1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketika Tubuh Bertukar Medali

Rizki Nugraha6 Agustus 2013

Keintiman dunia medis dan olahraga sering berujung pahit. Kasus doping di Jerman yang baru terungkap adalah contoh ketika ambisi menganulir akal sehat dan menempatkan olahragawan dalam risiko yang besar. Berikut kisahnya

Foto: picture-alliance/dpa

Kematian adalah peringatan terakhir dan "sebab itu tidak salah untuk mengingatnya," kata Helmut Digel, bekas Wakil Presiden Federasi Athletik Ringan Internasional beberapa waktu lalu. Birgit Dressel bisa jadi salah seorang korban terakhir penyalahgunaan doping secara sistematis dan legal di Jerman Barat sejak dekade 60-an. Kematiannya 26 tahun silam menohok kesadaran umum masyarakat saat itu, bahwa ambisi bisa menghalalkan segala cara.

Hasil penelitian yang akhirnya dipublikasikan oleh Universitas Humboldt mengenai masa lalu doping di Jerman Barat memastikan laporan-laporan media sebelumnya. Selama Olimpiade 1976, mingguan Der Spiegel pernah menurunkan laporan mendalam terkait suntikan "Kolbe", dibaptis dengan nama atlet dayung Jerman yang ironisnya mengalami komplikasi akibat suntikan tersebut. "Suntikan itu membuat saya tumbang," kata Michael Kolbe usai turnamen di Montreal.

Komentar Kolbe juga mengungkap, betapa seorang olahragawan atau dokter dapat sedemikian terbuka berbicara soal doping di depan publik umum. Substansi yang digunakan memang kebanyakan tidak dilarang. Jika muncul keberatan paling cuma terkait moral olahraga yang terusik.

400 Suntikan Menjelang Ajal

Suntikan "Kolbe" yang berupa campuran karboksilase dan asam Thioctin masuk dalam daftar hijau. Dr. Alois Mader yang menangani Michael Kolbe membenarkan tindakannya. Ia berdalih, menurut simulasi komputer, tanpa suntikan tersebut, Kolbe niscaya akan bertekuk lutut sebelum mencapai garis finish.

Athlet Heptathlon Jerman, Birgit Dressel (1960-1987)Foto: Bongarts/Getty Images

Kasus Birgit Dressel lebih mengerikan lagi. Di sepanjang karirnya yang singkat, atlet Heptathlon itu mendapat 400 berbagai jenis suntikan. Setelah kematiannya polisi menemukan 40 jenis obat-obatan di rumahnya.

Kebanyakan substansi yang digunakan olahragawan saat itu adalah Vitamin B1, B12 dan C, terkadang juga obat-obatan yang mengandung Magnesium. Namun dalam kasus Dressel, kepolisian juga menemukan obat-obatan untuk penyakit langka seperti Sindrom Morbus Fahr (kelebihan kalsium di otak), infeksi usus besar, jantung, atau kecanduan air minum. Nama-nama yang digunakan pun ajaib, mulai dari "Pascovenol" atau Frubiase, "Oxypangam" dan "Dreisafer".

"Dokter tidak berusaha menolong putri saya, mereka menyiksanya," ratap Lisa Dressel, sang ibu. Lisa Dressel, mantan atlet basket itu sempat mewanti-wanti putrinya, tapi ia cuma mendapat jawaban datar, "saya membutuhkannya mama, semua orang memakainya," kata Birgit setahun sebelum ajal menjemput. Dokter Armin Klümper yang menanganinya terbiasa meracik 15 obat-obatan dan menyuntikan ke tubuh Dressel.

Obat penunjang kesegaran, Pervitin, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Metamfetamina atau sabu-sabu


Ambisi Pembuktian Lewat Olahraga

Birgit Dressel meninggal akibat disfungsi berbagai organ menyusul keracunan yang diduga disebabkan oleh doping. Dua lusin dokter, professor dan tenaga ahli dari enam bidang medis gagal menyelamatkan nyawa sang atlet.

Laporan otopsi tim dokter memastikan dugaan tersebut, Birgit Dressel bukan lagi "atlet yang sehat," seperti yang sering diklaim dokternya, Armin Klümper, melainkan perempuan muda yang rapuh, ditopang dengan ratusan jenis obat-obatan. Olahraga membuatnya cacat, merusak persendian dan mempercepat kerusakan organ-organ tubuhnya.

Kasus Birgit Dressel atau Ralf Reichenbach yang 1998 lalu mengalami gagal jantung - juga diduga akibat doping - menjadi kontemplasi bagi masyarakat yang haus prestasi. Jerman usai Perang Dunia II membutuhkan ruang untuk pembuktian dan memuaskan ambisi. Olahraga adalah jalan keluar yang dipilih. Hasil studi Humboldt juga mengkonfirmasikan, penelitian doping yang dimulai sejak zaman Nazi terus dilanjutkan pasca PD II.

Hantu Doping di Sepakbola Jerman

Dalam hasil studinya, pengamat olahraga, Erik Eggers meyakini kemenangan tim nasional sepakbola pada Piala Dunia 1954 di Swiss, yang dikenal dengan "Wunder von Bern" (Keajaiban dari Bern), adalah tidak lain berkat substansi bernama Pervitin yang kini dikembangkan lebih jauh dan dikenal dengan nama Chrystal Meth, Metamfetamina atau sabu-sabu.

Tim nasional Jerman di Piala Dunia Swiss,1954Foto: picture-alliance/dpa

Laporan harian Sueddeutsche yang mengutip studi Humboldt juga menyebut secara eksplisit, tahun 1961 pelatih Borussia Dortmund, Max Merkel memerintahkan para pemainnya untuk menggunakan Pervitin. Kecurigaan terkait doping juga mengiringi tim nasional Jerman pada Piala Dunia 1966 di Inggris.

Berbagai sumber menyebutkan, penggunaan doping di Jerman adalah hal lazim sejak 1940. Bahkan kiper legendaris Tony Schumacher, pernah menggambarkan beberapa adegan, ketika ia dan rekan-rekan setimnya bersentuhan dengan "pil-pil pemicu performa." Harian Frankfurter Allgemeine mengutip, "di Bundesliga doping sejak lama memiliki tradisi," tulis Schumacher 1987. Tidak lama setelah publikasinya, sang kiper kehilangan posisinya di klub 1. FC Köln dan di tim nasional. Baik klub maupun Federasi Sepakbola (DFB) menudingnya melakukan kebohongan publik.

Sumber: spiegel, faz, sueddeutsche, dpa, sid, afpd