Kenapa Yunani Tawarkan Konsesi Gas di Era Transisi Energi?
4 Februari 2025
"Yunani harus memainkan peran utama dalam pasar energi global dan menjadi ekonomi ekspor yang dinamis di sektor energi dalam beberapa tahun mendatang," kata Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis, bahkan jika ambisinya itu memerlukan eksploitasi gas di Laut Ionia. Pada hari Minggu, 26 Januari 2025, dalam postingan mingguan di Facebook, dia mengungkapkan kegembiraannya atas minat perusahaan AS Chevron dalam mengeksplorasi gas alam di perairan Yunani.
Lima tahun sebelumnya, ExxonMobil juga sudah menunjukkan minat serupa dan memperoleh lisensi untuk pengeboran eksplorasi awal.
Menurut penelitian awal, gas ditemukan di bawah dasar laut di wilayah barat daya Peloponnese hingga selatan Kreta. Jumlah cadangan diperkirakan sebanyak kandungan gas di ladang lepas pantai Zor di Mesir. Menurut studi Institut Energi untuk Eropa Tenggara, kawasan ini berpotensi memiliki cadangan gas alam sebesar dua hingga 2,5 triliun meter kubik, cukup untuk memenuhi 15 persen konsumsi tahunan Uni Eropa.
Temuan tersebut menarik minat raksasa minyak Amerika Serikat, terutama sejak Donald Trump kembali menjadi Presiden AS, dan menjadi modal politik bagi PM Mitsotakis.
Padahal hingga belum lama ini, dia masih giat mendorong transisi energi terbarukan di Yunani. Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2019, Mitsotakis menekankan pentingnya transisi ke energi hijau dan mengumumkan penutupan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara pada tahun 2028.
Tujuannya, kata Mitsotakis saat itu, adalah untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam bauran pembangkit listrik nasional hingga lebih dari 90 persen pada tahun 2030. Pada Konferensi Kelautan Internasional tahun lalu, dia bahkan menutup kemungkinan dikabulkannya konsesi baru untuk eksplorasi minyak dan gas.
Tetapi kemudian menjadi jelas bahwa krisis energi dengan meningkatnya harga listrik dan gas akan berlangsung lebih lama. Sejak Trump memenangkan pemilihan presiden AS, perdana menteri Yunani mulai secara bertahap merevisi pernyataanya tentang transisi hijau sebagai satu-satunya haluan. Dia sebaliknya kini mendukung eksploitasi gas alam - dan bersedia memberikan lisensi pengeboran eksplorasi. Secara simbolis, minat eksplorasi oleh Chevron diumumkan Yunani tepat pada hari pelantikan Presiden AS yang baru.
Aktivis lingkungan kritik standar ganda
Organisasi lingkungan Yunani merespons dengan hujan kritik: transisi hijau yang dicanangkan sebagai haluan tidak mengizinkan penambangan laut dalam. "Ketertarikan tergesa-gesa raksasa minyak Chevron untuk melanjutkan produksi hidrokarbon di Yunani, dikombinasikan dengan reaksi positif langsung dari Athena, menunjukkan standar ganda pemerintah, yang menampilkan dirinya sebagai pihak yang ramah lingkungan dan sebagai pelopor transisi hijau,” tulis organisasi konservasi WWF Yunani dalam pernyataanya.
Selain itu, masyarakat di wilayah sasaran pengeboran, yang sebagian besar hidupnya bergantung pada sektor pariwisata dan perikanan, merasa khawatir terhadap bencana lingkungan. Mereka sejak lama menentang eksplorasi gas dan dapat memaksakan penangguhan sementara melalui pengadilan.
Menteri janjikan keamanan
Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Energi Yunani, Alexandra Sdoukou, berusaha meyakinkan dengan mengklaim di televisi publik ERT bahwa "perusahaan dengan pengalaman global yang panjang tidak akan pernah mengambil risiko mencoba proses ekstraksi hidrokarbon yang mengandung risiko sekecil apa pun untuk tumpah ke laut, yang akan menyebabkan bencana lingkungan yang besar."
Dia menekankan kepercayaannya yang besar kepada Chevron dan bahwa perlindungan lingkungan adalah penting bagi pemerintah. Selain itu, kementeriannya sudah memiliki mekanisme kontrol. "Karena ekstraksi hidrokarbon dilakukan bersamaan dengan aktivitas lain seperti penangkapan ikan atau pariwisata, sudah jelas bahwa kita perlu lebih waspada untuk memastikan semua kegiatan ekonomi berjalan baik,” janji Sdoukou.
Paling cepat sepuluh tahun
Meski demikian, warga Yunani tidak mudah mempercayakan pengawasan kepada mekanisme kontrol negara. Banyak pula yang tidak percaya bahwa pengeboran di Laut Ionia akan segera dimulai. Menurut Harry Tzimitras dari layanan penelitian independen PRIO Cyprus Centre, PCC, pengeboran tidak akan dilakukan selama paling tidak sepuluh tahun, karena perusahaan harus terlebih dahulu mengkaji manfaat finansial dari kegiatan eksplorasi.
Perusahaan harus terlebih dulu mengukur berapa banyak cadangan gas yang ada. Perusahaan kemudian juga harus menyepakati kontrak dengan calon pembeli. Tanpanya, kegiatan pengeboran belum akan dilangsungkan segera. Ketiga, bank harus diyakinkan untuk mau menginvestasikan uang untuk membiayai pengeboran. Menurut Tzimitras, perusahaan minyak menyumbang maksimal 30 persen dari modal investasi, sedangkan bank menyumbang sisanya.
"Jika Chevron dan Rekan-rekan memutuskan untuk mengebor di Laut Ionia dan jika masyarakat di wilayah tersebut tidak berhasil menuntutnya, kita berbicara tentang jangka waktu sepuluh tahun," kata pakar tersebut. Akan tetapi, saat ini tidak seorang pun tahu kondisi politik, ekonomi, dan ekologi seperti apa yang akan terjadi pada tahun 2035.
Tzimitras menunjukkan, meskipun perusahaan minyak telah menyatakan minatnya untuk melakukan pengeboran di dan sekitar Yunani dan Siprus sejak 2011, sejauh ini belum ada setetes pun gas yang berhasil diangkat ke permukaan.
Diadaptasi dari artikel DW berbahasa Jerman