1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kerjasama Jerman dengan Politeknik Pos Indonesia

Klaus Fuhrmann23 Oktober 2008

Kerjasama Jerman-Indonesia terwujud anatra lain lewat kerjasama lembaga-lembaga pembangunan di Jerman dengan institusi di Indonesia, seperti misalnya Politeknik Pos Indonesia. Apa saja wujudnya?

Sistem yang efisien logistik dan pengiriman barang
Sistem yang efisien logistik dan pengiriman barangFoto: PA/dpa

Ahli Logistik Markus Hiller datang ke Bandung melalui Centrum für Internationale Migration atau Pusat Migrasi Internasional. Hiller memperoleh kontrak kerja seperti umumnya pekerja Indonesia. Ini berarti gaji yang diperolehnya dari Politeknik Pos Indonesia setara yang biasa diperoleh pekerja Indonesia. Baru kemudian oleh CIM upahnya dinaikkan agar setara dengan standar gaji yang biasa diperoleh di Jerman. Saat ini ada 69 tenaga ahli yang dibantu CIM yang tengah bekerja di Indonesia.

Tugas Markus Hiller adalah memperbaiki susunan mata kuliah dan struktur akademis di jurusan logistik Politeknik Pos Indonesia. Dengan sasaran utama meningkatkan isi perkuliahan maupun kualitas pendidikan tersebut. Selain itu Politeknik tersebut menginginkan kombinasi lebih banyak antara teori dan praktik. Tapi apa yang sebenarnya harus dimiliki seorang ahli logistik dalam praktik kerjanya?

„Ia harus bisa mengerti proses aliran atau perjalanan barang. Tapi tidak hanya itu, ia juga harus banyak mengerti bagaimana arus informasi. Bahkan juga aliran uang. Dengan dapat berpikir secara luas, merupakan hal yang sangat menentukan.”

Sejak mulai bekerja di Politeknik Pos Indonesia, Hiller langsung menemukan banyaknya kekurangan di bidang itu. Menurut Hiller, mata kuliah atau bidang-bidang seperti pengelolaan pergudangan, manajemen transportasi atau manajemen rantai pengiriman logistik, di dalam realita kerja tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tapi di Politeknik Pos Bandung bidang-bidang tersebut diajarkan secara terpisah. Tidak ada kerjasama baik secara khusus maupun umum untuk proyek dan bidang ini. Oleh sebab itu menjadi tujuan Hiller untuk mengubah struktur akademis pada Politeknik ini:

„Agar bisa berfungsi dengan sukses sebagai lembaga pendidikan, politeknik harus dapat memanfaatkan sinergi antara berbagai departemen dan bagian pada lembaga pendidikan. Jika hal ini tidak terwujud, maka akan terwujud kerugian di bidang kualitas maupun di bidang biaya.“

Berulang kali Markus Hiller mencoba berbicara dengan para dosen dalam berbagai rapat atau seminar tentang tidak ada gunanya pembatasan dalam berbagai bidang studi ini. Namun seringkali pendapat tenaga ahli Jerman ini tidak digubris. Oleh sebab itu ia tidak jemu mengundang para manajer sebagai dosen tamu guna menceritakan pengalaman dan pendapat mereka tentang manajemen logistik yang baik.

„Bila mitra industri mengulang apa yang disampaikan sebelumnya berarti pola baru ini mendapat sambutan.Mereka berkata, bahwa hal itu bukan pendapat seorang ahli Jerman saja, melainkan trend industri. Hal itu memicu peningkatan kualitas.“

Kontak langsung dengan sektor industri dan kerja praktik di dunia kerja untuk jurusan studi logistik adalah hal yang tidak dapat ditawar bagi sebuah kesuksesan. Kontak secara langsung ini tidak hanya penting tapi juga dinilai sebagai pembaruan yang positif oleh para mahasiswa. Demikian disampaikan Wayan Kemarendi, Pembantu Direktur bagi Kemahasiswaan Politeknik Pos Indonesia:

Mereka umumnya sangat menginginkan supaya setelah selasai kuliah langsung bekerja. Namun kendalanya disini adalah biasanya pengalaman. Dan ini atas bantuan dari kerjasama dari Markus Hiller, konsultan dari Jerman kami membuka hubungan industrial melalui magang kerja.”

Tidak lama setelah memulai tugasnya di Bandung Markus Hiller berhasil merangkul kerjasama dengan perusahaan pos dan logistik Jerman Deutsche Post World Net yang lebih dikenal dengan DHL. DHL menyediakan tempat praktikum untuk mahasiswa Politeknik Pos Indonesia yang ingin magang. Dengan demikian dimulai pula suatu kerjasama yang menjanjikan antara DHL dan Politeknik Pos Indonesia:

„Pada tahun pertama, tahun lalu ada 7 mahasiswa yang kerja praktik. Tahun ini ada 12. Dari 12 mahasiswa ini 8 akan mendapat kontrak kerja tetap, ini artinya mereka mendapat pekerjaan pada DHL. Tahun lalu bahkan tujuh-tujuhnya direkrut semua. Ini menunjukkan bahwa tercipta potensi besar bagi mahasiswa pada lembaga pendidikan kami untuk memperoleh kerja berkualitas tinggi pada perusahaan internasional.“

Lewat kerja praktik Politeknik Pos Indonesia dapat meningkatkan kerjasamanya dengan DHL. Setelah itu bisa juga dilakukan program pelatihan bersama yang teratur antara karyawan DHL dengan para mahasiswa di politeknik itu. Tapi apa kata Pos Indonesia sendiri dimana politeknik posnya sendiri demikian erat bekerja sama dengan saingannya. Menurut Hiller telah banyak upaya yang gagal untuk melakukan kerjasama dengan PT. Pos Indonesia.

"Tentunya orang lebih suka melihat bahwa proyek dengan Pos Indonesia juga berjalan. Tapi dengan kenyataan bahwa tidak pernah ada proyek kerjasama yang terjadi, orang dapat menarik kesimpulan bahwa kami harus aktif sendiri. Dan jika DHL bersedia untuk itu, orang juga menerima bahwa DHL mau untuk itu."

Kerjasama yang erat antara perusahaan jasa pos dan logistik Jerman DHL dengan Politeknik Pos Indonesia kini bahkan didukung pendanaan sebesar 130 ribu Euro dari Perhimpunan Pembangunan Jerman DEG. Sebuah organisasi kerjasama bantuan Jerman yang memiliki sasaran mendorong gagasan perusahaan, agar memiliki kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Pakar logistik Jerman Markus Hiller tidak ragu akan berhasilnya kerjasama ini.

Waktu penyimpanan yang terlalu lama di gudang, rantai pengiriman yang tidak efisien dan kurangnya pengarsipan selama ini sudah menyebabkan kerugian trilyunan rupiah bagi Indonesia setiap tahunnya. Tak mengherankan bila biaya logistik di Indonesia jauh lebih mahal dibanding negara lainnya. Hiller menyebutkan contohnya:

“Kita lihat saja misalnya bidang ekonomi pertekstilan. Industri pertekstilan sangat tergantung pada ongkos kerja. Jika Indonesia memiliki biaya sangat tinggi di bidang logistik ini berarti di bidang ongkos kerja harus ditekan jauh lebih rendah dibanding Cina misalnya, jika ingin tetap atraktif sebagai negara tujuan investasi.“

Bagi Wayan Kemarendi, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Politeknik Pos Indonesia, aspek yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah saat ini di pasar internasional perusahaan logistik Indonesia hampir tidak memiliki peluang:

"Sebagian besar operatornya justru dari luar negeri, jadi perusahaan-perusahaan luar negeri, sehingga market untuk perusahan dalam negeri sangat kecil seklai. Nah ini sangat disayangkan. Artinya dalam dunia industri logistik pemain domestik agak sedikit. Ya mudah-mudahan ke depan tahap demi tahap para pemain logistik ini bisa justru dari kita sendiri ya."

Demikian pengalaman Markus Hiller, pakar logistik Jerman yang bekerja di Politeknik Pos Indonesia, dengan sokongan dari Centum für Internationale Migration Jerman dan Perhimpunan Pembangunan Jerman DEG.(ap)