Saat Negara Middle Powers Ikut Menentukan Arah Tatanan Dunia
16 April 2026
"Kita sedang menyaksikan momen kekuatan menengah saat ini. Dunia sedang bergeser, bertransformasi, dan kita tidak tahu bagaimana transformasi ini akan berakhir," ujar Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).
Menurut Dino, ada tren dalam hubungan internasional di mana sekelompok negara, beberapa di antaranya adalah negara-negara yang berpengaruh, memainkan peran secara signifikan dalam membentuk arah hubungan internasional.
"Dan kami menyebut kekuatan-kekuatan ini sebagai middle powers (kekuatan menengah)," ungkapnya saat berbicara dalam forum diskusi internasional Middle Power Conference di Jakarta, Selasa (14/04).
Istilah middle powers tidak sekadar soal ukuran negara. Ada beberapa indikator utama, yaitu jumlah penduduk atau luas wilayah, kekuatan ekonomi, kapasitas militer dan teknologi, ambisi politik luar negeri, serta "apakah mereka memiliki kebijakan luar negeri atau ambisi diplomatik tertentu yang membuat mereka mampu melampaui kemampuan mereka."
"Yang kita ketahui adalah bahwa sekelompok kekuatan menengah dari utara dan selatan, sekitar 20 negara, akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan tatanan dunia berikutnya. Kita melihat hal itu, misalnya, dalam perang yang kita hadapi saat ini. Anda lihat perang Amerika Serikat (AS) dan Iran," katanya.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI ini menyebut bahwa perang Iran dan AS merupakan perang antara negara adidaya dengan negara kekuatan menengah.
"Dan AS tidak memenangkan perang tersebut. Bahkan, menurut banyak laporan, Iran tampaknya memiliki keunggulan," ujarnya.
Momentum negara-negara kekuatan menengah
Dino menyoroti peran Pakistan sebagai negara middle power yang menjadi mediator antara Iran dan AS.
"Jadi kita melihat bagaimana dinamika perang dan perdamaian serta arah tatanan dunia. Kita melihat banyak aksi dan pengaruh dari negara-negara yang dikenal sebagai kekuatan menengah," ujar Dino mengamini adanya middle powers yang semakin berpengaruh dalam menentukan arah perang, perdamaian, dan stabilitas global, bukan lagi semata-mata ditentukan oleh negara adidaya.
Hal senada diungkapkan oleh Nasim Zehra, pakar kebijakan, penulis, dan jurnalis asal Pakistan yang menekuni bidang diplomasi global dan urusan strategis. Ia menyebutkan bahwa sejak 2025 Pakistan berusaha membangun komunikasi dengan Washington. Meski membuka jalur diplomasi, Pakistan tetap mempertahankan sikapnya.
"Pakistan tidak berkompromi, tidak meninggalkan posisi sistemiknya, baik itu terkait isu Palestina, atau mendukung Iran dan membela kedaulatan Iran, serta mengutuk serangan tersebut," ujar Nasim masih dalam forum Middle Power Conference.
Ia berpendapat bahwa "kekuatan menengah memainkan peran, tetapi kekuatan global utama, pemimpin negara-negara Selatan, sebenarnya mendukung inisiatif ini dan secara proaktif memimpin hingga ke arah peran kemitraan--di mana terdapat poin penting yang muncul, yaitu kedaulatan setiap negara, bekerja sesuai dengan Piagam PBB, dan deeskalasi segera."
Sementara itu, Duta Besar Jerman untuk RI, Ralf Beste, menegaskan bahwa Jerman tetap ingin menjaga kemitraan dengan Amerika Serikat.
"Kami ingin mempertahankan kemitraan karena itu adalah kepentingan bersama. Demi kepentingan ini, kami harus mengisi celah-celah yang terbuka, harus meningkatkan upaya, harus berinvestasi lebih banyak dalam hal keamanan sebagai dasar kemakmuran, karena kami tidak dapat bergantung pada bantuan Amerika--bantuan tanpa syarat, bantuan persahabatan, sebanyak yang kami lakukan sebelumnya," ujar Beste dalam forum yang sama.
Beste mengakui bahwa di kondisi tertentu, Eropa harus siap bertindak sendiri. Namun, ia menegaskan bahwa Jerman tidak bisa meniru pendekatan negara-negara middle powers seperti India atau Indonesia.
"Kami harus melakukannya sendiri, kami tidak melakukannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan India atau Indonesia, secara bebas dan aktif," tambah Beste.
Peran middle powers dalam membentuk tatanan dunia
Indikator lain dari meningkatnya pengaruh middle powers terlihat dari sisi ekonomi dan pertahanan. Dino menyampaikan bahwa negara-negara yang tergabung dalam BRICS kini memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) yang melampaui kelompok negara G7. Sementara itu, anggaran militer negara-negara seperti Korea Selatan, Arab Saudi, dan India juga melampaui beberapa negara Eropa.
"Jadi dengan semua ini, asumsinya adalah bahwa kekuatan menengah, 20 kekuatan menengah di utara dan selatan akan memainkan peran penting dalam membentuk tatanan dunia berikutnya," ujar Dino.
Meski begitu, peran middle powers ke depan masih menimbulkan sejumlah pertanyaan.
"Apakah mereka dapat bersatu atau tidak? Apakah mereka dapat menyelesaikan konflik, atau apakah mereka dapat memainkan peran kepemimpinan, memperbaiki sistem multilateral, dan seterusnya."
"Kita (Indonesia) jelas sekarang adalah kekuatan menengah"
FPCI melihat semakin banyak hubungan bilateral yang diperkuat selama dua tahun terakhir, contohnya antara Indonesia dengan negara-negara seperti Australia, Prancis, India, Korea Selatan, dan Turki.
"Lihat, kita (Indonesia) jelas sekarang adalah kekuatan menengah, dan sangat penting bagi kita untuk mengembangkan strategi kekuatan menengah. Ketahui apa ambisi kita, ketahui apa aset kita, ketahui posisi kita dalam tatanan dunia yang berkembang," kata Dino.
Indonesia dinilai perlu menentukan dengan negara-negara middle powers mana harus menjalin hubungan yang lebih erat, dan membangun koalisi strategis yang berkelanjutan.
"Kami yakin (itu) merupakan strategi yang sempurna untuk kebijakan luar negeri Indonesia yang independen dan aktif," tambahnya.
Editor: Yuniman Farid