1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kesepakatan Koalisi Jerman

14 November 2005

Hari Senin (14/11) Ketua Partai Uni Kristen Demokrat (CDU) Angela Merkel dan pemimpin Partai Sosial Demokrat SPD Franz Müntefering memperkenalkan rancangan kesepakatan koalisi kepada partai masing-masing.

Kongres CDU di Berlin hari ini (14/11) menyetujui kesepakatan koalisi
Kongres CDU di Berlin hari ini (14/11) menyetujui kesepakatan koalisiFoto: AP

Di hadapan kongres partai CDU di Berlin, Merkel mengatakan, koalisi dengan partai SPD adalah satu-satunya perspektif masa depan Jerman yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara dalam kongres partai SPD di Karlsruhe, Müntefering menekankan, perjanjian koalisi masih banyak mengandung unsur program sosial demokrat. Kesepakatan koalisi besar yang akan mendasari program pemerintah Jerman selama empat tahun mendatang, menjadi sorotan berbagai media cetak internasional.

Harian Ekonomi Perancis Les Echos mengomentari perspektif masa depan koalisi besar Jerman:

“Partai CDU mengharapkan keberhasilan koalisi besar, walau koalisi itu kurang menjanjikan. Bila tahun depan perekonomian Jerman belum pulih juga, maka seluruh Eropa akan merasakan dampaknya. Karena itu, Komisi Eropa memberi tenggat waktu beberapa bulan agar Jerman dapat menghela nafas sejenak, sebelum memberlakukan sanksi karena Jerman melanggar batas defisit negara. Perhatian Perancis pun terbagi antara Berlin dan Frankfurt. Karena sudah barang tentu, pemangkasan anggaran rumah tangga Jerman akan diiringi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa.“

Harian Inggris berhaluan liberal kiri The Independent mengagumi licinnya permainan politik Merkel:

“Bakal Kanselir Jerman Angela Merkel sangat pintar saat membagi-bagi beban tanggung jawab. Posisinya mirip Presiden Clinton dalam masa jabatan pertamanya. Saat itu, Clinton mengambil risiko politik dengan menaikkan pajak sambil berharap ekonomi negaranya akan pulih. Dibanding Clinton, Merkel masih lebih untung, karena ia memimpin sebuah koalisi.

Partai SPD sekarang harus ikut mempertanggungjawabkan kebijakan Merkel. Kalau partai SPD keluar dari pemerintahan dan menuntut diadakannya pemilu baru, mereka tetap harus menanggung amarah rakyat karena program kenaikan pajak. Bila mereka bertahan duduk dalam pemerintahan Jerman dan ternyata ekonomi Jerman membaik, maka Kanselir Merkel yang akan menuai pujian atas keberhasilan tersebut.“

Harian Austria Kleine Zeitung mengomentari peluang keberhasilan koalisi besar Jerman:

“Koalisi besar tidak disukai karena alasan-alasan demokratis dan politis. Karena itu Partai CDU dan SPD selama bertahun-tahun menempati kubu yang bertentangan. Dalam kampanye pemilu pun mereka selalu saling menjatuhkan. Dalam perundingan koalisi akhirnya tampak, bahwa slogan politik kedua partai, bila diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari, sama intinya. Mitra koalisi masih dapat menikmati bulan madu selama dua minggu. Tapi, dengan diresmikannya pemerintahan baru, koalisi partai itu harus mengejar keberhasilan. Walau mereka dari awal harus bekerja dengan program yang sangat tidak populer.“

Sementara Harian Inggris Financial Times berkomentar, untuk meraih kedudukan kanselir, Merkel harus membayar mahal:

“Kesepakatan koalisi besar antara Partai Uni Kristen dan Partai Sosial Demokrat Jerman mencanangkan kenaikan pajak pendapatan dan pajak pertambahan nilai. Program bersama tersebut hampir tidak berisi rencana reformasi di bidang ekonomi. Untuk perekonomian yang mengalami kemandegan selama lima tahun, kebijakan ekonomi seperti ini sulit dimengerti. Tiga bulan yang lalu, Angela Merkel pasti menolak untuk memerintah dengan situasi ekonomi seperti itu. Dalam kampanye pemilu, Merkel masih menuntut reformasi lapangan kerja dan penurunan pajak.

Setelah ia tidak berhasil meraih mayoritas dalam pemilu September lalu, kini, Merkel bersedia untuk berkoalisi dengan kubu lawan yaitu SPD. Kesepakatan koalisi Merkel dengan SPD bagai perjanjian dengan setan. Merkel menggadaikan prinsipnya, untuk meraih kedudukan kanselir.“