1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kerusuhan Juga Hantui Sepak Bola Jerman

10 Maret 2008

Aksi kerusuhan dalam pertandingan sepak bola Jerman kerap membuat pusing para petinggi sepak bola. Di sini kerusuhan sering terjadi bukan pada pertandingan Liga Utama.

Randale bei Fußball in Dresden
'Pendukung' Dynamo Dresden dalam kerusuhan Oktober 2007Foto: picture-alliance/dpa

Di negara bagian Sachsen misalnya, sepak bola seperti agama disana. Persaingan antar klub dijalankan secara serius oleh para pendukung. Hampir di setiap pertandingan, polisi dapat dilihat selalu siap siaga. Pada pertandingan antar klub Lokomotive Leipzig dan Dynamo Dresden beberapa bulan yang lalu misalnya, terjadi aksi kerusuhan yang cukup parah.

Semenjak itu, berbagai usaha mulai digalakkan dengan diperbanyaknya jumlah polisi yang menjaga keamanan, larangan memasuki stadion bagi pendukung yang dikenal suka membuat gara-gara, dan pekerjaan sosial yang dilakukan oleh para suporter.

Pada suatu hari Sabtu siang di stasiun kereta api Dresden. Para suporter Dynamo Dresden dengan syal hitam kuningnya tampak berkumpul di depan pintu masuk sambil menikmati bir asli Sachsen. Mereka menanti kedatangan kereta yang membawa suporter klub lawan mereka hari ini, 1. FC Magdeburg.

"Kita lihat saja dulu apa yang akan terjadi disini. Seperti yang saya bilang, saya sebenarnya tidak suka yang macam-macam. Mending 'damai' saja. Tapi kita lihat dulu lah.."

Penekanan di kata 'damai' bukanlah suatu kebetulan. Beberapa minggu sebelumnya, beberapa orang melempari suporter klub lawan saat itu Lok Leipzig dalam perjalanan menuju stasiun kereta dengan batu. Akibat dari aksi tersebut, 229 orang ditangkap dan 4 polisi cidera. Pada pertandingan hari ini, antsipasi sudah dipersiapkan. Belasan mobil polisi berjejer secara paralel di kedua sisi jalan seakan membuat jalur khusus yang akan dilewati oleh para suporter klub lawan.

Helikopter mengawasi dari atas iring-iringan yang bergerak secara perlahan menuju stadion. 1.350 polisi bertugas hari ini untuk mengamankan penonton di stadion Dresden yang hanya berjumlah 8.500 orang.

"Jumlah polisi yang ada disini memang cukup banyak. Tapi ini diperlukan, mengingat latar belakang pertandingan ini. Jika yang bertanding klub lain, kami tidak akan bertindak seperti ini. Jika Dynamo Dresden yang main dan khususnya lawan bekas klub papan atas di masa Jerman Timur dulu, maka biasanya ada masalah dan kita harus siap dengan jumlah polisi yang banyak." Demikian dijelaskan juru bicara kepolisian, Thomas Herbst.

Persaingan khusus para suporter dari bekas klub papan atas di Jerman Timur ini, tidak lagi ditemukan di liga-liga yang lebih bawah lagi. Ini penjelasan penanggung jawab suporter Dynamo Dresden Matthias Börner.

"Inilah keadaan di Timur. Ini bukanlah hawa persaingan yang muncul karena kita baru bermain bareng semenjak lima atau enam tahun yang lalu seperti klub-klub di Jerman Barat. Mereka sudah saling bertemu semenjak 20 atau 30 tahun. Dresden dan Magdeburg misalnya adalah dua tim hebat di Jerman Timur dan bersaing menduduki klasemen teratas. Para suporternya otomatis juga saling membenci. Ini sayangnya juga masih diterapkan oleh para suporternya sekarang."

Namun, sebagian besar suporter klub yang pernah delapan kali menjadi juara nasional Jerman Timur ini, menganggap persiapan keamanan terlalu berlebihan. Mereka juga keberatan bahwa di media-media Jerman, Dynamo selalu diberitakan dari sisi negatifnya saja.

"Di mana-mana ada kerusuhan. Dan jika ada kerusuhan di salah satu klub bola dan tidak ada gambar liputan maka yang ditunjukkan selalu gambar dari Dynamo. Apa coba maksudnya? Kami lah orang Jerman Timur yang jahat. Ini citra kami." Keluh seorang fan Dynamo.

Jumlah pasti dana yang dikeluarkan untuk pengamanan polisi seperti ini tidak diketahui. Menurut proyek suporter Dresden, ini bisa mencapai jutaan Euro. Karena itu, menurut jaksa agung Dresden Christian Avenarius, polisi dan kejaksaan berupaya keras agar aksi kekerasan ini berakhir.

"Dana yang kami keluarkan untuk polisi dan kejaksaan sangatlah banyak. Hanya karena dua atau tigaratus orang menteror kota ini dan berpendapat mereka bisa berlaku seenaknya. Karena itu penting agar kasus ini cepat selesai dan kita bisa menghukum pelaku seberat mungkin."

Avenarius menambahkan, di balik lingkup suporter klub Dresden yang besar ini, ada jaringan khusus yang melakukan aksi kekerasan.

"Ada banyak sekali orang yang tidak bisa lagi disebut sebagai suporter. Mereka hanya berkumpul jika ada pertandingan olahraga, khususnya sepak bola, untuk melakukan aksi kejahatan. Ini sangat terorganisir. Hubungan mereka kadang lebih erat dibandingkan hubungan kekeluargaan."

Poster-poster dengan wajah 18 orang yang diduga adalah pelaku kerusuhan Oktober 2007, terpampang di seluruh penjuru kota Dresden. 11 orang diantaranya berhasil diidentifikasi. Di dalam stadion sendiri, klub Dynamo Dresden bersikap tegas. 430 suporter dilarang memasuki stadion. Peraturan tentang poster, bendera diperketat. Langkah ini sempat diprotes oleh para suporter. Ancaman serius diterima oleh direktur klub Dynamo Bern Maas. Mungkin ini adalah ungkapan frustasi para fans sepak bola. Bagaimana pun juga, Dresden adalah kota yang gila bola.

Dalam waktu dekat, teknik modern akan terlibat dalam pengawasan para pelaku kerusuhan. Benda yang sekilas terlihat seperti lebah akan berseliweran di wilayah tempat duduk para suporter untuk bisa mendeteksi lebih cepat suporter yang melempar batu ke lapangan atau memulai aksi pukul-memukul. Harga benda yang dikendalikan jarak jauh ini mencapai 300 ribu Euro. Sebanyak ini pula, jumlah dana yang disediakan negara bagian Sachsen bagi proyek sosial suporter klub di Dresden usai terjadi aksi kerusuhan yang terakhir.

Christian Kabs dari proyek fan Dresden berpendapat, memang sudah waktunya untuk itu. Pekerjaan sosial siporter bola sudah terlalu lama diabaikan.

"Kami akan mengejarnya. Kami masih membutuhkan bertahun-tahun hingga apa yang kita usahakan terwujud. Jadi tujuan utama kami adalah mencegah kelompok umur 12 hingga 16 tahun agar tidak terlibat dalam aksi kekerasan. Karena mereka lah suporter masa depan."

Pekerja sosial seberti Kabs mulai memperoleh respek dari para suporter klub. Sebuah komisi baru dibentuk khusus untuk membahas permasalah suporter klub Dynamo Dresden. Komisi ini memberikan kesempatan bagi para pelaku kekerasan yang menyesali perbuatannya, atau mereka yang dihukum secara tidak adil, untuk memperoleh keringanan dalam hukuman. Karena bagi seorang suporter sepak bola sejati, hukuman yang paling berat adalah larangan memasuki stadion untuk melihat klub kesayangan mereka bertanding.