah geniza—ruang penyimpanan naskah suci yang tak lagi digunakan. "Buku tidak dibuang, tapi dikuburkan,” kata Tauber. Ia menduga geniza bersejarah buatan ulama Sephardic Sarajevo, Zeki Efendi, masih tersembunyi. "Tinggal dibuktikan.”
Menghadap Mekah
Menjelang perpisahan, Tauber tersenyum kecil. "Sinagoga Sefardim Sarajevo tak menghadap Yerusalem, tapi Mekah.” Itu bentuk penghormatan kepada otoritas Muslim Ottoman yang melindungi mereka. Arah bangunan sinagoga sejajar dengan Masjid Gazi Husrev-beg di sebelahnya.
"Komunitas multibudaya di Bosnia adalah warisan berharga bagi Eropa,” kata Tauber. Konflik Timur Tengah tak mengubah itu. Demonstrasi pro-Palestina rutin digelar di Sarajevo—namun tak pernah di depan institusi Yahudi. "Karena di sini orang tahu,” ujarnya, "kami tak ada kaitan dengan perang itu.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid