1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kepada Clinton Bush Berharap

16 Juni 2015

Jeb Bush maju sebagai bakal calon presiden dari Republik. Dengan Hillary Clinton di Demokrat, publik bakal menyaksikan duel antara dua dinasti politik Amerika yang paling berpengaruh, tapi juga dihinggapi dosa masa lalu

Jeb Bush Vorwahlkampf Präsidentschaftswahlen
Foto: Getty Images/J. Raedle

Selama berbulan-bulan Jeb Bush menghindar kejaran wartawan. Hari-hari belakangan ini publik Amerika Serikat ingin tahu apa yang sedang direncanakan keluarga Bush ketika Partai Republik kehabisan kandidat yang mumpuni untuk diusung ke Gedung Putih.

Jawabannya muncul pada Senin petang di bulan Juni. Jeb Bush mengumumkan maju sebagai bakal calon presiden. Jika adik bekas Presiden George W. Bush itu sukses mengamankan dukungan Republik, ia kemungkinan akan berhadapan dengan Hillary Clinton, pada November 2016 nanti.

Bush versus Clinton pernah terjadi pada pemilu 1992. Di tengah resesi ekonomi, George H. W. Bush yang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua harus mengaku kalah dari pesaingnya Bill Clinton.

Dosa Masa Lalu

Tapi justru masa lalu menjadi beban buat Jeb dan Hillary. Calon kandidat Republik itu sebisa mungkin berupaya menjauhkan diri dari saudara dan ayahnya. Situasi serupa dihadapi Hillary yang turut membawa dosa-dosa politik era Bill Clinton dan Barack Obama, di mana ia berperan sebagai menteri luar negeri.

"Ia ingin menyeret turun Jeb lewat ayah atau saudaranya. Sementara Jeb bisa melemparkan dosa Obama dan Bill kepadanya," kata John "Mac" Stipanovich, seorang lobyis asal Florida yang kini merangkap sebagai penasehat Bush.

Dalam skenario yang digambarkan Stipanovich, publik Amerika boleh jadi bosan dengan dinasti politik di Washington, dan masa lalu justru akan menjadi batu sandungan buat kedua calon kandidat, terutama Hillary yang berperan aktif di kedua pemerintahan.

Sebab itu banyak yang menilai, pencalonan Clinton oleh Demokrat boleh jadi menguntungkan posisi Jeb Bush jelang pemilu.

Jeb dan Hillary akan "kehabisan amunisi"

Masa lalu Hillary Clinton, Bill dan Barack ObamaFoto: Reuters

Padahal nama Bush pernah menjadi sandaran di Partai Republik. Tapi sejak Jeb mengisyaratkan pencalonannya, ia lebih sering diasosiasikan dengan kegagalan ayah dan saudaranya. Uniknya, kedua bekas presiden dari klan Bush itu sama-sama identik dengan perang dan kelesuan ekonomi.

Jeb pernah tersandung warisan politik saudaranya bulan lalu. Ketika ditanya soal perang Irak 2003, bekas bankir itu menjawab tetap akan memerintahkan invasi sama seperti kakaknya. Jawaban tersebut tergolong blunder karena dalih yang digunakan Bush tentang senjata pemusnah masal milik Saddam Hussein sejak lama terbukti bohong. Sepekan kemudian Jeb meralat jawabannya.

Dosa yang sama diemban Hillary. Saat menjadi senator untuk New York, perempuan jebolan Yale University itu ikut memberikan suaranya mendukung invasi ke Irak, kendati ia kemudian menyebutnya sebagai sebuah "kesalahan."

Maka Clinton dan Bush harus mencari senjata lain. Lobbyist Bush, Stipanovich membandingkan situasi keduanya dengan doktrin Mutual Assured Destruction yang membuat AS dan Uni Sovyet urung menggunakan senjata nuklirnya dan memilih berperang lewat negara lain. "Keduanya akan cepat kehabisan amunisi," kata Stipanovich sembari tertawa.

rzn/hp(rtr,ap,cnn)