1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketegangan antara Rusia dan AS

10 Mei 2005

Perayaaan 60 tahun berakhirnya Perang Dunia II, dengan parade militer besar-besaran di Lapangan Merah di Moskow, telah berakhir.

Parade militer di Moskow
Parade militer di MoskowFoto: AP

Perayaan itu dibayangi perselisihan dengan negara-negara Baltik, Estonia, Latvia dan Lituania, yang mengecam Putin karena tidak mau mengakui kelaliman Uni Sovyet terhadap negara-negara di Eropa Timur. Kini hubungan antara Rusia dan AS juga tegang. Karena AS menilai Rusia tidak menerapkan demokratisasi. Antara lain Rusia tidak menghormati HAM. Hubungan Rusia-AS disoroti koran-koran di Eropa.

Harian Jerman Handelsblatt mengomentari hubungan Rusia-Amerika sbb:

Washington , sebagai satu-satunya negara adi daya di dunia , memandang Moskow sebagai mitra-yunior. Yang diharapkan oleh Rusia yang baru , setelah tahun 1991, yaitu menjadi mitra sederajat di panggung politik dunia , tidak akan terwujud dalam waktu dekat ini. Bush bertindak imperial dan bersikap hegemoni. Meski sikap itu tidak menunjukkan kepekaan, namun paling tidak , sikap itu jujur.

Suratkabar Italia Corriere della Sera melihat ketegangan antara AS dan Rusia sebagai tantangan baru bagi Presiden Bush:

Setelah kata-kata muluk antara George dan Wladimir di Moskow mengenai hubungan politik dan pribadi yang erat, kini para pemimpin politik Rusia dan Amerika kembali lagi ke sengketa lamanya mengenai dosa-dosa Stalinisme dan mengenai kewajiban moral untuk melawan tirani. Presiden Bush mengakhiri lawatannya ke Eropa di Georgia, negara yang pada saat kelahirannya terlibat dalam diktatur yang paling kejam dalam sejarah. Seperti sebelumnya di Riga, ibukota Latvia Bush dalam pidatonya mengimbau agar mengekspor kemerdekaan dan kebebasan. Imbauan yang tidak menyenangkan bagi Putin.

Harian Jerman Leipziger Volkszeitung mengkhawatirkan pemujaan Rusia terhadap pendudukan Soviet di negara-negara Eropa Timur:

Bahwa untuk menghormati para veteran perang , negarawan dari seluruh dunia memberikan aplaus dari tribune kehormatan, akan tercatat sebagai sinyal yang mulia di buku sejarah, apa lagi partisipasi seorang kanselir Jerman untuk pertama kalinya mengisyaratkan terwujudnya perujukan pada tingkat paling tinggi. Jerman, bekas musuh, kini diterima sebagai sahabat oleh Rusia. Namun di antara sahabat sejati hal-hal yang tidak menyenangkan juga harus dibicarakan. Misalnya, mengenai peranan Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin di Eropa pasca-perang. Schröder tidak menyinggungnya dengan sepatah kata pun. Suatu peluang yang dilewatkan.

Kekejaman Uni Soviet di bawah Stalin juga disoroti oleh suratkabar Norwegia Aftenposten:

Tidak dapat dipungkiri, Uni soviet memikul beban paling berat dalam perang melawan Hitler-Jerman. Sekitar 27 juta warga Rusia tewas dalam perang patriotisme terbesar. Nyaris tidak ada keluarga di Rusia , dan di 14 repulbik Soviet lainnya, yang sementara ini menjadi negara merdeka, yang tidak secara langsung terlibat dalam perang. Oleh sebab itu, kelihatannya munafik bagi banyak orang, bila kini diktator besar Uni Soviet Josef Stalin juga dipuji sebagai tokoh militer besar. Yang benar adalah , kesalahan militer dan penindasannya terhadap warga Soviet dan warga di negara-negara satelitnya , dan Pakta Hitler-Stalin , yang mengakibatkan jatuhnya korban dalam jumlah besar. Citra Stalin yang dipoles lagi tidak memantulkan cahaya, tetapi bayangan gelap terhadap kemenangan atas Nazi.

Harian Spanyol ABC memandang perayaan 60 tahun berakhirnya PD II , sebagai kesempatan untuk meminta maaf. Harian ini menulis:

Jerman meminta maaf untuk holocaust, pembunuhan massal terhadap bangsa Yahudi. Jepang meminta maaf untuk kekejamannya di China. Rusia seharusnya juga meminta maaf , bahwa Uni Soviet memberikan dukungan kepada rejim Nazi untuk Blitzkrieg-nya ke Eropa Barat. Dan dengan demikian ikut membuat kesalahan.