1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketidakseimbangan Iklim Bumi Mencapai Rekor Terburuk

Jennifer Collins
24 Maret 2026

Lautan dunia mencatat rekor suhu selama sembilan tahun berturut-turut, gletser menyusut dan cuaca ekstrem menewaskan ribuan orang. Guna mencegah dampak terburuk, dunia harus segera meninggalkan bahan bakar fosil.

Warga Black River yang terdampak Badai Melissa mencari makanan di jalanan Black River setelah badai tersebut menerjang, di Santa Cruz, St. Elizabeth, Jamaika pada 29 Oktober 2025
Badai Melissa adalah salah satu badai terkuat yang pernah melanda Karibia dan kemungkinan terjadinya enam kali lebih besar akibat perubahan iklim, karena pemanasan planet memperkuat badaiFoto: RICARDO MAKYN/AFP/Getty Images

Setiap orang yang hidup saat ini tumbuh di dunia dengan cuaca ekstrem yang semakin parah. Tahun lalu, banjir besar sekali dalam 50 tahun melanda Texas, gletser di Islandia mencair dengan kecepatan rekor, badai topan menghantam Jamaika dengan kekuatan hampir belum pernah terjadi sebelumnya, dan dunia mengalami gelombang panas ekstrem. Jendela untuk mengubah arah semakin menyempit. Demikian peringatan para ilmuwan.

Laporan yang dirilis pada hari Senin (23/03 oleh Organisasi Meteorologi Dunia/WMO) menegaskan bahwa iklim Bumi berada dalam ketidakseimbangan yang lebih parah daripada kapan pun dalam sejarah pengamatan dan dampaknya dapat terasa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun.

Gletser yang mencair di Islandia, yang mengalami penyusutan luar biasa pada tahun 2025Foto: Michael Piepgras/CHROMORANGE/picture alliance

Temuan utama dalam laporan tahunan WMO State of the Global Climate 2025 meliputi:

  • Periode 2015–2025 menjadi dekade terpanas dalam sejarah pencatatan
  • Lautan mencapai suhu tertinggi yang belum pernah terjadi selama sembilan tahun berturut-turut
  • Gletser dan es laut terus menyusut
  • Cuaca ekstrem, risiko kesehatan berantai, dan biaya kemanusiaan yang terus meningkat
  • Ketidakseimbangan energi Bumi mencapai rekor tertinggi, artinya lebih banyak energi matahari masuk ke sistem Bumi daripada yang keluar
  • Rata-rata kenaikan permukaan laut global sejak 2012 lebih cepat dibanding dua dekade sebelumnya

"Setiap indikator iklim utama sedang menyala merah," tandas Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. "Umat manusia baru saja mengalami 11 tahun terpanas yang pernah tercatat. Jika sejarah berulang 11 kali, itu bukan lagi kebetulan. Itu adalah panggilan untuk bertindak."

Para buruh upah di lokasi konstruksi di ibu kota Pakistan, Islamabad, bekerja di tempat terbuka, meskipun suhu melonjak melewati 45 derajat CelsiusFoto: Ali Kaifee/DW

Kenaikan suhu, cuaca ekstrem, dan ketidakstabilan global

Tahun lalu tercatat sebagai salah satu tahun terpanas kedua atau ketiga dalam sejarah, sekitar 1,43°C di atas tingkat pra-industri, sedikit di bawah rekor 2024 sebesar 1,55°C. Penurunan ini dipengaruhi fenomena La Niña yang memberikan efek pendinginan sementara.

Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara sepakat membatasi pemanasan di bawah 2°C, dan idealnya 1,5°C, untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim.

Pendorong utama kenaikan suhu adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, terutama akibat pembakaran minyak, batu bara, dan gas.

Karbon dioksida (CO₂) mencapai tingkat tertinggi dalam setidaknya 2 juta tahun pada 2024, dan terus meningkat pada 2025, menurut laporan tersebut.

Temuan ini membawa urgensi besar untuk tahun-tahun mendatang. Pola El Niño yang menghangatkan iklim diperkirakan dapat kembali tahun ini, yang berpotensi memicu lonjakan suhu dan cuaca ekstrem yang lebih parah.

Tahun 2025, gelombang panas, kebakaran hutan, banjir, kekeringan, dan siklon tropis menyebabkan ribuan kematian serta kerugian ekonomi miliaran dolar. Kebakaran di California pada Januari 2025 saja menimbulkan kerugian lebih dari 60 miliar dolar AS dan menjadi bencana termahal yang pernah tercatat.

Laporan ini juga menyoroti dampak kesehatan yang semakin serius, termasuk demam dengue, penyakit yang kini menjadi penyakit menular melalui nyamuk dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Sementara itu, 1,2 miliar pekerja, lebih dari sepertiga tenaga kerja global, terpapar panas berbahaya setiap tahun.

Pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas melepaskan gas rumah kaca yang memerangkap panas, yang menghangatkan Bumi dan mengubah keseimbangan energinyaFoto: Gerald Herbert/AP Photo/picture alliance

Perubahan iklim juga mendorong kelaparan, migrasi, dan krisis air, meningkatkan persaingan atas sumber daya yang makin menipis. Dalam satu dekade terakhir, bencana terkait cuaca telah memaksa 250 juta orang meninggalkan rumah mereka.

PBB menegaskan adanya kaitan langsung antara krisis iklim dan ketidakstabilan global. Pada saat yang sama, perang dan militer juga menjadi penyumbang signifikan emisi pemanasan temperatur Bumi.

"Ketergantungan kita pada bahan bakar fosil sedang mengguncang stabilitas iklim sekaligus keamanan global," kata António Guterres.

Ia menambahkan bahwa negara-negara harus segera melakukan dekarbonisasi dan mempercepat transisi ke energi terbarukan. "Energi terbarukan memberikan keamanan iklim, keamanan energi, dan keamanan nasional," ujarnya.

Apa arti ketidakseimbangan energi Bumi

Untuk pertama kalinya menjadi indikator dalam laporan WMO, ketidakseimbangan energi Bumi, perbedaan antara energi matahari yang masuk dan panas yang keluar kembali ke luar angkasa, mencapai rekor tertinggi pada 2025.

Dalam iklim yang stabil, energi masuk dan keluar seimbang. Namun saat ini, lebih banyak energi masuk daripada yang keluar karena gas rumah kaca bertindak seperti selimut yang menjebak panas di atmosfer dan sistem Bumi.

Sekitar 91% panas diserap lautan, 5% oleh daratan, 3% oleh es, dan 1% menghangatkan atmosfer. "Aktivitas manusia semakin mengganggu keseimbangan alami, dan kita akan hidup dengan konsekuensinya selama ratusan hingga ribuan tahun," ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.

Pancic Spruce Terancam Akibat Perubahan Iklim

03:57

This browser does not support the video element.

Pemanasan yang dipercepat: Dampaknya pada lautan

Lautan adalah penyerap utama panas Bumi dan melindungi kehidupan dari dampak terburuk perubahan iklim. Namun pada 2025, suhu laut kembali mencetak rekor untuk tahun kesembilan berturut-turut, dengan 90% permukaan laut mengalami gelombang panas laut setidaknya sekali, meski ada efek pendinginan La Niña.

Para penulis laporan menyatakan tidak ada tanda bahwa kemampuan lautan menyerap panas melemah, tetapi pemanasan terus meningkat di semua lapisan laut, termasuk laut dalam. Perubahan suhu laut kini bersifat tidak dapat dibalik dalam skala waktu berabad-abad hingga ribuan tahun.

Dampaknya terhadap manusia sangat besar. Sekitar tiga miliar orang bergantung pada laut sebagai sumber protein, tetapi kenaikan suhu memutihkan terumbu karang, mengurangi populasi ikan, dan melemahkan kemampuan laut menyerap karbon. Laut yang lebih hangat juga memperkuat badai dan mempercepat pencairan es di kutub, yang berkontribusi pada kenaikan permukaan laut.

Es laut di Arktik dan Antarktika berada pada tingkat terendah dalam sejarah, sementara kehilangan massa gletser termasuk lima terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1979. Gletser sangat penting karena memasok air bagi dua miliar orang.

Laporan WMO tidak memberikan rekomendasi kebijakan, tetapi menyatakan bahwa temuan ini harus membantu pemerintah dan organisasi dalam mempersiapkan serta beradaptasi terhadap cuaca ekstrem yang semakin intens.

"Ketika kita mengamati hari ini, kita tidak hanya memprediksi cuaca, kita melindungi hari esok. Manusia di hari esok. Planet di hari esok," pungkas Celeste Saulo.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Kentang Pahit Bahan Pangan Tahan Cuaca Ekstrem

03:22

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait