Cara seseorang dimakamkan kian beragam, dari mengirim abu jenazah ke luar angkasa, dikuburkan di tengah hutan, hingga didinginkan menjadi butiran debu. Perkembangan tren pemakaman ini menyimpan makna mendalam.
Pemakaman laut jadi salah satu opsi pemakaman yang sangat diminati di Jerman.Foto: BildFunkMV/IMAGO
Iklan
Sebuah tebing batu besar menjulang di atas sebuah dataran kecil di wilayah Haute-Provence, Prancis selatan. Beberapa batu tergeletak di rerumputan seolah jatuh secara alami dari tebing tersebut. Di bawah batu-batu itu bersemayam abu dari seorang pemuda. Keluarganya memilih tempat favoritnya tersebut sebagai persemayaman terakhir. Di Jerman, hal tersebut tidak diperbolehkan.
Hukum Jerman mewajibkan jenazah dimakamkan di pemakaman resmi, pemakaman hutan, atau area laut tertentu. Menyimpan guci berisi abu jenazah di halaman rumah pun tidak diizinkan, begitu pun menaburkannya ke udara.
Hampir setiap kota di Eropa menawarkan tur untuk mengunjungi pemakaman. Makam para selebritis atau mausoleum tokoh terkemuka menceritakan kisah kehidupan dan kematian yang menyentuh. Berikut 11 diantaranya.
Foto: picture-alliance/DUMONT
Bagi Seniman: Kassel Necropolis
Pemakaman tengah hutan di kota Kassel, Jerman, ini diinisiasi oleh para seniman kontemporer, Documenta, yang mendesain sendiri makam mereka. Sejauh ini sembilan makam seni telah dibuat, salah satunya adalah Ugo Dossi's ''Denk Ort'' yang terbuat dari baja besar. Pengunjung bisa menyalin elemen gambar ke kertas atau kain untuk dibawa pulang.
Foto: picture-alliance/dpa/U. Zucchi
Untuk Kesan Romantis: Père Lachaise, Paris
Pemakaman romantis di barat laut Ibukota Perancis ini sangatlah indah di musim gugur. banyak seniman terkemuka yang melegenda beristirahat di sini; seperti Oscar Wilde, Eugene Delacroix, Sarah Bernhardt, Maria Callas, Edith Piaf, Frederic Chopin, Jim Morrison.
Foto: Paris Tourist Office/Marc Verhille
Untuk para Peziarah : Campo Santo Teutonico
Pemakaman yang didedikasikan untuk penutur bahasa Jerman dan Flemish ini terlihat seperti oasis, lengkap dengan pohon palem dan bunga jepun. Pemakaman ini terletak dekat dengan St. Peter's Basilica di Vatican. Lantai dan dan juga dinding pemakaman ini ditutupi dengan batu nisan.
Foto: picture-alliance/R. Braum
Bagi Pecinta Bangunan Klasik: Cimitero Monumentale
Kuil Yunani, Piramid Mesir, Obelisk setinggi 20 meter membuat Cimitero Monumentale di Milan, Italia, begitu terkenal karena kemegahan dan keindahannya. Di sinilah para orang kaya jaman dahulu dikubur dan kekayaan mereka masih tampak jelas meskipun mereka sudah tiada. Makam seluas 200.000 m² dibuka pada 1866.
Foto: picture-alliance/dpa/Themendienst
Bagi Pecinta Humor: Kramsach, Austria
Para mengunjungi pemakaman di wilayah Tirol ini bisa menemukan berbagai kalimat-kalimat lucu atau juga aneh yang tertulis di nisan-nisan. Misalnya: "Di sini berbaring Jakob Hosenknopf yang jatuh dari atap rumahnya menuju keabadian" atau "Di sini Johanna Vogelsang, yang menyanyi sepanjang hidupnya, menemukan kedamaian. " Tapi sebenarnya tidak ada yang benar-benar di makamkan di sini.
Foto: picture-alliance/U. Gerig
Bagi yang menikmati hidupnya: Melaten, Köln
Di pemakaman yang merupakan lokasi eksekusi pada abad pertengahan ini terdapat sekitar 55.000 makam. Pemakanan ini terkenal sebagai tempat beristirahat warga kaya kota Köln, Jerman. Selain bisa menemukan makam keluarga Farina, pencipta Eau de Cologne, pengunjung juga bisa melihat berbagai patung-patung unik dan menawan, seperti patung badut ini, yang menunjukkan kecintaan pada karnaval.
Foto: DW/ Maksim Nelioubin
Bagi Pecinta Sejarah: Pemakaman Yahudi di Hamburg
Peneliti menganggap pemakaman ini unik karena nisan-nisannya, sekitar 6.000 buah, yang begitu terawat. Pemakaman ini merupakan adalah pemakaman Yahudi tertua di Eropa Utara.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Heimken
Bagi pecinta jalan-jalan: Pemakaman Ohlsdorf, Hamburg
Dengan luas sekitar 391 hektar, pemakaman merupakan taman pemakaman terbesar di dunia. Sekitar dua juta orang setiap tahunnya mengunjungi pemakaman yang mengesankan ini. Dibangun pada tahun 1877, pemakaman ini merupakan termpat beristirahat terakhir bagi sekitar 1.4 juta orang, diantaranya mantan Kanselir Jerman, Helmut Schmidt.
Foto: picture-alliance/BREUEL-BILD
Bagi pecinta musik: Pemakaman Wina
Di sini berbaring banyak tokoh terkenal, seperti , Beethoven, Brahms, Strauss dan Schubert. Pemakaman yang dibuka pada tahun 1874 ini memiliki jalanan sepanjagn 450 kilometer yang terbuat dari 330.000 batu nisan.
Foto: Elizabeth Subercaseaux
Bagi Penggemar Mozart: Kuburan St. Marx, Wina
Di bawah nisan ini kemungkinan Mozart dimakamkan. Komponis Austria ini meninggal pada 5 Desember 1791. Baru 17 tahun kemudian, istrinya, Constanze, berusaha mencari makamnya. Namun karena makamnya tidak ditandai, lokasi yang tepat di mana Mozart dimakamkan tidak diketahui dengan pasti.
Foto: picture-alliance/CHROMORANGE/E. Weingartner
Bagi yang berkelas: Pemakaman historis Weimar
Dibuka pada tahun 1818, di sini dimakamkan para bangsawan dan juga dua penyair terkenal Jerman Johann Wolfgang von Goethe dan Friedrich Schiller, walaupun sebenarnya jasad Schiller tidak terbaring di pemakaman ini. Tahun 1998, UNESCO memasukkan pemakan ini pada daftar Situs Warisan Dunia (sc/yf)
Di Swiss, beberapa pelayat dapat menaburkan abu di padang rumput Alpen dan di tebing-tebing berbatu. Di sana juga di Belanda, abu jenazah dapat dilepaskan dari balon udara. Setelah balon berada lokasi yang dipilih, abu dapat ditebarkan ke udara, dan koordinatnya serta dokumentasi resminya akan dikirim kepada keluarga bersangkutan. Pilihan lainnya adalah dengan melepas abu jenazah mengunakan pesawat kecil.
Beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS) menawarkan cara perpisahan yang lebih "premium" yakni dengan mengirim sebagian kecil abu jenazah ke luar angkasa. Hal ini mungkin dilakukan di Jerman, mengingat celah hukum yang ada. Sebagaian besar abu jenazah pun tidak meninggalkan Bumi dan tetap berada dalam guci dan dikubur di pemakaman resmi.
Kini semakin banyak perusahaan yang menawarkan berlian memorial atau berlian dari kremasi. Selama beberapa bulan, karbon yang diekstrak dari abu atau rambut seseorang diproses menjadi berlian sintetis yang dapat dijadikan perhiasan.
Semakin banyak penyedia jasa pemakaman menawarkan berlian memorial.Foto: Soeren Stache/ZB/picture alliance
Tren pemakaman berkelanjutan
Bagi mereka yang menyukai cara hidup keberlanjutan bahkan setelah meninggal dunia, kini punya banyak pilihan. Di Skandinavia dan Belanda, pemakaman metode baru bermunculan, berfokus pada bahan-bahan alami dan desain yang ramah lingkungan.
Di seluruh Eropa, pemakaman alami dan ramah lingkungan semakin diminati. Di padang rumput dan hutan, jenazah dimakamkan dalam peti mati yang dapat terurai secara alami tanpa pelitur atau logam, juga tanpa pembalsaman atau bahan kimia.
Pertimbangan akan lingkungan juga berpengaruh pada proses kremasi. Menurut Asosiasi Kualitas Fasilitas Kremasi di Jerman, kremasi mencapai 81% pemakaman di Jerman pada 2024. Krematorium modern kini menggunakan sistem pemulihan panas dan penyedia layanan pemakaman menawarkan lebih banyak guci jenazah yang terurai secara alami. Guci tersebut kemudian dikuburkan di dekat atau bawah pohon pada pemakaman hutan. Jenazah pun menyatu secara alami dengan lanskap hutan.
Di beberapa tempat, pemakaman dapat dilakukan secara anonim sedang di tempat lainnya, diberikan plakat kecil untuk menandai lokasi makam.
Pemakaman Skogskyrkogården Swedia, Situs Warisan Dunia UNESCOFoto: Oscar Gonzalez/Sipa USA/picture alliance
Menjadi kompos manusia
Beberapa rumah duka kini menawarkan opsi yang lebih alami, dikenal sebagai "kompos manusia." Jenazah dibungkus dengan jerami, rumput kering, bunga, serta sedikit arang, seperti kepompong alami. Setelah beberapa hari, kepompong digoyangkan secara lembut dan berkala, untuk mendistribusikan kelembapan di dalamnya.
Mikroorganisme alami dalam tubuh, bersama dengan bahan tanaman, menguraikan jenazah menjadi tanah halus dalam waktu sekitar 40 hari. Sebuah filter udara biologis diberikan untuk mencegah bau. Sisa tulang digiling menjadi bubuk halus dan dicampur ke dalam tanah. Tanah hasil proses ini ditempatkan di lahan pemakaman dan ditanami sering kali dengan bunga mawar, lavender atau tanaman lain yang dipilih almarhum sebelum meninggal.
Metode pemakaman baru yang lebih berkelanjutan: kompos manusiaFoto: Christian Charisius/dpa/picture alliance
Dijadikan butiran debu lewat pembekuan kilat
Ahli biologi Swedia, Susanne Wiigh-Masak, yang meninggal pada 2020, dianggap sebagai pelopor metode pemakaman ramah lingkungan lainnya yang disebut promession.
Dalam proses ini, tubuh pertama-tama dibekukan secara kilat dengan suhu minus 18 derajat Celsius, lalu dicelupkan ke dalam nitrogen cair pada minus 196 derajat. Suhu ekstrem membuat tubuh begitu rapuh sehingga dengan getaran kecil tubuh dapat dipecah menjadi bubuk halus. Proses ini dilakukan dalam ruang hampa, nir kelembapan, dan tanpa logam apa pun, seperti tambalan gigi.
Sisa jenazah kemudian dapat ditempatkan dalam peti mati kecil yang dapat terurai secara alami, terbuat dari pati jagung atau kentang, dan dikuburkan di tanah. Meskipun prosedur ini telah dipatenkan di lebih dari 30 negara, praktiknya belum diterapkan di mana pun.
Krionika, metode lain yang juga melibatkan pembekuan dan digunakan di Amerika Serikat dan Rusia, berbeda dari promession karena tubuh dibekukan di bawah minus 130 derajat dan tetap utuh, dengan harapan dapat dihidupkan kembali di masa depan. Namun para ilmuwan menganggap kemungkinan tersebut sangatlah kecil.
Cara seseorang dimakamkan mencerminkan bagaimana mereka menjalani hidup. Baik makam mewah atau makam di bawah pepohonan bukanlah sekadar nilai estetik, tetapi juga menggambarkan perubahan cara masyarakat memandang agama, kepemilikan, dan alam. Pada akhirnya ini adalah tentang bagaimana kita mengenang mereka yang telah berpulang.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizky Nugraha
Lebih dari 200.000 orang di Hong Kong hidup di rusun sempit dan tidak manusiawi. Undang-undang baru akan tetapkan standar minimum ruang hidup dan keamanan guna mengatasi kesenjangan ekstrem sektor perumahan.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Satu apartemen dihuni 4 keluarga
Ruang hidup di kota metropolitan keuangan Asia, Hong Kong, memang dikenal sangat sempit karena harga real estat yang sangat tinggi. Satu toilet dan dapur digunakan bersama oleh empat keluarga menjadi tantangan tersendiri.
Foto: Tyrone Siu/REUTERS
Satu dapur untuk bersama
Xiao Bo, 60, tinggal di sebuah apartemen mini di salah satu dari sekian banyak gedung tinggi di Hong Kong. Ia menyiapkan pangsit buatan sendiri di dapur umum kecil yang digunakan bersama oleh empat keluarga.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Biaya sewa apartemen layak tidak terjangkau
"Tempat ini sangat sempit; sungguh tidak nyaman untuk ditinggali," kata Xiao Bo, sambil duduk di tempat tidurnya dan memakan pangsitnya di meja lipat di sebuah ruangan kecil. Dia lajang dan telah tinggal dalam kondisi ini selama tiga tahun karena tidak mampu menyewa apartemen yang lebih baik.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Terlalu banyak orang di ruang terbatas
Banyak orang di Hong Kong tinggal di rumah dengan luas rata-rata hanya 6 meter persegi. Hong Kong dinobatkan sebagai kota termahal di dunia selama 14 tahun dan tengah berjuang melawan kesenjangan yang ekstrem. Bulan Oktober 2024, pemerintah mengumumkan standar minimum untuk ruang hidup dan keamanan di apartemen yang dibagi-bagi.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Pengap dan sempit
Beberapa tempat bahkan lebih kecil dari enam meter persegi. Pensiunan pekerja konstruksi berusia 65 tahun Kwok Kwai telah tinggal di rumah peti mati ini selama 15 tahun. Akomodasi kecil ini, yang hanya lebih besar dari satu tempat tidur, biaya sewanya setara dengan sekitar €330 (Rp5,3 juta) per bulan.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Pilih udara atau privasi?
"Tempat ini sangat pengap. Satu atau dua kipas angin tidak cukup. Sungguh tidak tertahankan," kata Kwok Kwai, pensiunan pekerja konstruksi berusia 65 tahun. "Udara tidak bersirkulasi, dan saya tidak bisa buka jendela karena jika dibuka, tikus akan masuk karena letaknya tepat di sebelah saluran pembuangan." Untuk dapat udara segar, ia membiarkan pintu geser kamarnya terbuka, mengorbankan privasi.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Dicap memalukan bagi Hong Kong
Ada banyak apartemen peti mati di wilayah Mong Kok karena jaringan transportasinya yang baik. "Rumah-rumah seperti ini dianggap memalukan bagi Hong Kong," kata Sze Lai-shan, wakil direktur lembaga nonpemerintah Society for Community Organization.
Foto: Tyrone Siu/Reuters
Pemerintah Hong Kong ingin bangun apartemen yang lebih besar
Kota besar ini tampaknya berencana menghapuskan semua apartemen yang dibagi-bagi semacam ini pada tahun 2049. Selain itu, waktu tunggu untuk perumahan sosial, yang saat ini 5 1/2 tahun, akan dikurangi secara signifikan. Kota itu juga ingin melanjutkan pembangunan lebih banyak apartemen bersubsidi.