1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kesabaran AS Terhadap Korut Telah Habis

17 April 2017

Wakil Presiden AS, Mike Pence mengunjungi zona demiliterisasi Korea DMZ. Ia memperingatkan Pyongyang bahwa setelah bertahun-tahun Korut mendorong ambisi nuklirnya, era kesabaran strategis AS sudah berakhir.

Südkorea Besuch US Vizepräsident Mike Pence
Foto: Reuters/K. Hong-Ji

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence saat melakukan kunjungan ke Zona Demiliterisasi Korea DMZ, yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan mengatakan kepada wartawan, bahwa Presiden Donald Trump berharap Cina akan menggunakan "metode-metode yang luar biasa" untuk menekan Korea Utara agar meninggalkan program persenjataannya. Pernytaan ini dilontarkan sehari setelah Korut meluncurkan rudal yang berakhir dengan kegagalan..

Kunjungan ke garis demarkasi di Panmunjom di Korea Selatan itu menjadi bagian dari perjalanan 10 hari Pence ke Asia. Di perbatasan yang ditandai dengan kawat duri itu, Wakil Presiden AS yang mengenakan jaket bomber tampak mendapat pengarahan dari pasukan AS yang ditempatlan di Korsel. Di sebalik kawat perbatasan, dua tentara Korea Utara dapat melihatnya dari jarak dekat.

Pence: AS habis kesabaran

Wapres AS itu melontarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa AS tidak sabar lagi terhadap keengganan rezim Kim Jong Un untuk bergerak melakukan pembersihan senjata nuklir dan rudal balistik, sesuai tekanan PBB.

Merujuk pada politik luar negeri masa seperempat abad lalu, sejak Amerika Serikat berupaya menghadapi Korea Utara yang berambisi membangun senjata nuklir dengan beragam cara diplomatis, Mike Pence menyebutkan: "Era kesabaran strategis sudah usai."

Wapres AS itu menambahkan: "Presiden Trump telah menjelaskan bahwa kesabaran dari AS dan sekutu kita di wilayah ini telah habis dan kita ingin melihat perubahan. Kami ingin melihat Korea Utara meninggalkan jalannya yang ceroboh lewat pengembangan senjata nuklir. Penggunaan dan pengujian rudal balistik secara terus-menerus, tidak bisa diterima."

Komitmen AS kukuh

Hari  Senin (17/04) dalam sebuah pernyataan bersama dengan presiden sementara Korea Selatan Hwang Kyo-ahn, Pence mengatakan: "Komitmen Amerika Serikat terhadap sekutunya adalah "tak terpatahkan dan tidak berubah."

Merujuk pada sengketa Korea Utara, Pence mengulangi lagi, bahwa "semua pilihan ada di atas meja perundingan, guna mencapai tujuan dan menjamin stabilitas masyarakat negeri ini. Setiap penggunaan senjata nuklir yang dilakukan oleh Pyongyang akan ditanggapi dengan "respon yang luar biasa dan efektif. "

Wakil presiden AS sebelumnya mengunjungi kamp militer Bonifas di dekat  DMZ. Di sana ia bertukar pikiran dengan para pemimpin militer. Dia juga bertemu dengan tentara Amerika yang ditempatkan di kamp militer gabungan AS-Korea Selatan, yang terletak 4,02 kilometer dari DMZ.

Di bawah curah hujan, Pence kemudian berdiri beberapa meter dari garis demarkasi militer ia melihat aktivitas tentara Korea Utara di sisi lain perbatasan.

Di Tokyo, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, mengatakan: "Tak perlu dikatakan lagi, usaha diplomatik memang penting untuk menjaga perdamaian. Tapi dialog demi dialog saja tanpa hasil, tidak ada artinya." Ditambahkannya: "Kita perlu memberi tekanan pada Korea Utara agar mereka serius menanggapi dialog dengan masyarakat internasional." Ia pun mendesak Cina dan Rusia untuk memainkan peran yang lebih konstruktif dalam masalah ini.

Kunjungan Pence berlangsung di tengah ketegangan antara AS dan Korea Utara. Pence menyebut uji rudal balistik Korea Utara yang gagal sebagai "provokasi". Uji coba rudal tersebut dilakukan setelah digelarnya parade dalam rangka merayakan ulang tahun ke 105 mendiang presiden Korea Selatan Kim Il Sung.

Selain ke Korea utara, Pence dijadwalkan menyambangi Jepang, Indonesia dan Australia. Salah satu tujuan perjalanannya ini adalah untuk meyakinkan sekutu AS di Korea Selatan dan Jepang bahwa AS akan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melawan agresi Korea Utara.

ap/as(rtr/afp/ap)