Imbas Perang Iran, Kepala Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur
18 Maret 2026
Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (National Counterterrorism Center/NCTC) Amerika Serikat, mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (17/03). Ia menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk berperang dengan Iran sebagai alasan utamanya.
NCTC adalah lembaga intelijen yang bertugas mengoordinasikan analisis ancaman terorisme dan berbagi informasi antarinstansi keamanan di AS.
"Saya tidak bisa, secara hati nurani, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kami, dan jelas bahwa perang ini dimulai karena tekanan dari Israel serta lobi kuatnya di AS,” tulis Kent dalam unggahan di X.
Kent adalah seorang veteran pasukan khusus berusia 45 tahun yang memiliki pengalaman 20 tahun di militer AS dan juga dikenal memiliki sejumlah keterkaitan yang kontroversial dengan tokoh dan kelompok politik sayap kanan ekstrem. Ia mengatakan merupakan "sebuah kehormatan” bisa bertugas di bawah Presiden AS Donald Trump dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
"Saya berharap Anda akan merenungkan kembali apa yang sedang kita lakukan di Iran, dan untuk siapa kita melakukannya,” tulis Kent dalam surat pengunduran dirinya kepada Trump.
"Anda bisa membalik arah dan menentukan jalan baru bagi negara kita, atau membiarkan kita semakin tergelincir menuju kemunduran dan kekacauan. Keputusan ada di tangan Anda.”
Kent merupakan sekutu dekat Gabbard, seorang politikus AS yang dikenal menentang perang yang bertujuan mengganti rezim di negara lain. Sebelumnya, Kent pernah menjabat sebagai kepala staf sementara Gabbard.
Jejak hubungan dengan sayap kanan, teori konspirasi, dan antisemitisme
Saat mengumumkan pengunduran dirinya, Kent menuduh bahwa "pejabat tinggi Israel dan sejumlah tokoh berpengaruh di media AS menjalankan kampanye disinformasi … untuk mendorong perang dengan Iran.”
Pernyataannya yang menyinggung Israel serta dugaan manuver politik Yahudi-AS mengingatkan pada narasi yang sering muncul di kalangan kelompok sayap kanan ekstrem, termasuk teori konspirasi antisemit yang menuduh orang Yahudi berpengaruh mengendalikan industri media.
Kent dua kali mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS, tapi kalah dalam kedua pemilu tersebut. Dalam kampanyenya pada 2022, ia mempekerjakan Graham Jorgensen, anggota kelompok militan sayap kanan Proud Boys, sebagai konsultan.
Joey Gibson, pendiri kelompok nasionalis Kristen Patriot Prayer, juga termasuk tokoh sayap kanan garis keras yang memiliki hubungan dengan Kent.
Saat menghadiri sidang konfirmasi di Senat AS untuk jabatan direktur NCTC, Kent mengakui bahwa seorang konsultan sempat mengatur panggilan telepon dengan influencer politik sayap kanan ekstrem Nick Fuentes dalam salah satu kampanye pemilihannya.
Fuentes dikenal sebagai nasionalis kulit putih yang secara terbuka menyangkal tragedi Holocaust, serta pernah menjadi tamu pribadi Trump dalam makan malam di kediamannya di Mar-a-Lago pada 2022.
Sebelum mencalonkan diri ke Kongres, Kent juga pernah menyebarkan teori konspirasi yang menuduh agen federal berada di balik serangan 6 Januari 2021 ke Gedung Capitol AS, ketika para pendukung Trump menyerbu gedung parlemen setelah hasil pemilu diumumkan. Ia juga menyebarkan klaim bahwa Trump, bukan Presiden Joe Biden, yang memenangkan pemilu 2020.
Kedua klaim tersebut telah berulang kali dibantah melalui berbagai penyelidikan resmi dan proses hukum. Namun, narasi itu masih dipercaya oleh sebagian pendukung Trump dan kelompok sayap kanan ekstrem di AS.
Kent kemudian menjauhkan diri dari sebagian hubungan politiknya di kalangan tersebut dan mengeklaim menolak segala bentuk "rasisme dan fanatisme,” tapi ia tetap mengulang klaim keliru mengenai hasil pemilu 2020 dan peristiwa 6 Januari.
Sebelum mundur, Kent dianggap sebagai salah satu loyalis Trump dengan posisi tertinggi di dalam pemerintahan.
Kritik intervensi AS di luar negeri dan terlibat dalam upaya melawan kartel narkoba
Setelah pensiun dari militer pada 2018, Kent bekerja sebagai perwira paramiliter di Badan Intelijen Pusat AS (CIA).
Ia kerap tampil di jaringan televisi kabel konservatif dan berbagai podcast, baik sebelum maupun selama pencalonannya dalam pemilu Kongres pada 2022 dan 2024. Ia juga pernah menjadi penasihat kontraterorisme dalam kampanye pemilihan kembali Trump pada 2020.
Pada 2019, Kent secara terbuka mengkritik apa yang disebut sebagai "perang melawan teror” serta intervensi global AS. Pernyataan itu muncul setelah istri pertamanya, Shannon Smith, seorang kriptolog Angkatan Laut AS, tewas akibat serangan bom bunuh diri kelompok ISIS di Suriah.
"Itulah sebabnya saya bersikap skeptis terhadap pemerintah federal,” kata Kent mengenai kematian Smith. Ia mengatakan istrinya meninggal karena "Partai Republik dan Demokrat terus-menerus berbohong kepada rakyat AS untuk mempertahankan keterlibatan kita dalam perang di luar negeri.”
Merasa muak dengan apa yang ia sebut sebagai "keangkuhan” kebijakan intervensi AS yang didorong oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kematian personel militer AS, Kent kemudian mengalihkan fokusnya pada kartel narkoba.
Di bawah kepemimpinan Gabbard, Kent ikut berperan dalam menyusun analisis intelijen yang digunakan untuk membenarkan deportasi anggota geng dari Amerika Selatan berdasarkan Alien Enemies Act tahun 1798, dengan mengaitkan jaringan penyelundup narkoba dengan pemimpin Venezuela saat itu, Nicolas Maduro.
Trump menyoroti peran tersebut ketika menominasikan Kent sebagai direktur NCTC pada Februari 2025.
"Joe akan membantu menjaga keamanan AS dengan memberantas semua bentuk terorisme, mulai dari kelompok jihadis di seluruh dunia hingga kartel yang beroperasi di wilayah kita sendiri,” kata Trump saat itu.
NCTC dibentuk setelah serangan teroris 9/11 pada 2001 di AS untuk menganalisis dan mendeteksi ancaman terorisme. Salah satu tugas lembaga ini adalah mengelola daftar pengawasan teroris milik pemerintah AS.
Trump: Kent lemah dalam urusan keamanan
Trump menanggapi kabar pengunduran diri Joe Kent saat berbicara kepada wartawan dalam resepsi Hari Saint Patrick di Gedung Putih.
Setelah mengakui telah membaca surat pengunduran diri Kent, Trump mengatakan bahwa ia "tidak terlalu mengenalnya.”
"Saya selalu menganggap dia orang yang baik,” kata Trump. "Tapi, saya juga selalu merasa dia lemah dalam urusan keamanan, sangat lemah dalam urusan keamanan.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Tezar Aditya Rahman