Kerusuhan di Pinggiran Paris
5 November 2005
Pemicu kerusuhan di kawasan bermasalah itu adalah kematian dua remaja yang tewas kena sengat listrik ketika dikejar polisi. Rabu lalu (02/11) Presiden Jacques Chirac menyerukan warga Prancis untuk bersikap bijak dan Perdana Menteri Dominique de Villepin menjanjikan bantuan segera bagi kaum remaja.
Situasi masyarakat Prancis menunjukkan kerawanan yang membahayakan. Hal ini mungkin bukanlah sesuatu yang baru. Pada tahun-tahun belakangan, indikasi jelas dari hal itu acap kali muncul. Krisis saat ini yang berwujudkan semacam perang gerilya antara remaja dan polisi, menyebarkan ketakutan dan kengerian. Penyebab konflik sangatlah beragam, sehingga sebuah kecelakaan yang menewaskan dua remaja telah menimbulkan bentrokan keras yang mirip dengan sebuah perang saudara.
Sebab utama dari krisis ini adalah situasi ekonomi buruk yang mengakibatkan pengangguran. Kinerja ekonomi Prancis tahun lalu memang tercatat lebih tingggi dari Jerman. Tapi kenyataan ini tidak mengurangi pengangguran, terutama yang terdapat di kalangan remaja dan imigran. Seperti kita ketahui bahwa pengangguran dalam jangka waktu lama adalah sumber dari segala keburukan, tengoklah radikalisasi agama, kekerasan, pembentukan gang, tunawisma dan kecanduan narkoba. Masalah ini didapatkan di mana-mana, tidak hanya di rumah susun di pinggiran kota-kota besar Prancis, seperti Paris.
Di Prancis, situasi itu diwarnai dengan menjalarnya rasisme. Hal ini tidak hanya terlihat dalam besarnya suara yang diraih dalam pemilu oleh partai kanan radikal 'Front National' dari Jean-Marie Le Pen. Rasisme dalam kehidupan sehari-hari terlihat dalam perlakuan terhadap imigran yang dianggap sebagai manusia kelas dua. Warga yang berkulit gelap atau yang memiliki nama Arab sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Dan seseorang yang berasal dari yang disebut kawasan rawan di pinggiran Paris, sulit sekali mendapatkan peluang untuk memperbaiki status sosialnya atau mendapatkan kesempatan kerja di kawasan lain.
Dengan demikian, imigran generasi ketiga hanya mengenal satu kenyataan yang sudah berlangsung puluhan tahun lamanya, yaitu kemiskinan, pengangguran dan pengucilan. Dengan pengecualian dari pemerintahan sosial Perdana Menteri Lionel Jospin (1997-2002), politik Prancis tidak ada mengembangkan konsep untuk menanggulangi masalah ini. Kenyataannya, pemerintah bahkan sama sekali tidak pernah mencoba suatu konsep pun.
Dan semua politisi puncak sebaliknya menutup mata dan mengabaikan tuntutan yang semakin marak dari kawasan rawan. Tahun 1995 Chirac terpilih sebagai presiden karena dia berjanji untuk menyelesaikan masalah perbedaan sosial itu. Namun, sejak itu, jurang pemisah malahan melebar.
Sekarang situasi di mana-mana makin merawan. Remaja yang berontak melihat semua orang yang memakai pakaian seragam adalah wakil dari negara yang telah menelantarkan mereka. Dalam situasi seperti itu, Menteri Dalam Negeri Nicolas Sarkozy bereaksi dengan cara populistis yang diperhitungkan. Sarkozy sendiri adalah anak seorang imigran dan berniat menjadi presiden tahun 2007. Dengan pandangan yang difokuskan ke target tersebut, dia menyebut remaja yang berontak itu sebagai 'gerombolan yang harus disapu dengan semprotan pembersih bertenaga tinggi'. Bagi Sarkozy, warga kawasan miskin di sekitar Paris itu tampaknya hanyalah sampah manusia yang harus disingkirkan.
Sikap itu mungkin menyenangkan golongan tertentu di Prancis yang jumlahnya tidak sedikit, namun, masalah kawasan yang terabaikan ini tidak dapat diselesaikan melalui tindak keras dan aksi besar-besaran. Yang diperlukan adalah konsep, respek dari semua pihak dan bukan janji kosong. Hal ini disadari oleh Presiden Chirac yang kini posisi politiknya melemah. Sikap itu sangat perlu untuk menundukkan saingannya Sarkozy. Namun, ini bukanlah untuk mempertahan jabatan kepresidenan, melainkan untuk menyelamatkan Prancis dari cengkraman kubu populistis yang radikal.